Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas Segera Jalan, Ini Skemanya!

Ficky Ramadhan
26/2/2026 13:37
Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas Segera Jalan, Ini Skemanya!
Kemensos bersama Badan Gizi Nasional (BGN) mematangkan skema pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas.(Dok. Antara)

KEMENTERIAN Sosial (Kemensos) bersama Badan Gizi Nasional (BGN) mematangkan skema pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas. Penyelarasan konsep hingga pembagian peran antarinstansi dibahas langsung oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan Kepala BGN Dadan Hindayana di Kantor BGN, Jakarta, Rabu (25/2).

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan, koordinasi kali ini difokuskan pada penguatan desain program agar implementasinya efektif dan tepat sasaran.

“Alhamdulillah hari ini kami mematangkan makan bergizi gratis khusus untuk lansia dan penyandang disabilitas. Konsepnya semakin jelas dan bentuk kerja samanya sudah lebih konkret,” ujar Gus Ipul.

Program MBG untuk lansia dan disabilitas merupakan pengembangan dari program Permakanan yang selama ini dijalankan Kemensos. Sebelumnya, bantuan makanan siap santap disalurkan melalui pendamping sosial dan kelompok masyarakat (Pokmas).

Melalui integrasi ke dalam skema MBG nasional, jangkauan penerima manfaat ditargetkan semakin luas dengan standar gizi yang lebih terukur dan seragam.

Dalam skema baru tersebut, penyediaan makanan akan memanfaatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) milik BGN yang telah tersebar di berbagai daerah. Sementara distribusi kepada penerima manfaat tetap dilakukan melalui jejaring layanan sosial Kemensos.

“Nanti yang menyiapkan tetap dari SPPG, sedangkan pengantaran dilakukan oleh Pokmas atau caregiver,” jelas Gus Ipul.

Sasaran program ini adalah lansia dan penyandang disabilitas yang terdaftar dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), khususnya kelompok desil 1 hingga 5. Prioritas diberikan kepada lansia rentan dan penyandang disabilitas berat yang mengalami keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Kepala BGN Dadan Hindayana menilai kolaborasi ini akan memperkuat efektivitas layanan karena jaringan SPPG telah hadir di berbagai wilayah dengan jarak yang relatif dekat dari masyarakat.

“Dengan SPPG yang rata-rata berada dalam radius sekitar 4 kilometer, tugas pelayanan akan jauh lebih mudah. Penyediaan dari kami, distribusi oleh Kemensos. Ini sinergi yang mengoptimalkan fasilitas yang sudah ada,” kata Dadan.

Integrasi ini diharapkan tidak hanya memperluas cakupan, tetapi juga memastikan intervensi gizi bagi kelompok rentan dilakukan secara lebih sistematis dan berkelanjutan. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya