Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Kualitas Hidup Jadi Indikator Utama Keberhasilan Terapi Kanker pada Lansia

Basuki Eka Purnama
27/2/2026 09:53
Kualitas Hidup Jadi Indikator Utama Keberhasilan Terapi Kanker pada Lansia
Ilustrasi(Freepik)

PARADIGMA keberhasilan terapi kanker kini mulai bergeser. Keberhasilan pengobatan tidak lagi hanya terpaku pada angka kesembuhan atau lamanya pasien bertahan hidup, tetapi juga seberapa baik kualitas hidup yang dijalani pasien selama dan setelah masa pengobatan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Konsultan Hematologi Onkologi lulusan Universitas Diponegoro (Undip), dr. Daniel Rizky, menekankan bahwa efektivitas terapi harus berjalan selaras dengan kondisi fisik dan psikologis pasien.

"Keberhasilan terapi tidak hanya diukur dari angka survival rate, tetapi juga dari respon tumor terhadap pengobatan serta kualitas hidup pasien. Terapi yang ideal adalah yang efektif tanpa membuat kondisi pasien semakin memburuk," ujar Daniel dalam siaran pers, dikutip Jumat (27/2).

Menepis Stigma Pengobatan Lansia

Pernyataan ini sekaligus menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai risiko tinggi pengobatan kanker pada kelompok lanjut usia (lansia). 

Menurut Daniel, kemajuan medis saat ini telah menghadirkan regimen terapi yang lebih "ramah" bagi lansia. Pendekatan yang digunakan kini lebih personal, dengan menyeimbangkan antara efektivitas medis dan kenyamanan pasien.

Namun, ia mengakui bahwa menangani kanker pada lansia memiliki tantangan tersendiri. Salah satu faktor penentu yang paling krusial bukanlah usia kronologis (angka usia), melainkan tingkat kebugaran biologis atau yang dikenal sebagai frailty index.

"Tidak semua pasien berusia 70 tahun memiliki kondisi tubuh yang sama. Karena itu terapi tidak bisa disamaratakan dan harus melalui penilaian khusus sebelum menentukan jenis maupun dosis pengobatan," jelasnya.

Penanganan medis tetap mengacu pada jenis dan stadium kanker, namun dokter akan mempertimbangkan secara mendalam fungsi organ, penyakit penyerta (komorbid), serta tingkat kemandirian pasien.

Bahaya Mitos Nutrisi dan Peran Keluarga

Di luar aspek klinis, Daniel menyoroti pentingnya peran keluarga sebagai sistem pendukung (support system). Ia menyayangkan masih banyaknya pasien yang melakukan pembatasan makanan secara ekstrem akibat mitos-mitos yang tidak berdasar di masyarakat.

Padahal, nutrisi yang adekuat sangat dibutuhkan tubuh untuk memulihkan sel-sel yang rusak selama proses terapi. Tanpa asupan gizi yang cukup, kondisi fisik pasien justru berisiko menurun drastis.

"Kanker tidak hanya penyakit biologis, tetapi juga berdampak sosial dan emosional. Support system yang kuat membantu pasien tetap semangat dan tidak merasa sendirian dalam menjalani terapi," tambah Daniel.

Pemantauan Pascaterapi

Perjalanan pasien tidak berhenti saat terapi selesai. Daniel mengingatkan agar para penyintas kanker lansia tetap melakukan kontrol dan pemantauan rutin. 

Hal ini bertujuan untuk mendeteksi potensi kekambuhan sejak dini serta memantau efek samping jangka panjang dari pengobatan.

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa kolaborasi antara medis dan keluarga adalah kunci utama. 

"Penanganan tepat bagi penyintas kanker lansia adalah kombinasi antara terapi medis yang terukur dan dukungan keluarga yang optimal. Tujuannya bukan sekadar memperpanjang usia, tetapi memastikan kualitas hidup tetap terjaga," pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya