Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Terapi Kanker Lansia: Fokus Kualitas Hidup dan Kebugaran Biologis

Putri Rosmalia Octaviyani
21/2/2026 17:33
Terapi Kanker Lansia: Fokus Kualitas Hidup dan Kebugaran Biologis
Seorang perawat mendampingi lansia.(Dok. Freepik)

PANDANGAN mengenai keberhasilan pengobatan kanker kini mulai bergeser. Jika sebelumnya angka kesembuhan atau survival rate menjadi satu-satunya tolok ukur, kini kualitas hidup pasien (quality of life) menjadi prioritas utama terapi kanker, terutama bagi pasien lanjut usia (lansia).

Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Konsultan Hematologi Onkologi, dr. Daniel Rizky, menekankan bahwa terapi yang ideal adalah pengobatan yang efektif menekan tumor tanpa mengorbankan kondisi fisik pasien secara drastis. Menurut lulusan Universitas Diponegoro tersebut, respon tumor dan kenyamanan pasien selama menjalani masa pengobatan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Mengenal Frailty Index dalam Pengobatan Kanker

Salah satu tantangan terbesar dalam menangani kanker pada lansia adalah perbedaan kondisi fisik antarindividu. dr. Daniel menjelaskan pentingnya memahami frailty index atau indeks kerapuhan. Ini merupakan tingkat kebugaran biologis seseorang yang sering kali tidak selaras dengan usia kronologisnya.

Sebagai contoh, dua pasien yang sama-sama berusia 70 tahun bisa memiliki kebutuhan medis yang sangat berbeda. Pasien pertama mungkin masih sangat bugar, sementara pasien kedua memiliki komplikasi fungsi organ atau penyakit penyerta lainnya. Oleh karena itu, penentuan jenis terapi dan dosis pengobatan tidak boleh disamaratakan dan wajib melalui penilaian klinis yang mendalam.

Poin Kunci Penilaian Terapi Kanker Lansia:

  • Fungsi organ (Ginjal, Jantung, Hati).
  • Penyakit penyerta (Komorbiditas).
  • Tingkat kemandirian fisik pasien.
  • Jenis dan stadium kanker.

Inovasi Regimen Terapi yang Ramah Lansia

Dahulu, pengobatan kanker pada lansia sering dianggap berisiko tinggi karena efek samping yang berat. Namun, saat ini teknologi medis telah menyediakan berbagai regimen terapi yang lebih ramah bagi pasien usia lanjut. Pendekatan terbaru ini mengutamakan keseimbangan antara efektivitas medis dan kemampuan tubuh lansia dalam menoleransi obat.

Penanganan tetap didasarkan pada jenis dan stadium kanker, namun faktor penyerta menjadi variabel penentu dalam menyusun strategi pengobatan yang personal (personalized medicine).

Peran Nutrisi dan Dukungan Keluarga

Selain aspek medis, dr. Daniel menyoroti pentingnya dukungan sosial dan emosional. Salah satu kendala yang sering ditemui di lapangan adalah penerapan diet ekstrem pada pasien kanker akibat mitos yang salah. Padahal, pasien yang sedang menjalani terapi justru membutuhkan asupan nutrisi yang cukup dan seimbang untuk mendukung proses pemulihan sel-sel tubuh yang rusak.

Kanker bukan sekadar masalah biologis, melainkan juga beban emosional. Keberadaan support system yang kuat dari keluarga membantu pasien tetap optimis dan tidak merasa terisolasi selama masa perawatan.

Pemantauan Pasca-Terapi untuk Penyintas

Setelah menyelesaikan rangkaian pengobatan, perjalanan medis belum berakhir. Pasien lansia yang sudah dinyatakan sebagai penyintas tetap memerlukan kontrol rutin. Pemantauan ini bertujuan untuk mendeteksi secara dini potensi kekambuhan (relaps) serta memantau efek samping jangka panjang dari terapi yang telah dijalani.

Kesimpulannya, pengobatan kanker pada lansia bukan lagi sekadar upaya memperpanjang usia, melainkan memastikan setiap hari yang dijalani pasien berkualitas, minim rasa sakit, dan didukung oleh ekosistem keluarga yang sehat. (Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya