Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
JUTAAN orang di seluruh dunia mengonsumsi multivitamin setiap hari dengan harapan bisa tetap sehat seiring bertambahnya usia. Kini, para ilmuwan dari Mass General Brigham melaporkan bukti baru suplemen umum tersebut ternyata dapat memengaruhi proses penuaan biologis di tingkat sel.
Dalam sebuah uji klinis yang melibatkan orang dewasa lanjut usia, mereka yang mengonsumsi multivitamin harian menunjukkan pergerakan yang sedikit lebih lambat pada "jam epigenetik". Ini merupakan penanda berbasis darah yang digunakan para ahli untuk memperkirakan seberapa cepat tubuh seseorang menua.
Selama dua tahun penelitian, perbedaan tersebut setara dengan pengurangan penuaan biologis sekitar empat bulan dibandingkan dengan kelompok peserta yang hanya mengonsumsi plasebo. Meski hasilnya tidak menunjukkan vitamin dapat menghentikan penuaan sepenuhnya, temuan ini memberikan sinyal langka suplemen nutrisi sederhana dapat mendorong proses internal tubuh ke arah yang lebih sehat.
Penelitian ini mengandalkan alat yang dikenal sebagai jam epigenetik. Jam ini bekerja dengan membaca label kimia kecil yang menempel pada DNA. Label-label tersebut dapat mengubah cara kerja gen saat sel merespons waktu, stres, dan kerusakan lingkungan.
Beberapa versi terbaru dari jam ini dirancang untuk melacak risiko yang terkait dengan penyakit dan kelangsungan hidup. Oleh karena itu, perubahan sekecil apa pun pada indikator ini menarik perhatian besar, terutama ketika "obat" yang digunakan adalah sesuatu yang semurah dan semudah multivitamin harian.
Riset ini merupakan bagian dari studi yang lebih besar bernama Cocoa Supplement and Multivitamin Outcomes Study (COSMOS). Peneliti memantau 958 orang dewasa sehat dengan usia rata-rata 70 tahun yang dibagi secara acak ke dalam kelompok multivitamin dan ekstrak kakao.
Menariknya, hasil berbeda ditemukan pada kelompok ekstrak kakao. Suplemen tersebut gagal memperlambat jam penuaan secara meyakinkan. Hal ini menunjukkan manfaat multivitamin bersifat lebih spesifik terhadap penanda darah tertentu.
Peserta yang tubuhnya secara biologis terlihat "lebih tua" dari usia kalender mereka justru mendapatkan manfaat paling besar. "Banyak orang mengonsumsi multivitamin tanpa mengetahui manfaat pastinya. Jadi, semakin banyak yang bisa kita pelajari tentang potensi manfaat kesehatannya, akan semakin baik," ujar Dr. Howard Sesso, pemimpin penulis studi tersebut.
Meskipun memberikan hasil positif terhadap kemampuan kognitif dan memori dalam analisis sebelumnya, para peneliti menekankan bahwa multivitamin bukanlah pil ajaib untuk memperpanjang usia. Perubahan pada jam penuaan ini tergolong moderat dan tidak semua peserta merasakan dampak yang sama.
Dr. Sesso menambahkan masyarakat tidak mengonsumsi vitamin hanya untuk memperbaiki angka di laboratorium, melainkan untuk menua dengan baik. "Ada banyak minat saat ini untuk mengidentifikasi cara agar tidak hanya hidup lebih lama, tetapi hidup dengan lebih baik," katanya.
Hasil studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine ini menjadi langkah awal yang penting. Namun, para ilmuwan masih perlu meneliti lebih lanjut apakah perubahan pada penanda darah ini benar-benar berkorelasi langsung dengan penurunan risiko penyakit jangka panjang. (Earth/Z-2)
Penelitian selama 15 tahun di Swedia membuktikan pola makan sehat dapat memperlambat penuaan dan mengurangi risiko penyakit kronis pada lansia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved