Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Studi Yale Ungkap Lansia Bisa Jadi Lebih Sehat Seiring Bertambahnya Usia

Thalatie K Yani
10/3/2026 11:00
Studi Yale Ungkap Lansia Bisa Jadi Lebih Sehat Seiring Bertambahnya Usia
Ilustrasi(freepik)

SELAMA ini, masyarakat dan bahkan sebagian besar tenaga medis menganggap penuaan sebagai "perosotan" satu arah, tubuh kaku, ingatan memudar, dan hal terbaik yang bisa dilakukan hanyalah mengelola penurunan tersebut. Namun, sebuah studi terbaru dari Universitas Yale mematahkan narasi pesimistis ini.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Geriatrics ini mengungkapkan fakta mengejutkan. Di mana hampir separuh lansia berusia 65 tahun ke atas justru menunjukkan peningkatan fungsi otak, mobilitas fisik, atau bahkan keduanya seiring berjalannya waktu. Kuncinya ternyata bukan sekadar faktor keberuntungan medis, melainkan kekuatan pola pikir.

Kekuatan Keyakinan Positif

Studi ini menemukan mereka yang memiliki pandangan positif terhadap proses penuaan jauh lebih mungkin mengalami perbaikan kesehatan. Hal ini selaras dengan Stereotype Embodiment Theory yang dikembangkan Profesor Becca R. Levy dari Yale. Teori ini berpendapat stigma budaya tentang penuaan yang diserap seseorang sejak muda dapat menjadi kenyataan yang terpenuhi dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy) saat mereka beranjak tua.

"Penuaan tidak mengikuti satu skenario tunggal, dan skenario yang Anda yakini mungkin membentuk apa yang akan terjadi selanjutnya," tulis laporan tersebut.

Data 12 Tahun yang Menepis Mitos

Para peneliti menganalisis data dari Health and Retirement Study, sebuah survei nasional besar di AS yang melibatkan ribuan peserta berusia di atas 50 tahun selama 12 tahun. Mereka memantau dua indikator utama, fungsi kognitif (daya ingat dan matematika dasar) serta kecepatan berjalan, yang sering disebut dokter sebagai "tanda vital keenam" karena berkaitan erat dengan risiko rawat inap dan kematian.

Hasilnya sangat signifikan:

  • Sekitar 45,15% peserta mengalami peningkatan pada kognisi, kecepatan berjalan, atau keduanya.
  • Sekitar 32% mengalami perbaikan fungsi kognitif.
  • Sekitar 28% menunjukkan peningkatan kecepatan berjalan.

Angka-angka ini jauh melampaui tolok ukur federal AS (11,5%) yang biasanya digunakan untuk menandai perbaikan yang berarti pada lansia. Menariknya, perbaikan ini tetap terjadi bahkan setelah peneliti memperhitungkan faktor ras, pendidikan, penyakit jantung, hingga faktor genetik pemicu Alzheimer.

Mengapa Kita Sering Melewatkan Fakta Ini?

Penelitian ini menjelaskan jika data semua orang dirata-ratakan, maka pola penurunan memang terlihat. Namun, rata-rata tersebut menyembunyikan realitas individu. Ketika peneliti mengamati lintasan tiap orang secara spesifik, gambaran yang muncul jauh berbeda: jutaan lansia ternyata tidak mengalami penurunan, melainkan kemajuan.

Data ini juga mematahkan asumsi penurunan mental dan fisik selalu datang bersamaan. Sekitar 66% orang yang menunjukkan kemajuan hanya mengalaminya di satu bidang saja (antara kognisi atau mobilitas). Ini membuktikan proses penuaan bersifat sangat personal dan tidak merata.

Meskipun berpikir positif tidak bisa menyembuhkan semua penyakit, studi ini menegaskan bahwa "penurunan yang tak terhindarkan" bukanlah hukum alam yang mutlak. Dengan mengubah cara pandang terhadap usia tua, kita mungkin sedang memberikan kesempatan bagi tubuh dan otak untuk tetap berkembang, bukan sekadar bertahan. (EArth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya