Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam The Journal of Neuroscience mengungkapkan hobi memantau burung (birding) bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang. Para ahli saraf menemukan keahlian dalam mengidentifikasi burung mampu mengubah struktur otak manusia menjadi lebih padat, efisien, dan tangguh terhadap penuaan.
Peneliti dari Baycrest menggunakan teknologi diffusion-weighted MRI untuk melacak pergerakan molekul air dalam jaringan otak. Hasilnya mengejutkan, para pengamat burung ahli memiliki organisasi jaringan otak yang jauh lebih padat dan teratur pada bagian yang mengatur perhatian (attention) dan persepsi visual dibandingkan dengan pemula.
Kepadatan jaringan ini ditemukan di area korteks yang berfungsi membedakan detail visual yang halus. Saat di lapangan, seorang pengamat burung harus menyaring suara, gerakan, dan bentuk secara cepat, lalu mencocokkannya dengan memori yang tersimpan.
"Ukuran yang kami gunakan adalah difusi molekul air di dalam otak," kata Dr. Erik A. Wing, ilmuwan saraf kognitif di Baycrest. Pada para ahli, rendahnya tingkat difusi menunjukkan jaringan otak mereka lebih padat, sehingga molekul air memiliki jalur yang lebih sempit untuk bergerak. Hal ini menandakan adanya "renovasi" saraf yang terfokus pada bagian otak yang paling sering digunakan.
Yang paling menarik, pola kepadatan otak ini tetap bertahan pada pengamat burung yang sudah lanjut usia. Pada orang biasa, jaringan otak cenderung menjadi kurang teratur seiring bertambahnya usia. Namun, pada pengamat burung ahli, penurunan ini terjadi jauh lebih lambat.
"Memperoleh keterampilan dari aktivitas memantau burung dapat bermanfaat bagi kognisi seiring bertambahnya usia," ujar Dr. Wing.
Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai cognitive reserve atau cadangan kognitif, sebuah ketahanan yang dibangun melalui pengalaman untuk membantu otak mengatasi kerusakan akibat usia. Aktivitas memantau burung memaksa otak untuk terus melatih fokus dan ingatan dalam satu putaran yang intens, sehingga memperkuat sirkuit saraf tersebut.
Studi ini juga menguji para ahli dengan spesies burung yang tidak dikenal (non-lokal). Hasil pemindaian menunjukkan bahwa wilayah kontrol perhatian pada otak mereka bekerja lebih keras saat menghadapi tantangan tersebut. Hubungan antara kerja otak yang lebih intens dan akurasi identifikasi yang tinggi menunjukkan bahwa perhatian menjadi "rencana cadangan" yang efektif bagi otak yang terlatih.
Meskipun hasil ini sangat menjanjikan, para peneliti menekankan bahwa efek ini terbatas pada wilayah otak tertentu dan bukan jaminan perlindungan total terhadap demensia. Namun, temuan ini memberikan harapan baru bahwa hobi berbasis keterampilan bisa menjadi alat praktis dalam program penuaan sehat tanpa harus terasa seperti latihan otak yang membosankan. (earth/Z-2)
Studi terbaru mengungkap fenomena "SuperAger", lansia berusia 80-an dengan memori luar biasa yang memiliki sel otak muda lebih banyak daripada orang dewasa normal.
Studi terbaru mengungkap menopause pengaruhi struktur otak, volume materi abu-abu, hingga risiko demensia. Simak dampak psikologis dan peran terapi hormon.
Penelitian terbaru terhadap 125.000 perempuan mengungkap menopause memicu penyusutan volume otak.
Temukan manfaat luar biasa mengonsumsi kurma saat berbuka puasa. Dari energi instan hingga kesehatan pencernaan, inilah alasan medis kurma jadi takjil terbaik.
Pola makan sehat bisa membantu mencegah risiko demensia. Buah beri, sayuran hijau, ikan berlemak, kacang, dan minyak zaitun efektif lindungi fungsi otak.
Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan sehat tertentu bisa dapat meningkatkan daya ingat seseorang dan membantu mencegah pikun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved