Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
JIKA Anda adalah orangtua dari generasi Gen X atau Milenial, Anda pasti ingat betul bagaimana suasana kumpul-kumpul remaja di masa lalu. Kala itu, keseruan didapat dari bermain board game seperti "Girl Talk" atau video game legendaris seperti "Super Mario Brothers," mengerjai orang lewat telepon rumah, memesan pizza yang harus ditelepon, dan tidak pernah memikirkan kuman saat meniup lilin ulang tahun.
Namun, lompatan waktu ke pesta remaja hari ini menyajikan pemandangan yang sangat berbeda. Dalam pesta ulang tahun seorang remaja berusia 15 tahun, mereka seolah terhipnotis ponsel mereka, bahkan ketika mereka seharusnya terlibat dalam kegiatan lain. Pengalaman ini meninggalkan rasa sedih dan memunculkan pertanyaan, apakah pesta yang benar-benar bebas dari ponsel masih mungkin di zaman sekarang?
Kita semua tahu remaja sangat terikat pada ponsel mereka. Hampir setiap kali kita mengetuk pintu kamar anak remaja, mereka akan mendongak dari layar.
Namun, menyaksikan sekelompok gadis duduk bersama di sofa, pura-pura menonton film, sementara mata mereka terpaku pada layar terasa sangat mengganggu. Sepanjang pesta, ponsel mereka hampir selalu menjadi fokus utama, mungkin hanya berhenti sebentar ketika mereka membuat pizza.
Ada juga yang menggunakan ponsel mereka sebagai cermin untuk merapikan riasan dan rambut mereka. Perilaku ini mencerminkan tekanan mendalam yang dirasakan remaja saat ini untuk terlihat "sempurna" setiap saat, jaga-jaga jika momen mereka tiba-tiba diabadikan dan dibagikan di media sosial.
Kita bersimpati pada betapa sulitnya bagi anak-anak yang tumbuh dengan teknologi sebagai bagian integral dari hidup mereka untuk menjauh dari ponsel. Namun, muncul pertanyaan besar: mengapa mereka repot-repot berkumpul jika yang mereka lakukan hanyalah mengecek feed sepanjang waktu?
Melihat pesta yang lebih banyak di-Snap, di-Instagram, dan di-TikTok daripada dinikmati secara nyata. Ide menyita ponsel dan memaksa memaksa para remaja itu menghabiskan waktu tanpa layar tampak menarik, namun tidak adil bagi mereka yang sedang merayakan.
Titik terang muncul saat seorang rekan editor di Parents berbagi pengalamannya, putrinya menghadiri dua pesta menginap dalam setahun terakhir di mana ponsel dikumpulkan pada pukul 9 malam. Para orangtua menjamin mereka tetap bisa dihubungi, dan jika ada kebutuhan mendesak, ponsel boleh diambil.
Menariknya, putri editor itu justru merasa nyaman terpisah dari ponselnya, dan banyak anak mengaku senang orangtua menetapkan batasan ini, yang memungkinkan mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama.
Pengalaman ini memicu pemikiran, lain kali, pesta harus berjalan berbeda!
Bagi Anda yang merasakan kegelisahan serupa, pesta nostalgia mungkin merupakan solusi menarik untuk remaja atau pra-remaja.
Langkah pertama yang esensial adalah menginformasikan orangtua dan tamu bahwa ponsel harus ditinggal di rumah atau akan dikumpulkan saat tiba. Komunikasi ini bisa disampaikan melalui undangan atau pesan singkat sebelum hari-H.
Genevieve Dreizen, COO dan co-founder Fresh Starts Registry sekaligus pakar etiket modern, menawarkan pendekatan lain: membatasi waktu penggunaan ponsel.
Ia menyarankan, "Anda bisa mengatakan, 'Kami akan menyimpan ponsel saat makan malam supaya semua orang bisa benar-benar berinteraksi.'"
Dreizen juga menekankan pentingnya meminta persetujuan sebelum mengunggah foto. Ia mengatakan, "Batasan semacam itu mengajarkan tentang persetujuan, privasi, dan kehadiran."
Selanjutnya, kuncinya adalah menyiapkan kegiatan yang membuat anak-anak tidak punya alasan untuk terpaku pada ponsel.
Dengan perencanaan yang matang, pesta remaja dapat kembali menjadi ajang interaksi tatap muka, bukan sekadar sesi scrolling bersama. (Parents/Z-2)
Sepeda motor hasil rampokan tersebut sempat dipasarkan melalui media sosial (marketplace) sebelum akhirnya berhasil disita polisi sebagai barang bukti.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
Fenomena keinginan bunuh diri pada remaja tidak dipicu oleh penyebab tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai faktor yang kompleks.
Upaya pencegahan bunuh diri pada remaja dinilai perlu dimulai dari penguatan “jaring pengaman” di lingkungan terdekat, terutama sekolah dan keluarga.
Agar aturan gawai dapat berjalan efektif, orangtua perlu menerapkan pola asuh yang masuk akal dan kolaboratif.
Ketika anak mengalami kecemasan saat dijauhkan dari gawainya, itu menjadi salah satu gejala adiksi atau kecanduan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved