Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Sentuhan Personal Bimoky: Menghidupkan Robot Batik dengan Jiwa Seorang Ayah di Film Pelangi di Mars

Basuki Eka Purnama
18/3/2026 21:08
Sentuhan Personal Bimoky: Menghidupkan Robot Batik dengan Jiwa Seorang Ayah di Film Pelangi di Mars
Aktor pengisi suara Bimo Kusumo atau yang dikenal dengan Bimoky sebagai pengisi suara robot bernama Batik di film Pelangi di Mars.(Instagram @bimoky)

AKTOR pengisi suara ternama, Bimo Kusumo, atau yang lebih akrab disapa Bimoky, membawa dimensi emosional yang mendalam dalam film terbaru bertajuk Pelangi di Mars

Mengisi suara karakter robot bernama Batik, Bimo tidak hanya sekadar memberikan vokal mekanis, melainkan menghadirkan sosok pelindung yang terinspirasi dari realitas kehidupan keluarga.

Bimo menjelaskan bahwa Batik dirancang sebagai representasi figur orang tua bagi Pelangi, karakter utama dalam film tersebut. Ia berusaha menarik benang merah antara dunia fiksi ilmiah dengan keseharian penonton.

“Dari memandang Batik sebagai sosok pelindungnya Pelangi, kalau mau di-relate-kan di dunia nyata ya seperti orang tua bagi anak-anak yang nanti menonton,” ujar Bimo, dikutip Rabu (18/3).

Tantangan Fisik di Balik Suara Berat

Menghidupkan karakter robot ternyata memberikan tantangan fisik yang signifikan bagi Bimo. Untuk mendapatkan tekstur suara Batik yang khas, seorang robot yang digambarkan mengalami kerusakan, Bimo harus menjaga konsistensi tipe suara berat (deep voice) selama proses rekaman intensif yang berlangsung selama satu minggu.

Bimo mengungkapkan bahwa proses pengambilan vokal dilakukan dari pagi hingga malam hari, yang sempat membuatnya kelelahan secara fisik.

“Totalnya dari suaranya itu sekitar seminggu. Tapi dari pagi sampai malam. Bahkan ada satu hari aku sempat menyerah karena dari pagi suara sudah serak banget. Basic-nya deep voice, tapi turunannya banyak. Jadi nggak bisa terlalu deep, nggak bisa terlalu naik juga,” kenangnya.

Meski berat, ia mengaku mengambil inspirasi dari pengalaman pribadinya sebagai seorang ayah. Hal inilah yang membantunya menjaga konsistensi emosi agar suara Batik tetap terasa personal dan relevan bagi audiens.

Standar Baru Perfilman Nasional

Selain aspek akting suara, Bimo mengapresiasi inovasi teknis yang diusung oleh Pelangi di Mars. 

Film ini memanfaatkan teknologi Extended Reality (XR), sebuah terobosan yang menggabungkan unsur fiksi ilmiah, live action, dan visual virtual. Baginya, penggunaan teknologi ini adalah bukti bahwa industri film nasional telah melangkah maju.

Bimo berharap penonton dapat melihat karya ini tanpa harus selalu membanding-bandingkannya dengan standar industri global secara skeptis. Ia menekankan pentingnya apresiasi terhadap proses kreatif anak bangsa.

“Yang terjadi kan kita selalu dibandingkan, ‘wah ini masih jauh sama Hollywood’. Mungkin mindset-nya bisa diubah, bahwa film Indonesia ternyata sudah sampai di tahap ini. Kalau kita menghargai setiap proses dan karya yang lahir, harapannya ini bisa jadi pemantik untuk karya yang lebih bagus ke depan,” tutur Bimo menutup percakapan.

Melalui peran ini, Bimo tidak hanya menyumbangkan suaranya, tetapi juga mempertegas posisi pengisi suara sebagai pilar penting dalam talenta kreatif produksi film masa kini. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik