Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTOR pengisi suara ternama, Bimo Kusumo, atau yang lebih akrab disapa Bimoky, membawa dimensi emosional yang mendalam dalam film terbaru bertajuk Pelangi di Mars.
Mengisi suara karakter robot bernama Batik, Bimo tidak hanya sekadar memberikan vokal mekanis, melainkan menghadirkan sosok pelindung yang terinspirasi dari realitas kehidupan keluarga.
Bimo menjelaskan bahwa Batik dirancang sebagai representasi figur orang tua bagi Pelangi, karakter utama dalam film tersebut. Ia berusaha menarik benang merah antara dunia fiksi ilmiah dengan keseharian penonton.
“Dari memandang Batik sebagai sosok pelindungnya Pelangi, kalau mau di-relate-kan di dunia nyata ya seperti orang tua bagi anak-anak yang nanti menonton,” ujar Bimo, dikutip Rabu (18/3).
Menghidupkan karakter robot ternyata memberikan tantangan fisik yang signifikan bagi Bimo. Untuk mendapatkan tekstur suara Batik yang khas, seorang robot yang digambarkan mengalami kerusakan, Bimo harus menjaga konsistensi tipe suara berat (deep voice) selama proses rekaman intensif yang berlangsung selama satu minggu.
Bimo mengungkapkan bahwa proses pengambilan vokal dilakukan dari pagi hingga malam hari, yang sempat membuatnya kelelahan secara fisik.
“Totalnya dari suaranya itu sekitar seminggu. Tapi dari pagi sampai malam. Bahkan ada satu hari aku sempat menyerah karena dari pagi suara sudah serak banget. Basic-nya deep voice, tapi turunannya banyak. Jadi nggak bisa terlalu deep, nggak bisa terlalu naik juga,” kenangnya.
Meski berat, ia mengaku mengambil inspirasi dari pengalaman pribadinya sebagai seorang ayah. Hal inilah yang membantunya menjaga konsistensi emosi agar suara Batik tetap terasa personal dan relevan bagi audiens.
Selain aspek akting suara, Bimo mengapresiasi inovasi teknis yang diusung oleh Pelangi di Mars.
Film ini memanfaatkan teknologi Extended Reality (XR), sebuah terobosan yang menggabungkan unsur fiksi ilmiah, live action, dan visual virtual. Baginya, penggunaan teknologi ini adalah bukti bahwa industri film nasional telah melangkah maju.
Bimo berharap penonton dapat melihat karya ini tanpa harus selalu membanding-bandingkannya dengan standar industri global secara skeptis. Ia menekankan pentingnya apresiasi terhadap proses kreatif anak bangsa.
“Yang terjadi kan kita selalu dibandingkan, ‘wah ini masih jauh sama Hollywood’. Mungkin mindset-nya bisa diubah, bahwa film Indonesia ternyata sudah sampai di tahap ini. Kalau kita menghargai setiap proses dan karya yang lahir, harapannya ini bisa jadi pemantik untuk karya yang lebih bagus ke depan,” tutur Bimo menutup percakapan.
Melalui peran ini, Bimo tidak hanya menyumbangkan suaranya, tetapi juga mempertegas posisi pengisi suara sebagai pilar penting dalam talenta kreatif produksi film masa kini. (Ant/Z-1)
Pendampingan orangtua selama film berlangsung sangatlah krusial untuk memberikan pemahaman yang tepat kepada anak.
Menyaksikan tontonan yang tidak sesuai klasifikasi usia merupakan ancaman nyata bagi tumbuh kembang anak.
Film panjang perdana sutradara Tumpal Tampubolon, Crocodile Tears, akhirnya dijadwalkan menyapa penonton Indonesia mulai 7 Mei 2026.
Setelah sebelumnya sukses membintangi Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018) dan Suzzanna: Malam Jumat Kliwon (2023), Luna mengaku pengalamannya dalam mendalami karakter terus berkembang.
Dalam film Jangan Buang Ibu, Amanda Manopo mengungkapkan bahwa kondisi fisiknya menjadi tantangan tersendiri selama proses produksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved