Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Aturan 60-60 Pakai Headphone: Tips Dokter THT Mencegah Gangguan Pendengaran dan Tuli Permanen

Putri Rosmalia Octaviyani
07/3/2026 19:08
Aturan 60-60 Pakai Headphone: Tips Dokter THT Mencegah Gangguan Pendengaran dan Tuli Permanen
Seorang lelaki menggunakan headphone.(Dok. Freepik)

PENGGUNAAN pelantang telinga seperti earphone atau headphone secara berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran serius. Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher, Harim Priyono,mengingatkan bahwa paparan suara keras dalam waktu lama bisa memicu noise induced hearing loss yang bersifat permanen.

Menurut Harim, gangguan pendengaran yang ditimbulkan bukan tipe konduktif, melainkan sensori neural. "Gangguan sensori neural terjadi pada sel rambut di koklea atau rumah siput di telinga dalam. Kerusakan pada bagian tersebut tidak dapat diperbaiki sehingga penurunan pendengaran bersifat menetap," ujar dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tersebut dalam diskusi daring di Jakarta.

Mengenal Aturan 60-60 dalam Penggunaan Audio

Sebagai langkah pencegahan dan menjaga kesehatan telinga, masyarakat sangat disarankan untuk mengikuti prinsip 60-60 saat menggunakan perangkat audio pribadi. Prinsip ini mengatur dua variabel utama, yakni volume dan durasi.

  • Volume 60 Persen: Batasi volume suara maksimal hanya 60 persen dari kapasitas total perangkat yang digunakan.
  • Durasi 60 Menit: Penggunaan perangkat audio sebaiknya tidak dilakukan lebih dari 60 menit secara terus-menerus.

Harim menekankan pentingnya jeda istirahat bagi telinga. "Setelah 60 menit, sebaiknya diberi waktu istirahat sekitar 15 menit atau lebih sebelum digunakan kembali," tambahnya.

Teknologi Bone Conduction sebagai Alternatif Aman

Selain pengaturan pola pakai, pemilihan jenis perangkat juga berpengaruh. Teknologi bone conduction earphone dinilai bisa menjadi alternatif yang lebih aman bagi kesehatan pendengaran.

Perangkat Bone Conduction: menghantarkan suara melalui getaran tulang, sehingga suara tidak langsung masuk melalui liang telinga dan tidak mengalami proses penguatan alami di gendang telinga serta tulang pendengaran.

Dengan mekanisme tersebut, risiko kerusakan telinga dan gangguan pendengaran akibat paparan bising dapat berkurang dibandingkan earphone konvensional. Meski demikian, edukasi mengenai batasan durasi tetap menjadi faktor terpenting agar kesehatan pendengaran tetap terjaga di era digital ini.

(Ant/H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya