Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
ORANGTUA masa kini menghadapi tantangan ganda: ingin membatasi screen time anak, tapi pilihan ruang bermain aman di sekitar rumah nyaris tidak tersedia.
Faktanya, 9 dari 10 kota di Indonesia dikategorikan tidak ramah anak karena minimnya taman dan ruang bermain terbuka, sementara 70% fasilitas yang ada sudah tidak layak pakai.
Melihat kondisi tersebut, Loluna Baby Skincare menggelar renovasi taman bermain gratis di TK Islam Al Abror, Ciracas, Jakarta Timur, sekolah yang telah berdiri hampir 45 tahun tanpa peremajaan fasilitas bermain. Fasilitas baru ini aman, edukatif, dan inklusif, bisa digunakan bukan hanya oleh para siswa, tetapi juga lebih dari 100 keluarga di lingkungan sekitar.
“Bagi orangtua, mengajak anak bermain di luar rumah adalah cara efektif mengurangi screen time sekaligus mendukung tumbuh kembangnya. Tapi bagaimana kalau fasilitasnya tidak ada atau tidak layak? Di sinilah kami ingin membantu. Akses terhadap ruang bermain adalah #HakSemuaAnak, bukan kemewahan,” ujar Co-Founder Loluna Bianca Belnadia sambil menambahkan bahwa fasilitas ruang bermain gratis di Indonesia masih tertinggal dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Bagi Loluna, pencapaian bisnis bukan hanya soal angka penjualan. Meski baru dua tahun berdiri, brand ini sudah berhasil membuat produk andalannya viral hingga meraih posisi No 1 di kategori baby lotion di marketplace besar Indonesia, bersaing dengan raksasa industri. Namun, bagi para foundernya, pertumbuhan bisnis harus berjalan seiring dengan kontribusi sosial yang nyata.
Untuk memastikan manfaat ini berkelanjutan, Loluna menggandeng Benihbaik.com, platform filantropi yang digagas oleh Andy F Noya dan diwakili pada acara ini oleh Co-Founder & COO, Anggit Hernowo.
“Kami memilih sekolah yang dekat dengan pemukiman warga dan terbuka dari pagi hingga sore. Sekolah ini tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga pusat kegiatan masyarakat, termasuk pembelajaran Al-Qur'an dan dimanfaatkan pula oleh warga nonsiswa untuk bermain. Dengan dukungan pihak sekolah untuk perawatan fasilitas, kami berharap taman ini tetap layak dan aman digunakan selama bertahun-tahun,” jelas Anggit
Dukungan juga datang dari Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, yang memiliki perhatian pada pendidikan anak usia dini.
“Anak-anak adalah warga kota yang berhak berjalan, bermain, dan belajar di lingkungan yang aman, edukatif, dan inklusif. Melalui kolaborasi lintas pihak, kita menghadirkan taman bermain yang memberi kesempatan sama bagi semua anak. Ini langkah kecil yang berarti untuk mengurangi kesenjangan sosial,” ujarnya.
Inisiatif ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4 (Quality Education) dan nomor 10 (Reduced Inequalities), yang menekankan peningkatan kualitas pendidikan sekaligus mengurangi kesenjangan sosial.
Menutup acara, Bianca menyampaikan rasa syukur mendalam kepada seluruh pelanggan Loluna di Indonesia.
“Semua ini tidak mungkin terjadi tanpa dukungan pelanggan yang setia memilih dan percaya pada produk kami. Setiap pembelian yang mereka lakukan bukan hanya membawa manfaat untuk keluarga sendiri, tapi juga ikut menghadirkan ruang bermain aman bagi anak-anak lain. Dari pelanggan untuk pelanggan, inilah bukti bahwa kebaikan bisa menular dari satu keluarga ke keluarga lainnya,” tutupnya. (Z-1)
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa.
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Screen time yang tidak tepat dinilai dapat memengaruhi tumbuh kembang anak secara signifikan.
Banyak orang tua menganggapnya cara aman agar bayi tetap terhubung dengan orang terkasih yang tinggal jauh.
Screen time kita sangat tinggi, lebih dari 7,5 jam. Bahkan anak-anak di bawah dua tahun pun menghadapi exposure screen time yang tinggi.
Menurut banyak penelitian, paparan layar atau screen time terlalu dini justru dapat menimbulkan risiko jangka panjang bagi tumbuh kembang anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved