Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (13/3) pagi bergerak melemah seiring ekspektasi pelaku pasar bahwa The Fed akan bersikap hawkish (ketat). Hal ini dipicu oleh risiko inflasi energi global imbas konflik yang terus memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
IHSG dibuka melemah 23,30 poin atau 0,32% ke posisi 7.338,82. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 2,74 poin atau 0,36% ke posisi 748,45. Tekanan ini juga merembet ke nilai tukar Mata Uang Rupiah yang kini bertengger di level Rp16.918 per dolar AS, mendekati level psikologis baru.
International Energy Agency (IEA) menyebut konflik ini berpotensi menjadi gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah. Aliran minyak melalui Selat Hormuz turun drastis dari 20 juta barel per hari menjadi hampir berhenti total. Kondisi ini memaksa negara-negara produsen di Teluk untuk memangkas produksi hingga 10 juta barel per hari.
Harga minyak mentah jenis Brent kini telah menembus angka US$100,41 per barel. Iran bahkan memperingatkan harga minyak dunia bisa mencapai US$200 per barel jika eskalasi militer terus meningkat.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa IHSG sulit untuk menguat di tengah gejolak global dan menjelang libur panjang Idul Fitri.
"Investor cenderung mengurangi posisi portofolio mereka demi terhindar dari gejolak pasar selama ditinggal liburan," ujarnya.
Di sisi lain, kebijakan fiskal dalam negeri turut menjadi sorotan. Pemerintah mulai menarik sebagian surplus Bank Indonesia (BI) sebesar Rp16 triliun ke kas negara berdasarkan PMK No.115/2025 untuk membantu pembiayaan APBN.
Meski Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjamin koordinasi tetap terjaga, langkah ini memicu kekhawatiran investor akan adanya tekanan fiskal yang semakin besar.
| Instrumen | Nilai Terbaru | Keterangan |
|---|---|---|
| IHSG | 7.338,82 | Melemah 0,32% |
| Nilai Tukar Rupiah | Rp16.918/USD | Terdepresiasi |
| Emas Antam | Rp3.021.000/gr | Turun Rp21.000 |
| Minyak Brent | US$100,41/barel | Sentimen Negatif |
Catatan Redaksi: Pelaku pasar kini menantikan hasil pertemuan FOMC pada 17-18 Maret 2026 untuk melihat arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya di tengah ancaman inflasi energi. (Ant/Z-10)
Ancaman Iran menyerang kapal tanker di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran pasar energi global di tengah konflik dengan AS.
Presiden Donald Trump menegaskan militer AS telah melumpuhkan kekuatan Iran dalam hitungan jam, namun ia menolak untuk menarik pasukan lebih awal.
Serangan AS ke Iran picu pergeseran geopolitik dan ancaman PHK buruh otomotif Indonesia. Pakar dorong Presiden Prabowo proaktif diplomasi demi stabilitas nasional.
Pentagon mengonfirmasi 140 tentara AS terluka selama 10 hari Operasi Epic Fury. Delapan personel dalam kondisi kritis dan tujuh lainnya dilaporkan gugur.
Presiden Donald Trump mengancam konsekuensi militer "tingkat tinggi" jika Iran nekat memasang ranjau di Selat Hormuz.
Di tengah ketidakpastian pasar, berikut rekomendasi saham sektor energi dan emas yang menarik untuk dicermati hari ini. Peluang investasi di tengah volatilitas.
IHSG tertekan tajam 2,65% pada 2 Maret 2026 akibat eskalasi konflik AS-Iran yang memicu lonjakan harga minyak dan emas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved