Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Blunder AS di Iran Picu Kebangkitan Persian Hemisphere, Dampaknya Bisa Menjalar ke Industri RI

Haufan Hasyim Salengke
11/3/2026 11:25
Blunder AS di Iran Picu Kebangkitan Persian Hemisphere, Dampaknya Bisa Menjalar ke Industri RI
Diskusi serikat buruh mengenai dampak eskalasi perang AS-Israel melawan Iran terhadap geopolitik global dan industri Tanah Air yang berlangsung di Jakarta Selatan, Selasa (10/3) malam.(Istimewa)

ESKALASI konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memunculkan kekhawatiran terhadap dampak ekonomi global, termasuk bagi Indonesia. Sejumlah pengamat geopolitik dan ekonom menilai situasi tersebut perlu dimonitor secara serius oleh pemerintah agar tidak menimbulkan dampak luas terhadap sektor industri dan ketenagakerjaan.

Direktur Geopolitik GREAT Institute, Teguh Santosa, menilai serangan AS terhadap Iran pada 28 Februari lalu merupakan langkah strategis yang keliru. Menurut dia, langkah tersebut justru berpotensi melemahkan pengaruh ‘Negeri Paman Sam’ di kawasan Teluk.

“Amerika Serikat kehilangan kesempatan untuk kembali bercokol di Teluk. Jika dulu Donald Trump berbicara tentang Western Hemisphere, sekarang kita melihat bangkitnya ‘Persian Hemisphere’,” ujar Teguh dalam diskusi Forum Urun Rembug Serikat Buruh di TB Simatupang, Jakarta Selatan, Selasa (10/3) petang.

Dosen Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah ini mengatakan, melemahnya pengaruh AS di kawasan tersebut merupakan kelanjutan dari kemunduran geopolitik Washington di Afghanistan dan Pakistan.

Selain itu, Teguh memprediksi dinamika politik domestik di AS dan Israel juga dapat memengaruhi arah konflik. Di Washington, Donald Trump diprediksi akan menghadapi tekanan berat pada pemilu sela November 2026. Sementara di Israel, posisi Benjamin Netanyahu terancam oleh tokoh oposisi seperti Yair Lapid (Yesh Atid) dan faksi Partai Buruh yang lebih terbuka terhadap two-state solution pada pemilu Oktober 2026.

Menurutnya, perubahan konstelasi geopolitik ini bisa membuka peluang bagi upaya perdamaian di Gaza. Berkurangnya dominasi AS dapat meningkatkan peluang Palestina untuk memperoleh pengakuan sebagai negara berdaulat sekaligus menjadi anggota penuh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Di sisi lain, ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Fadhil Hasan, mengingatkan bahwa durasi konflik sulit diprediksi. Karena itu, ia meminta berbagai pihak, termasuk organisasi buruh, untuk terus memantau perkembangan situasi global.

“Kita minta harus dimonitor dan kalau perlu memberikan masukan kepada pemerintah supaya dampaknya tidak negatif,” kata Fadhil.

Fadhil juga mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk lebih proaktif melakukan diplomasi internasional guna mencegah meluasnya dampak konflik di Timur Tengah.

Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Jumhur Hidayat, mengaku khawatir konflik tersebut akan berdampak langsung pada sektor industri nasional. Ia mencontohkan industri otomotif Indonesia yang sebagian besar produksinya ditujukan untuk ekspor.

Jumhur mengaku mendapat laporan dari salah seorang yang bekerja di perusahaan otomotif di Tanah Air bahwa 65% otomotif nasional berorientasi ekspor. Dari jumlah itu, 50% ke Timur Tengah. “Dan saat ini sedang setop. Jadi artinya kira-kira 30% produksi yang biasanya dilakukan sekarang setop.” Menurut dia, jika kondisi tersebut berlangsung lama dapat berdampak pada ancaman pemutusan hubungan kerja bagi ribuan pekerja.

“Kita sengaja melakukan diskusi dengan mengundang ekonom senior Indef dan pakar dari GREAT Institute untuk benar-benar mengetahui apa dampak yang bakal terjadi akibat eskalasi perang di Timur Tengah,” pungkas Jumhur. (B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya