Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

IHSG Terkoreksi 2,65 Persen pada 2 Maret 2026, Konflik AS-Iran Picu Aksi Jual Massal Saham

 Gana Buana
03/3/2026 08:10
IHSG Terkoreksi 2,65 Persen pada 2 Maret 2026, Konflik AS-Iran Picu Aksi Jual Massal Saham
IHSG tertekan tajam 2,65% pada 2 Maret 2026 akibat eskalasi konflik AS-Iran.(MI/Usman Iskandar)

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada perdagangan 2 Maret 2026, turun 2,65% ke level 8.016,83. Penurunan ini terjadi seiring dengan tekanan global yang semakin memuncak akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyampaikan, aksi militer yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran telah memicu lonjakan harga minyak dan emas, yang mendorong investor global untuk mengalihkan portofolio mereka ke instrumen safe haven, menghindari aset berisiko seperti saham.

"Lonjakan harga minyak dan emas memicu ketidakpastian di pasar global, yang menyebabkan banyak investor beralih dari saham ke instrumen yang lebih aman," ungkap Hendra pada Media Indonesia.

Menurut dia, tekanan pasar semakin terasa dengan hampir seluruh sektor mengalami aksi jual, kecuali sektor energi yang relatif tertahan berkat lonjakan harga minyak mentah.

"Sektor energi masih relatif stabil karena harga minyak mentah yang terus melonjak, namun sektor lain tertekan hebat," ujar Hendra.

Secara teknikal, level 8.000 pada IHSG menjadi support psikologis yang sangat penting. Jika IHSG hari ini berhasil bertahan di atas level tersebut, peluang untuk rebound teknikal menuju 8.100 masih terbuka.

Namun, jika terjadi breakdown di bawah level 8.000, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi ke area 7.941 sebagai support berikutnya. Dalam perdagangan kemarin, tercatat adanya net sell asing sebesar Rp490 miliar, yang menambah tekanan pada indeks.

Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian

Dengan kondisi pasar yang penuh tekanan seperti saat ini, strategi investasi sebaiknya lebih selektif dan defensif. Bagi investor jangka pendek, volatilitas pasar bisa dimanfaatkan dengan pendekatan trading buy pada saham-saham yang mendapatkan sentimen positif dari kenaikan harga komoditas, terutama yang terkait dengan sektor energi dan emas.

"Investor jangka pendek bisa mengambil peluang dengan membeli saham yang terkait langsung dengan komoditas energi dan emas," ujar Hendra.

Sementara itu, bagi investor jangka menengah hingga panjang, sebaiknya tidak panik dan menunggu konfirmasi stabilisasi di area support kuat sebelum melakukan akumulasi saham secara bertahap.

"Jangan terburu-buru melakukan akumulasi, lebih baik menunggu konfirmasi dari pasar dan mengamati pergerakan IHSG di sekitar level support."

Hendra mengingatkan, manajemen risiko menjadi kunci dalam kondisi seperti ini, termasuk disiplin dalam menentukan batas cut loss jika skenario pelemahan pasar terus berlanjut.

Kondisi Makro Domestik Masih Solid

Meski tekanan eksternal cukup besar, lanjut Hendra, kondisi makro domestik Indonesia masih cukup solid. Surplus perdagangan pada Januari 2026 tercatat sebesar 960 juta dolar AS, dan inflasi tahunan berada di level 4,76%.

"Dengan fundamental ekonomi domestik yang solid, koreksi pasar saham saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal. Investor harus melihat lebih jauh dari sekadar gejolak pasar jangka pendek," tambah Hendra.

Dengan fundamental ekonomi yang masih kuat, koreksi pasar saham saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal, yang mengharuskan investor untuk tetap berhati-hati dalam menghadapi ketidakpastian yang sedang melanda pasar global. (Z-10)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya