Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

IHSG Berpotensi Volatile Pekan Ini, Risiko Geopolitik dan Kebijakan Global Jadi Sentimen Utama

Media Indonesia
02/3/2026 07:05
IHSG Berpotensi Volatile Pekan Ini, Risiko Geopolitik dan Kebijakan Global Jadi Sentimen Utama
Pengunjung berfoto dengan later belakang pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026).(MI/Usman Iskandar)

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak fluktuatif sepanjang pekan ini. Peningkatan risiko geopolitik global serta dinamika kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menilai pergerakan IHSG cenderung berada dalam fase konsolidasi dengan volatilitas yang cukup tinggi.

"IHSG pekan ini berpotensi bergerak volatile dengan kecenderungan konsolidasi dengan support di 8.031 dan resistance di 8.437," ujar Imam sebagaimana keterangan resmi di Jakarta, Senin (2/3).

Ketegangan Iran-Israel dan Dampaknya ke Pasar Global

Menurut Imam, peningkatan eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat turut mendorong kenaikan premi risiko global. Situasi di sekitar Selat Hormuz menjadi perhatian serius karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi dunia.

"Ketidakpastian ini berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi, yang biasanya memicu rotasi dana ke aset safe haven dan menekan arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia," ujar Imam.

Di tengah kondisi tersebut, kenaikan harga minyak dan batu bara justru bisa menjadi sentimen positif bagi saham sektor energi dan pertambangan, terutama jika harga komoditas bertahan di level tinggi.

Indonesia sebagai eksportir batu bara dan sejumlah komoditas energi berpotensi memperoleh manfaat dari kenaikan harga jual rata-rata (ASP) serta peluang perbaikan margin emiten terkait.

"Dalam kondisi global yang tidak pasti, saham berbasis komoditas sering kali menjadi proxy lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global," ujar Imam.

Risiko Inflasi dan Tekanan Rupiah

Meski demikian, lonjakan harga energi yang terlalu tinggi dan berlangsung lama dapat memicu tekanan baru, terutama terhadap inflasi global dan nilai tukar rupiah.

Kenaikan harga minyak yang signifikan dinilai dapat memperlebar defisit transaksi berjalan akibat meningkatnya impor migas, sekaligus memperbesar volatilitas rupiah.

"Jika rupiah melemah dan imbal hasil obligasi global naik maka volatilitas IHSG bisa meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko," ujar Iman.

Dalam jangka pendek, arah IHSG akan sangat dipengaruhi oleh apakah kenaikan harga energi tetap terkendali dan mendukung kinerja emiten komoditas, atau justru berubah menjadi tekanan inflasi yang mengganggu stabilitas makroekonomi.

Dampak Kebijakan Tarif dan Peringatan Fiskal

Imam juga menyoroti ketegangan Timur Tengah yang beriringan dengan perubahan kebijakan perdagangan AS serta peringatan dari lembaga pemeringkat terkait kondisi fiskal Indonesia.

"Kombinasi isu ini menciptakan kondisi kehati-hatian di pasar keuangan global hingga pasar domestik," ujar Imam.

Secara global, dampak eskalasi konflik sangat terasa melalui perkembangan di Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis bagi sekitar 20%–25% pasokan minyak mentah dan LNG dunia setiap hari. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memicu gejolak harga energi, mengganggu rantai pasok, serta meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi.

Di sisi lain, kebijakan ekonomi AS mengalami perubahan penting. Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor global yang sebelumnya diterapkan pada era Presiden Donald Trump. Namun, Trump kemudian merespons dengan mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15%.

Selain itu, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi terhadap panel surya dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan tarif 86% hingga 143,3%.

"Ketentuan tarif tinggi ini dapat menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS dan menambah tekanan pada neraca perdagangan sektor terkait," ujar Imam.

Dari dalam negeri, S&P Global Ratings mengingatkan adanya peningkatan tekanan fiskal. Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara diperkirakan telah atau berpotensi bertahan di atas 15%, yang menjadi indikator penting dalam penilaian kesehatan fiskal.

Apabila rasio tersebut terus tinggi dalam jangka menengah, peluang penurunan peringkat kredit (downgrade) bisa muncul, meski saat ini outlook masih stabil.

"Peringatan ini menambah kehati-hatian investor dan pembuat kebijakan dalam menanggapi gejolak global sambil mengelola tantangan fiskal domestik," ujar Imam.

Data Ekonomi Penting Awal Maret 2026

Memasuki awal Maret 2026, pasar juga akan mencermati sejumlah rilis data ekonomi krusial, antara lain:

  • PMI Manufaktur Indonesia Februari 2026

  • Neraca Perdagangan Indonesia Januari 2026

  • Inflasi Indonesia Februari 2026

  • PMI ISM Manufaktur AS Februari 2026

  • PMI ISM Jasa AS Februari 2026

  • PMI NBS Tiongkok Februari 2026

  • Initial Jobless Claims AS

  • Cadangan Devisa Indonesia

  • Non-farm Payrolls AS

  • Tingkat Pengangguran AS

Rangkaian data tersebut diperkirakan akan menjadi katalis tambahan yang memengaruhi pergerakan IHSG dalam jangka pendek. (Ant/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya