Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

BEI: Investor harus Tetap Rasional di Tengah Konflik Timur Tengah

Andhika Prasetyo
02/3/2026 11:18
BEI: Investor harus Tetap Rasional di Tengah Konflik Timur Tengah
ilustrasi(Antara)

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengingatkan para investor untuk tetap bersikap rasional dan mengutamakan analisis fundamental dalam mengambil keputusan investasi di tengah memanasnya konflik Timur Tengah. Imbauan tersebut disampaikan menyusul eskalasi konflik antara Iran vs AS-Israel yang turut memicu pelemahan bursa saham di kawasan Asia, termasuk Indonesia, pada perdagangan Senin (2/3).

"Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental," ujar Jeffrey di Jakarta, Senin.

Ia juga menekankan pentingnya bagi investor untuk menyesuaikan strategi investasi dengan tingkat toleransi risiko masing-masing.

"Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing masing investor," ujarnya.

Pada perdagangan Senin pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 23,95 poin atau 0,29% ke posisi 8.211,31. Pelemahan serupa juga terjadi di bursa saham negara-negara Asia. Bahkan, Bursa Kuwait sempat menghentikan perdagangan, sementara Uni Emirat Arab menutup pasar sahamnya pada 2-3 Maret.

Konflik di Timur Tengah meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar terhadap sejumlah target strategis di Iran, termasuk fasilitas militer dan lokasi yang diduga terkait program rudal serta nuklir Teheran dalam operasi yang disebut Operation Epic Fury.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke sejumlah negara yang menjadi basis pasukan AS atau sekutunya di kawasan Teluk, seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan Uni Emirat Arab.

Eskalasi tersebut turut menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang menjadi rute vital bagi sekitar 20–25 persen pasokan minyak mentah dan LNG dunia setiap hari.

Gangguan terhadap Selat Hormuz berpotensi mengguncang pasar energi global, memengaruhi harga minyak, rantai pasok energi, hingga meningkatkan biaya asuransi pengiriman secara signifikan. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya