Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi pada pekan ini, seiring meningkatnya risiko geopolitik global.
"IHSG pekan ini berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi dengan support di 8.031 dan resistance di 8.437," ujar Imam dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.
Menurut Imam, eskalasi konflik Timur Tengah, Iran vs AS-Israel, serta ketegangan di kawasan Asia Selatan, turut meningkatkan premi risiko global. Kondisi ini diperparah oleh perkembangan situasi di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi energi dunia.
"Ketidakpastian ini berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi, yang biasanya memicu rotasi dana ke aset safe haven dan menekan arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia," ujar Imam.
Meski demikian, kenaikan harga minyak dan batu bara dinilai dapat memberikan dukungan bagi sektor energi dan pertambangan di dalam negeri, khususnya jika harga komoditas tetap bertahan pada level tinggi.
Sebagai eksportir batu bara dan komoditas energi lainnya, Indonesia berpotensi memperoleh manfaat dari peningkatan harga jual rata-rata (ASP) serta perbaikan margin emiten di sektor terkait.
"Dalam kondisi global yang tidak pasti, saham berbasis komoditas sering kali menjadi proxy lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global," ujar Imam.
Namun di sisi lain, lonjakan harga energi yang terlalu tajam dan berkepanjangan berpotensi meningkatkan inflasi global serta menekan nilai tukar rupiah. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga minyak secara signifikan dapat memperbesar tekanan terhadap neraca transaksi berjalan akibat meningkatnya nilai impor migas, sekaligus mendorong volatilitas rupiah.
"Jika rupiah melemah dan imbal hasil obligasi global naik maka volatilitas IHSG bisa meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko," ujar Imam.
Dalam jangka pendek, Imam menilai arah pergerakan IHSG sangat bergantung pada apakah kenaikan harga energi tetap terkendali dan mendukung kinerja emiten komoditas, atau justru berubah menjadi tekanan inflasi yang mengganggu stabilitas makroekonomi.
Selain faktor geopolitik, dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat juga turut memengaruhi sentimen pasar.
Mahkamah Agung AS sebelumnya membatalkan sebagian tarif impor global yang diberlakukan pada era pemerintahan Donald Trump karena dinilai melampaui kewenangan hukum. Sebagai respons, Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen.
Di saat yang sama, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi terhadap panel surya dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan tarif berkisar antara 86 persen hingga 143,3 persen.
"Ketentuan tarif tinggi ini dapat menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS dan menambah tekanan pada neraca perdagangan sektor terkait," ujar Imam.
Dari dalam negeri, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings turut memperingatkan adanya peningkatan tekanan fiskal Indonesia. Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara diperkirakan telah atau berpotensi bertahan di atas level 15 persen, yang menjadi indikator penting dalam penilaian kesehatan fiskal. Jika kondisi tersebut berlanjut dalam jangka menengah, potensi penurunan peringkat kredit tetap terbuka meskipun outlook saat ini masih stabil.
"Peringatan ini menambah kehati-hatian investor dan pembuat kebijakan dalam menanggapi gejolak global sambil mengelola tantangan fiskal domestik," ujar Imam. (Ant/E-3)
Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) selama sepekan terakhir atau pada periode 23-27 Februari 2026 mengalami koreksi sebesar 0,44%.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan pada pekan ini (periode 2-6 Februari 2026).
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengungkapkan pada sepekan ke depan, indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan penguatan.
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memproyeksi indeks harga saham gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan menuju level 8.400. Ini akan ditopang masuknya arus modal asing.
INDEKS harga saham gabungan (IHSG) mencatat sejarah dengan menembus level tertinggi sepanjang masa. IHSG menguat 1,72% ke level 8.257,859 pada penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (10/10).
Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) selama sepekan terakhir atau pada periode 23-27 Februari 2026 mengalami koreksi sebesar 0,44%.
Tren investasi pada 2026 diproyeksikan semakin mengarah pada penguatan portofolio yang mampu bertahan di tengah gejolak pasar.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, sempat dibuka di zona hijau.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada pembukaan perdagangan Rabu, 25 Februari 2026, mengalami penguatan.
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) menegaskan posisinya sebagai pionir inovasi teknologi di industri pasar modal Indonesia melalui peluncuran versi terbaru LADI.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved