Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

IHSG Pekan Ini Diprediksi Fluktuatif imbas Konflik Iran vs AS

Andhika Prasetyo
02/3/2026 06:52
IHSG Pekan Ini Diprediksi Fluktuatif imbas Konflik Iran vs AS
ilustrasi(Antara)

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi pada pekan ini, seiring meningkatnya risiko geopolitik global.

"IHSG pekan ini berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi dengan support di 8.031 dan resistance di 8.437," ujar Imam dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.

Menurut Imam, eskalasi konflik Timur Tengah, Iran vs AS-Israel, serta ketegangan di kawasan Asia Selatan, turut meningkatkan premi risiko global. Kondisi ini diperparah oleh perkembangan situasi di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi energi dunia.

"Ketidakpastian ini berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi, yang biasanya memicu rotasi dana ke aset safe haven dan menekan arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia," ujar Imam.

Meski demikian, kenaikan harga minyak dan batu bara dinilai dapat memberikan dukungan bagi sektor energi dan pertambangan di dalam negeri, khususnya jika harga komoditas tetap bertahan pada level tinggi.

Sebagai eksportir batu bara dan komoditas energi lainnya, Indonesia berpotensi memperoleh manfaat dari peningkatan harga jual rata-rata (ASP) serta perbaikan margin emiten di sektor terkait.

"Dalam kondisi global yang tidak pasti, saham berbasis komoditas sering kali menjadi proxy lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global," ujar Imam.

Namun di sisi lain, lonjakan harga energi yang terlalu tajam dan berkepanjangan berpotensi meningkatkan inflasi global serta menekan nilai tukar rupiah. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga minyak secara signifikan dapat memperbesar tekanan terhadap neraca transaksi berjalan akibat meningkatnya nilai impor migas, sekaligus mendorong volatilitas rupiah.

"Jika rupiah melemah dan imbal hasil obligasi global naik maka volatilitas IHSG bisa meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko," ujar Imam.

Dalam jangka pendek, Imam menilai arah pergerakan IHSG sangat bergantung pada apakah kenaikan harga energi tetap terkendali dan mendukung kinerja emiten komoditas, atau justru berubah menjadi tekanan inflasi yang mengganggu stabilitas makroekonomi.

Selain faktor geopolitik, dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat juga turut memengaruhi sentimen pasar.

Mahkamah Agung AS sebelumnya membatalkan sebagian tarif impor global yang diberlakukan pada era pemerintahan Donald Trump karena dinilai melampaui kewenangan hukum. Sebagai respons, Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen.

Di saat yang sama, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi terhadap panel surya dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan tarif berkisar antara 86 persen hingga 143,3 persen.

"Ketentuan tarif tinggi ini dapat menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS dan menambah tekanan pada neraca perdagangan sektor terkait," ujar Imam.

Dari dalam negeri, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings turut memperingatkan adanya peningkatan tekanan fiskal Indonesia. Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara diperkirakan telah atau berpotensi bertahan di atas level 15 persen, yang menjadi indikator penting dalam penilaian kesehatan fiskal. Jika kondisi tersebut berlanjut dalam jangka menengah, potensi penurunan peringkat kredit tetap terbuka meskipun outlook saat ini masih stabil.

"Peringatan ini menambah kehati-hatian investor dan pembuat kebijakan dalam menanggapi gejolak global sambil mengelola tantangan fiskal domestik," ujar Imam. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya