Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

IPOT Hadirkan Teknologi Real-Time untuk Tingkatkan Presisi Keputusan Investasi

Insi Nantika Jelita
24/2/2026 20:39
IPOT Hadirkan Teknologi Real-Time untuk Tingkatkan Presisi Keputusan Investasi
President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The(IPOT)

PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) menegaskan posisinya sebagai pionir inovasi teknologi di industri pasar modal Indonesia melalui peluncuran versi terbaru LADI (Live Accumulation/Distribution Indicator), indikator akumulasi dan distribusi saham berbasis data real-time yang menjadi yang pertama dan satu-satunya tersedia bagi investor ritel di Indonesia.

Langkah ini secara tidak langsung menyoroti kelemahan struktural sebagian besar aplikasi sekuritas yang saat ini masih beroperasi sebagai data viewer, menampilkan indikator berbasis data historis atau snapshot, bukan engine analitik berbasis streaming real-time.

Melalui arsitektur yang hanya tersedia di IPOT ini, investor tidak lagi hanya melihat indicator berbasis data kemarin, tetapi memperoleh visibilitas langsung terhadap tekanan beli dan jual saat transaksi berlangsung, dan real-time.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah investor ritel, khususnya generasi milenial dan Gen Z, mengalami lonjakan signifikan. Namun di balik pertumbuhan tersebut, mayoritas platform sekuritas di Indonesia masih beroperasi dalam model data viewer: menampilkan indikator berbasis data historis, bukan mesin analitik berbasis streaming real-time.

Pendekatan ini mungkin terlihat sederhana dan ringan. Namun dalam pasar yang bergerak setiap detik, perbedaan antara indikator real-time dan indikator berbasis data masa lalu bukan sekadar teknis, melainkan perbedaan kualitas intelligence.

President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The, menyampaikan dalam pasar yang volatil, selisih waktu sekecil apa pun dapat berdampak langsung pada kualitas entry dan exit.

“Pasar bergerak setiap detik. Jika indikator yang digunakan investor tidak bergerak secepat pasar, maka akan muncul gap antara realitas dan persepsi. Dalam trading, gap tersebut dapat berarti masuk setelah momentum selesai atau keluar setelah distribusi terjadi," katanya dalam keterangan resmi.

IPOT kemudian menyoroti penggunaan indikator non-real-time bukan sekadar keterbatasan fitur, tetapi memiliki implikasi risiko yang nyata bagi investor ritel. Pertama, keterlambatan deteksi akumulasi atau distribusi dapat menyebabkan investor masuk ketika fase akumulasi sudah hampir selesai atau keluar setelah distribusi berlangsung. Momentum utama sering kali terjadi sebelum harga bergerak signifikan dan indikator berbasis data viewer berpotensi tertinggal.

Kedua, munculnya false sense of timing, yakni investor merasa telah membaca sinyal pasar, padahal indikator yang digunakan merepresentasikan kondisi historis, bukan tekanan yang sedang berlangsung.

Ketiga, indikator non-live mendorong trading reaktif berbasis harga, bukan berbasis tekanan underlying. Dalam kondisi volatilitas tinggi, pendekatan reaktif meningkatkan risiko kesalahan eksekusi.

Keempat, tanpa integrasi real-time dalam satu tampilan, investor dipaksa berpindah halaman untuk verifikasi tambahan, yang dalam praktiknya memperlambat proses analisis.

"Dalam konteks ini, IPOT menilai standar teknologi industri perlu berevolusi. Jika pasar bergerak real-time, maka indikator juga seharusnya real-time," kata Moleonoto

Mengembangkan indikator real-time dianggap bukan sekadar pembaruan tampilan antarmuka. Dibutuhkan infrastruktur data streaming berkecepatan tinggi, sistem low-latency, kemampuan algorithmic coding presisi tinggi, serta tim kuantitatif internal yang mampu merancang dan menguji model analitik secara berkelanjutan.

Tidak semua perusahaan sekuritas memiliki kapabilitas teknis tersebut, mengingat kompleksitas engineering dan kebutuhan investasi teknologi yang signifikan. Banyak platform memilih tetap pada model data viewer karena lebih sederhana dan lebih ringan secara sistem. Dengan menghadirkan Ladi ke investor retail, investor ritel kini memiliki akses terhadap alat presisi tinggi yang sebelumnya identik dengan pelaku pasar besar.

Masa depan industri sekuritas Indonesia diyakini akan berada pada model live intelligence, di mana kecepatan, presisi, dan kemampuan membaca tekanan pasar menjadi fondasi utama pengambilan keputusan investasi.

“Investor berhak mendapatkan teknologi yang selaras dengan dinamika pasar. Jika pasar bergerak real-time, indikator seharusnya juga real-time,” tutup Moleonoto. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya