Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
BERDASARKAN data dalam laporan Bank Rakyat Indonesia (BRI) terkait Keyakinan Konsumen Februari 2026, terlihat konsumen di Indonesia menunjukkan sikap semakin berhati-hati dalam mengelola pendapatan mereka. Hal ini tercermin dari meningkatnya porsi pendapatan yang dialokasikan untuk menabung serta kecenderungan memilih instrumen simpanan yang relatif aman.
Chiev Economist BRI Anton Hendranata menjelaskan, di tengah dinamika kondisi ekonomi, emas dan tabungan atau deposito masih menjadi pilihan utama masyarakat untuk menyimpan kelebihan pendapatan.
Data menunjukkan porsi penggunaan pendapatan untuk konsumsi mengalami penurunan secara bertahap. Pada Desember 2025 porsi konsumsi tercatat sebesar 74,3% kemudian turun menjadi 72,3% pada Januari 2026 dan kembali menurun menjadi 71,6% pada Februari 2026.
Sebaliknya, porsi pendapatan yang dialokasikan untuk menabung justru meningkat. Pada Desember 2025 porsi menabung berada di angka 14,9%, meningkat menjadi 16,5% pada Januari 2026, dan kembali naik.
"Pola penggunaan pendapatan semakin menunjukkan sikap kehati-hatian, tercermin dari kembali meningkatnya porsi menabung pada Februari 2026 ke 17,7%," ujar Anton dalam keterangannya, Kamis (12/3).
Ia menambahkan kenaikan minat menabung tidak hanya terjadi pada kelompok masyarakat tertentu, tetapi merata di berbagai lapisan rumah tangga. Pada Februari 2026, seluruh kelompok pengeluaran mencatatkan peningkatan porsi tabungan dibandingkan bulan sebelumnya.
Kelompok dengan pengeluaran hingga Rp2 juta mencatat kenaikan sekitar 1,2 poin persentase. Kelompok pengeluaran Rp2,1 juta hingga Rp3 juta meningkat sekitar 1,3 poin persentase, sementara kelompok Rp3,1 juta hingga Rp4 juta mencatat kenaikan paling tinggi sekitar 2,2 poin persentase. Pada kelompok pengeluaran Rp4,1 juta hingga Rp5 juta, porsi menabung meningkat sekitar 1,3 poin persentase, dan kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta juga mengalami kenaikan sekitar 1 poin persentase.
"Hal ini mengindikasikan preferensi menabung yang lebih kuat tidak hanya terjadi pada kelompok tertentu, tetapi merata di berbagai lapisan rumah tangga," terangnya.
Bagi perbankan, ungkap Anton, perilaku menabung yang semakin merata berpotensi menopang stabilitas dana pihak ketiga (DPK).
"Namun pada saat yang sama dapat mencerminkan sikap kehati-hatian konsumsi yang masih cukup luas di tingkat rumah tangga, sehingga pemulihan konsumsi domestik berpotensi masih berlangsung secara bertahap," tegasnya.
Lebih lanjut, ia berpandangan dalam memilih instrumen untuk menyimpan kelebihan pendapatan, mayoritas responden masih menjadikan tabungan atau deposito serta emas sebagai pilihan utama. Tabungan dan deposito tetap menjadi instrumen yang paling banyak dipilih meskipun persentasenya sedikit menurun, dari sekitar 44,2% pada Desember 2025 menjadi sekitar 37,9% pada Februari 2026.
Sementara itu, BRI mencatat minat terhadap emas justru meningkat dan berada di kisaran 41,3% responde pada Februari 2026.
"Menabung konsumen masih cenderung mengarah pada instrumen lindung nilai, tercermin dari minat terhadap emas yang tetap tinggi," pungkas Anton. (Ins/P-3)
Harga emas Antam hari ini, Senin (9/3/2026), turun tajam ke level Rp3.004.000 per gram. Simak rincian harga buyback dan analisis harga emas dunia terkini.
Prediksi harga emas dalam seminggu berpotensi melonjak ke Rp3,15 juta. Simak analisis sentimen geopolitik Selat Hormuz dan dampaknya ke logam mulia.
Kolaborasi Memperkuat Ketersediaan Bahan Baku Emas Domestik
IHSG tertekan tajam 2,65% pada 2 Maret 2026 akibat eskalasi konflik AS-Iran yang memicu lonjakan harga minyak dan emas.
INDEKS Harga Saham Gabungan atau IHSG 2 Maret 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah di kawasan Asia. IHSG ditutup melemah 218,65 poin atau 2,66 persen ke posisi 8.016,83.
Saham selama ini identik dengan investasi berisiko tinggi dan berorientasi jangka pendek.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Juli 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan tabungan masyarakat dengan nominal di bawah Rp100 juta hanya mencapai 4,76% (yoy).
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa disarankan buka-bukaan data terkait dengan dana beberapa pemerintah daerah (pemda) yang diklaim mengendap di bank.
MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan melakukan investigasi internal terkait penempatan dana pemerintah dalam jumlah besar di deposito
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) melakukan penyesuaian imbal hasil untuk produk Deposito Valuta Asing (valas) denominasi dolar AS (US$).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved