Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Orangtua Tolak Autopsi, Dugaan Malapraktik Puskesmas Pasar Rebo Masih Misteri

Ilham Wibowo
23/5/2016 11:11
Orangtua Tolak Autopsi, Dugaan Malapraktik Puskesmas Pasar Rebo Masih Misteri
()

KASUS dugaan malapraktik yang menimpa seorang bayi berusia lima bulan usai melakukan imunisasi DPT 3 di Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur masih misteri. Polisi terkendala proses autopsi.

Bayi bernama Rasqa Al Kholifi meninggal dunia pada 18 Mei lalu. Kasat Reskrim Jakarta Timur AKBP Nasriadi mengatakan pihaknya kesulitan meningkatkan proses penyelidikan. Pasalnya, orangtua bayi tersebut tidak berkenan dilakukan proses autopsi.

"Dari awal, kami sudah menyampaikan dan menjelaskan, untuk melanjutkan proses secara hukum, almarhum harus diautopsi. Tetapi orangtua tidak mau lantaran tidak berkenan," kata Nasriadi, Senin (23/5)

Nasriadi mengatakan proses autopsi menjadi jalan satu-satunya jalan guna mengetahui penyebab pasti kematian bayi Rasqa.

Meski sudah dijelaskan, kata Nasriadi, orangtua bayi tersebut tetap menolak. Bahkan, surat peryataan yang isinya tidak akan menuntut secara hukum lantaran tidak melakukan autopsi sudah dibuat dan ditandatangani.

"Apabila kasus ini akan ditingkatkan menjadi penyidikan. Korban dalam kasus ini sudah meninggal. Kita harus melakukan bedah mayat, artinya autopsi," kata Nasriadi.

Dugaan kasus malapraktik itu berawal pada 11 Mei lalu, saat orangtua bayi Rasqa bernama Agung Pamuji, 27, berkunjung ke Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo untuk imunisasi DPT 3 bagi Rasqa. Usai diimunisasi pada hari pertama dan kedua, Rasqa mengalami demam tinggi hingga 38 derajat.

"Karena demam tinggi, kami bawa ke klinik umum. Disarankan harus cek darah di tempat berobat awal di puskesmas," ucapnya seperti dikutip Media Indonesia beberapa waktu yang lalu.

Dari penjelasan Agung, dokter klinik umum tidak berani mengecek darah lantaran bukan pihak klinik yang mendiagnosis awal penyakitnya.

Kemudian Agung kembali membawa anaknya ke UGD Puskesmas Pasar Rebo pada Minggu (15/5) sekitar pukul 20.00 WIB.

Namun, kata Agung, dokter puskesmas tidak mau memeriksa darah korban. Padahal ia sudah berulang kali meminta agar dilakukan cek darah anaknya.

Dokter puskesmas pun hanya memberikan obat antibiotik dan obat penurun panas untuk diminum di rumah. Demam Rasqa mulai sedikit turun.

Namun, pada Rabu (18/5) pagi sekitar pukul 6.00 WIB bayi Raqsa kembali demam tinggi dan mengalami sesak nafas.

Keluarga kemudian membawanya ke RS Harapan Bunda. Namun, nyawa Rasqa tidak tertolong. (MTVN/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya