Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

IHSG Hari Ini 10 Maret 2026: Menguat Seiring Konflik Timur Tengah Mereda

Andhika Prasetyo
10/3/2026 10:13
IHSG Hari Ini 10 Maret 2026: Menguat Seiring Konflik Timur Tengah Mereda
ilustrasi(Antara)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Selasa, 10 Maret 2026, dibuka menguat mengikuti pergerakan bursa global, didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik dengan Iran. IHSG hari ini dibuka naik 105,68 poin atau 1,44% ke level 7.443,05. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga menguat 9,98 poin atau 1,33% ke posisi 760,56.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan sentimen pasar membaik setelah pernyataan Trump yang mengindikasikan operasi militer terhadap Iran hampir selesai.

“Pernyataan tersebut menurunkan premi risiko geopolitik dan memicu aksi short covering serta pembelian saat harga turun di pasar saham,” ujar Liza dalam risetnya di Jakarta.

Trump sebelumnya menyebut operasi militer terhadap Iran telah berjalan “very complete” dan konflik berlangsung lebih cepat dari perkiraan awal yang diperkirakan mencapai empat hingga lima minggu.

Harga Minyak Turun Tajam

Penguatan pasar saham global juga dipicu oleh penurunan harga minyak dunia yang sebelumnya sempat mendekati US$120 per barel, namun kemudian turun ke kisaran US$90 per barel. Penurunan harga minyak terjadi setelah muncul laporan bahwa negara-negara G7 tengah membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis untuk menambah pasokan global.

Pada perdagangan pagi pukul 09.20 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun 9,99 persen menjadi US$85,30 per barel, sementara minyak Brent turun 10,40 persen ke level US$88,67 per barel.

Selain itu, Amerika Serikat memberikan pengecualian sementara selama 30 hari untuk memungkinkan penjualan minyak Rusia yang tertahan di laut kepada India. Pemerintah AS juga mempertimbangkan pelepasan minyak dari Strategic Petroleum Reserve, yang saat ini menyimpan sekitar 415 juta barel minyak.

Risiko Pasar Masih Tinggi

Meski sentimen pasar mulai membaik, Liza memperkirakan volatilitas masih akan tinggi karena pasar tetap mencermati dua risiko utama. Risiko pertama adalah potensi gangguan pasokan energi dari Selat Hormuz, jalur strategis yang menyalurkan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Risiko kedua adalah kemungkinan stagflasi, setelah data tenaga kerja Amerika Serikat pekan lalu menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

Saat ini pasar memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada Juli sekitar 77 persen, berdasarkan indikator Fed Funds Futures, dengan pemangkasan suku bunga secara penuh diproyeksikan terjadi pada September.

Sejumlah negara juga mulai mengambil langkah untuk meredam dampak lonjakan harga energi. Tiongkok membatasi harga bahan bakar domestik, Korea Selatan mempertimbangkan kebijakan serupa untuk pertama kalinya dalam hampir 30 tahun, sementara Jepang menyiapkan kemungkinan pelepasan cadangan minyak serta penggunaan dana darurat pemerintah.

Di sisi lain, Pakistan menutup sekolah selama dua minggu dan mendorong kebijakan kerja dari rumah untuk menekan konsumsi bahan bakar. Sementara Hungaria menetapkan batas harga bahan bakar dan mendesak Uni Eropa untuk menangguhkan sanksi energi terhadap Rusia. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya