Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Melemah Ikuti Bursa Asia, IHSG Dibuka Turun Lebih dari 2%

Media Indonesia
09/3/2026 11:05
Melemah Ikuti Bursa Asia, IHSG Dibuka Turun Lebih dari 2%
Ilustrasi(MI/Usman Iskandar)

Judul:
IHSG Terkoreksi Ikuti Bursa Asia, Lonjakan Harga Minyak Global Tekan Sentimen Pasar

Lead:
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah pada perdagangan Senin (9/3). Penurunan ini sejalan dengan tekanan yang terjadi di mayoritas bursa saham Asia, dipicu lonjakan harga minyak dunia serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.


PADA awal sesi perdagangan, IHSG turun cukup dalam. IHSG dibuka melemah 211,38 poin atau 2,79% ke level 7.374,31. Sementara itu, indeks yang berisi 45 saham unggulan, LQ45, ikut terkoreksi 22,31 poin atau 2,87% ke posisi 753,74.

 

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengingatkan pelaku pasar untuk mencermati volatilitas yang masih tinggi.

"Kiwoom Research ingatkan para investor bahwa volatilitas masih akan tinggi sepekan ini, dengan risiko konsolidasi lanjutan ke arah 7.335. Perbanyak sikap wait and see sambil perhatikan sentimen global," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin (9/3)


Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Energi

Tekanan terhadap pasar saham global dipicu meluasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Ketegangan yang meningkat memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Dalam kondisi tersebut, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang lebih aman dan likuid. Dampaknya, dolar AS menguat sementara saham dan instrumen berisiko lainnya mengalami tekanan.

Ketidakpastian geopolitik juga meningkat setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Supreme Leader baru, menggantikan Ayatullah Ali Khamenei yang sebelumnya dilaporkan tewas.

Langkah tersebut dinilai memperkuat persepsi pasar bahwa Iran kemungkinan tidak akan segera melunak dalam konflik dengan AS dan Israel. Kondisi ini meningkatkan risiko eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.


Harga Minyak Melonjak di Atas US$109 per Barel

Eskalasi konflik serta gangguan pelayaran di Selat Hormuz turut mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Pada pukul 07.50 WIB, harga minyak Crude Oil WTI tercatat naik 20,81% ke level US$109,82 per barel. Sementara itu, Brent Oil meningkat 18,17% menjadi US$109,53 per barel.

Kenaikan tajam harga energi tersebut berpotensi memicu tekanan inflasi global.

"Lonjakan harga energi meningkatkan risiko inflasi global serta dapat menekan pertumbuhan ekonomi melalui kenaikan harga bahan bakar dan biaya produksi. Beberapa produsen energi Timur Tengah mulai mengurangi produksi akibat gangguan rantai pasokan," ujar Liza.


Hubungan Dagang AS-Tiongkok Masih Rapuh

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati dinamika hubungan perdagangan antara AS dan Tiongkok. Kedua negara dijadwalkan menggelar pertemuan tingkat tinggi pada akhir Maret 2026.

Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping diperkirakan lebih berfokus pada menjaga stabilitas hubungan ekonomi, bukan melakukan perombakan besar dalam kerja sama perdagangan dan investasi.

AS mendorong Tiongkok tetap memenuhi komitmen dalam kesepakatan dagang, termasuk pembelian produk pertanian AS, pesawat Boeing, serta pasokan rare earth.

Salah satu agenda yang berpotensi dibahas adalah rencana pembelian sekitar 500 pesawat narrow-body Boeing oleh Tiongkok.


Pasar Menanti Data Inflasi AS

Menurut Liza, pergerakan pasar global pada pekan ini akan sangat dipengaruhi dua faktor utama, yakni perkembangan konflik di Timur Tengah dan rilis data inflasi Amerika Serikat.

Pelaku pasar menunggu publikasi Consumer Price Index (CPI) AS untuk Februari 2026. Jika inflasi tercatat lebih tinggi dari perkiraan, peluang penurunan suku bunga oleh bank sentral AS berpotensi tertunda.

Saat ini, probabilitas pemangkasan suku bunga sekitar 25 basis poin (bps) pada Juni 2026 diperkirakan berada di kisaran 45%.


Dampak ke Fiskal Indonesia

Di dalam negeri, pemerintah mulai menghitung potensi dampak lonjakan harga minyak terhadap kondisi fiskal.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan bahwa apabila harga minyak rata-rata mencapai US$92 per barel, defisit APBN berpotensi melebar.

Defisit anggaran diperkirakan dapat meningkat hingga 3,6-3,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB) jika tidak ada kebijakan penyesuaian.

Pemerintah sendiri menargetkan defisit tetap berada di bawah batas 3% dari PDB sesuai kerangka disiplin fiskal.


Dinamika Geopolitik Indonesia

Dari sisi geopolitik, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Indonesia dapat menarik diri dari inisiatif Board of Peace yang diusulkan Presiden AS Donald Trump apabila tidak memberikan manfaat bagi Palestina maupun kepentingan nasional Indonesia.

Pemerintah juga menunda pembahasan lanjutan mengenai pembentukan pasukan stabilisasi Gaza yang didukung PBB hingga kondisi konflik di kawasan tersebut mereda.


Bursa Global Kompak Melemah

Tekanan pasar tidak hanya terjadi di Asia. Bursa saham Eropa pada perdagangan Jumat (6/3) juga ditutup di zona merah.

Indeks Euro Stoxx 50 turun 1,09%, FTSE 100 Inggris melemah 1,24%, DAX Jerman turun 0,94%, dan CAC Prancis terkoreksi 0,65%.

Hal serupa terjadi di Wall Street. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,95% ke 47.501,55, S&P 500 melemah 1,33% ke 6.740,02, dan Nasdaq Composite turun 1,59% ke 22.387,68.

Pada perdagangan Asia pagi ini, penurunan cukup dalam juga terjadi di sejumlah indeks utama. Nikkei merosot 4.185,60 poin atau 7,53% ke 51.435,00. Sementara itu, indeks Shanghai turun 57,98 poin atau 1,41% ke 4.066,70, Hang Seng melemah 797,78 poin atau 3,10% ke 24.959,26, dan Strait Times terkoreksi 148,93 poin atau 3,07% ke 4.699,68. (Ant/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya