Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
OTORITAS Jasa Keuangan bersama perwakilan self-regulatory organization (SRO) yakni Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) melaksanakan pertemuan secara daring dengan indeks provider global yaitu Morgan Stanley Capital International (MSCI), Senin (2/2) sore. Pertemuan tersebut juga disaksikan perwakilan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (KE PMDK) OJK Hasan Fawzi menerangkan, OJK bersama BEI dan KSEI mengajukan proposal solusi. Pada prinsipnya hal itu menjawab keseluruhan concern dan isu terkait transparansi dengan pengungkapan Ultimate Beneficial Ownership (UBO) dan terkait likuiditas untuk mendorong peningkatan free float.
"Kami sudah memiliki rencana untuk melakukan pemenuhan atas semua isu yang terkait, yaitu terkait dengan disclosure atas kepemilikan pemegang saham dengan porsi di bawah 5% yang kita komitkan untuk dapat dilakukan kepemilikan saham di atas bahkan 1%," papar Hasan dalam konferensi pers di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2).
Kemudian, klasifikasi investor akan dibuat lebih rinci pada data yang selama ini dilakukan pengelolaannya di KSEI. "Saat ini terbatas hanya di sembilan tipe investor utama tetapi nanti akan dirinci menjadi 27 subtipe investor. Ini akan lebih memunculkan klarifikasi dan kredibilitas pengungkapan beneficial ownership dari kepemilikan saham tersebut," jelasnya.
OJK juga sudah menyampaikan proposal terkait rencana kenaikan free float dari pengaturan saat ini minimum 7,5% menjadi 15%. Pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap dan dilakukan bersama seluruh pelaku.
Hasan mengatakan diskusi pada pertemuan dengan MSCI itu berlangsung dengan sangat baik. Pihaknya mencanangkan akan melangsungkan kembali pembahasan pada level pertemuan tingkat teknis.
"Bahkan dari pihak MSCI menyediakan diri untuk memberikan guidance pada saat menjelaskan bagaimana metodologi dan cara perhitungan yang akan mereka lakukan pada akhirnya," paparnya. "Kami bersepakat akan melakukan regular update kepada publik terkait dengan progres yang kami komitkan untuk disediakan sebagai bagian dari menghadirkan transparansi dimaksud."
Pihaknya berharap hal ini menjadi progres yang baik. "Yang pada saat evaluasi akhir, kita berharap akan mendapatkan konfirmasi penerimaan pada saat itu," tutupnya.
Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara Pandu Sjahrir yang turut menyaksikan pertemuan tersebut mengatakan rapat MSCI berjalan dengan baik dan konstruktif.
"Sekarang memang the devil is in the details. Harus detail nanti ke depan. Tentu kami sebagai market participant juga merasa ini sesuatu yang nanti tentu akan makin baik buat pasar modal kita," ujar Pandu.
Dari observasinya, secara makro pasar di Asia memang sedang mengalami tekanan serta komoditas juga sedang mengalami tekanan.
"Melihat hari ini mungkin dari sisi investor terjadi rebalancing. Ada uninvestable asset yang dibicarakan oleh MSCI itu. Sekarang kalau dilihat ialah peningkatan investment dari institusi, baik dari dalam dan luar negeri untuk saham-saham dengan ciri-ciri: memiliki fundamental yang baik, memiliki likuiditas yang baik, dan memiliki valuasi yang baik dan cashflow yang baik," papar Pandu.
"Itu bisa dilihat dari top 20 stocks yang mengalami peningkatan dan top 20 stocks yang mengalami penurunan. Jadi ini perlu dilihat secara makro saja bukan hanya di level Indonesia alone," imbuhnya. (I-2)
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memandang krisis kepercayaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai momentum untuk melakukan reformasi menyeluruh.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin (2/2/2026) dengan pergerakan di zona merah.
Ekonom keuangan dan praktisi pasar modal Hans Kwee memproyeksikan pasar saham Indonesia akan memasuki fase pemulihan secara bertahap pada pekan depan.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani memproyeksikan IHSG hari ini berpeluang mengalami rebound pada perdagangan Senin (2/2).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diproyeksi masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (2/2). Sentimen utama tentunya berasal dari faktor domestik.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana mendetailkan data investor yang tercatat baik di BEI maupun di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)
Pemerintah memastikan langkah evaluasi bersama OJK dan BEI segera dilakukan untuk merespons tekanan IHSG.
Panduan lengkap MSCI 2026 untuk investor Indonesia. Cek daftar saham konstituen terbaru, jadwal rebalancing, dan isu risiko turun status ke Frontier Market.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved