Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

IHSG Hari Ini 4 Maret 2026: Diprediksi Melemah imbas Konflik Global

Andhika Prasetyo
04/3/2026 08:28
IHSG Hari Ini 4 Maret 2026: Diprediksi Melemah imbas Konflik Global
ilustrasi(Antara)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak melemah terbatas pada perdagangan Rabu, 4 Maret 2026), seiring pelaku pasar yang masih mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel masih menjadi sentimen utama yang membayangi pasar.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG hari ini berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 7.860–8.150,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.

Konflik Timur Tengah dinilai masih memicu sentimen negatif di pasar global. Investor masih memantau perkembangan konflik yang berpotensi mengganggu stabilitas energi dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyatakan pemerintahnya siap memberikan jaminan asuransi serta pengawalan angkatan laut bagi kapal tanker minyak dan kapal lain yang melintas di Selat Hormuz.

Langkah tersebut bertujuan mencegah gangguan distribusi energi global yang dapat memicu krisis energi serta lonjakan inflasi.

“Perang masih berlanjut, dan menurut kami pelaku pasar dan investor masih memiliki perspektif negatif terhadap hal tersebut, sehingga masih mendorong pasar saham dan obligasi global mengalami penurunan,” kata Nico.

Kebijakan Tarif AS Juga Jadi Perhatian

Selain konflik geopolitik, pasar juga mencermati kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Trump disebut tengah menyiapkan tarif baru untuk menggantikan tarif bea masuk yang sebelumnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS.

Tarif baru tersebut diperkirakan sedikit lebih tinggi dibandi%ngkan tarif yang sebelumnya disepakati dengan sejumlah mitra dagang melalui kesepakatan bilateral.

Dari dalam negeri, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) resmi merilis informasi kepemilikan saham perusahaan tercatat di atas 1.

Data tersebut akan dipublikasikan setiap bulan melalui situs resmi BEI agar investor dapat memperoleh referensi yang lebih akurat dalam mengambil keputusan investasi.

Langkah ini juga diharapkan dapat meningkatkan transparansi serta memperkuat kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.

Kebijakan Harga Nikel Berpotensi Dorong Emiten Tambang

Sementara itu, Asosiasi Pertambangan Nikel Indonesia (APNI) mengungkapkan bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan menerbitkan peraturan baru terkait Harga Mineral Acuan (HMA) nikel pada Maret 2026. Regulasi tersebut akan mengubah formula Harga Patokan Mineral (HPM) agar turut memperhitungkan kandungan mineral lain seperti besi dan kobalt.

Menurut APNI, formula lama menyebabkan potensi kerugian hingga 6,3 miliar dolar AS dalam dua tahun terakhir.

Meski kebijakan tersebut diperkirakan menjadi sentimen positif bagi perusahaan tambang nikel di sektor hulu, kenaikan harga bijih juga berpotensi meningkatkan biaya bahan baku bagi industri smelter domestik.

“Secara pasar, kebijakan ini cenderung menjadi sentimen positif bagi emiten tambang nikel hulu, meski dampaknya bisa lebih terbatas atau netral bagi pelaku,” tandas Nico.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya