Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

IHSG Hari Ini: Menguat di Tengah Konflik Timur Tengah

Andhika Prasetyo
03/3/2026 10:14
IHSG Hari Ini: Menguat di Tengah Konflik Timur Tengah
ilustrasi(Antara)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (3/3) di tengah sikap pelaku pasar yang masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Pada awal sesi, IHSG hari ini naik 43,04 poin atau 0,54% ke level 8.059,87. Indeks saham unggulan LQ45 juga menguat 5,20 poin atau 0,64% ke posisi 817,69.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyebut investor saat ini tengah mempertimbangkan apakah gejolak yang terjadi merupakan guncangan jangka pendek atau konflik yang berpotensi berlangsung lama.

“Investor kini menimbang apakah ini shock jangka pendek atau konflik yang berlarut,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Menurut Liza, perhatian utama pasar tertuju pada potensi gangguan pasokan energi serta risiko inflasi baru. Secara historis, pasar saham global cenderung pulih relatif cepat pasca konflik, kecuali jika terjadi lonjakan harga energi yang berkepanjangan.

Konflik memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran. Iran kemudian membalas dengan serangan ke Israel, Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, serta pangkalan militer AS di kawasan. Situasi ini memicu gelombang sentimen risk-off di pasar global.

Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer dapat berlangsung 4–5 pekan atau bahkan lebih lama jika diperlukan. Di sisi lain, Iran menegaskan tidak akan melakukan negosiasi dengan AS.

Sentimen Domestik Turut Diperhitungkan

Dari dalam negeri, sejumlah data ekonomi turut menjadi perhatian investor.

Indeks PMI Manufaktur Indonesia meningkat ke level 53,8 pada Februari 2026, naik dari 52,6 pada Januari. Kenaikan ini didorong lonjakan permintaan baru yang mendorong pertumbuhan produksi tercepat sejak awal 2024 serta ekspansi selama tujuh bulan berturut-turut, termasuk kenaikan pesanan ekspor tercepat sejak Mei 2022.

Namun, surplus neraca perdagangan Indonesia Januari 2026 menyusut signifikan menjadi 0,95 miliar dolar AS dibandingkan 3,49 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penyusutan ini terjadi di tengah lonjakan impor 18,21% (year on year) menjadi 21,2 miliar dolar AS, sementara ekspor hanya naik 3,39 persen menjadi 22,16 miliar dolar AS.

Sementara itu, tekanan inflasi juga meningkat. Inflasi Februari 2026 tercatat 0,68% secara bulanan (month to month), berbalik dari deflasi 0,15% pada Januari. Secara tahunan, inflasi mencapai 4,76% (year on year), naik dari 3,55% dan menjadi level tertinggi sejak Maret 2023.

Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, pelaku pasar diperkirakan masih akan bergerak selektif sambil memantau perkembangan konflik dan stabilitas harga energi global. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya