Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN yang semakin memanas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) kini tidak hanya menjadi persoalan politik, tetapi juga mengarah pada risiko ekonomi global. Pasar saham langsung merespons dengan pola risk-off, di mana investor cenderung mengurangi eksposur mereka terhadap pasar yang lebih berisiko, termasuk negara-negara berkembang.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan, dalam kondisi ini, pasar modal Indonesia berisiko mengalami tekanan dari dua sisi.
"Investor asing kemungkinan akan mengurangi eksposur mereka di pasar negara berkembang seperti Indonesia, yang dapat memicu capital outflow," ujar Hendra pada Media Indonesia, Senin (2/3).
Menurut Hendra, lonjakan harga energi, khususnya minyak, menjadi perhatian besar. "Jika harga minyak bertahan tinggi, ini bisa menyebabkan inflasi impor yang mengarah pada kenaikan biaya produksi, yang akhirnya dapat menekan margin emiten," tambahnya.
Adapun, kata Hendra, dampak dari kondisi geopolitik ini diperkirakan akan menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG hari ini berpotensi bergerak melemah dan menguji support klasik di level 8.133. Jika level tersebut tembus, area psikologis 8.000 akan menjadi support berikutnya, dengan resistance terdekat di 8.300.
Namun, meski sebagian besar sektor berpotensi terdampak, sektor berbasis komoditas justru dapat menjadi penopang di tengah ketidakpastian ini.
Kenaikan harga emas dan minyak memberikan peluang untuk saham-saham komoditas.
"Saham MDKA dapat mencapai target harga 3.900, sedangkan ANTM berpotensi naik ke harga 4.500," kata analis tersebut.
Di sektor energi, beberapa saham juga menarik perhatian, seperti ELSA yang diprediksi dapat mencapai harga 900, ENRG yang memiliki target harga 1.900, dan AKRA yang bisa menjadi speculative buy dengan target harga 1.400. Sementara itu, SOCI, seiring dengan meningkatnya aktivitas dan tarif pengangkutan energi, juga patut dicermati sebagai trading buy dengan target harga 750.
Bagi investor ritel, sikap terbaik adalah tetap disiplin dan selektif dalam memilih saham.
"Bagi investor dengan profil agresif, sektor komoditas menawarkan peluang besar, namun harus didukung oleh manajemen risiko yang ketat. Sementara bagi investor konservatif, strategi wait and see tetap relevan sambil terus memantau perkembangan konflik dan arus dana asing," jelas Hendra.
Hendra berpesan, dengan situasi geopolitik yang penuh ketidakpastian, kunci sukses dalam berinvestasi saat ini adalah kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko agar tetap terkendali. (Z-10)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (2/3) pagi dibuka melemah seiring tekanan dari bursa saham Asia, yang dipicu meningkatnya konflik Iran vs AS.
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak fluktuatif sepanjang pekan ini.
IHSG ditutup menguat tipis ke 8.235 pada Jumat (27/2). Simak analisis sentimen fiskal S&P, rebalancing MSCI, dan jadwal data ekonomi penting pekan depan.
Pasar saham Indonesia, meskipun dibayangi penurunan IHSG sebesar 1,44% pada Kamis, 26 Februari 2026, tetap menyuguhkan kejutan.
IHSG turun 1,05% akibat kekhawatiran kebijakan tarif AS. Temukan saham-saham yang paling terpengaruh dalam penurunan ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved