Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

IHSG Hari Ini 2 Maret 2026: Melemah Terdampak Perang Iran vs AS

Andhika Prasetyo
02/3/2026 10:16
IHSG Hari Ini 2 Maret 2026: Melemah Terdampak Perang Iran vs AS
ilustrasi(Antara)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (2/3) pagi dibuka melemah seiring tekanan dari bursa saham Asia, yang dipicu meningkatnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. IHSG turun 23,95 poin atau 0,29% ke level 8.211,31. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga melemah 2,99 poin atau 0,36% ke posisi 834,90.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyarankan investor untuk bersikap lebih berhati-hati dalam menghadapi kondisi pasar saat ini.

“Kiwoom Research sarankan untuk kurangi posisi portofolio dan perbanyak sikap wait and see untuk sementara waktu,” ujar Liza di Jakarta, Senin.

Menurutnya, konflik Timur Tengah menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan IHSG hari ini. Liza menjelaskan bahwa sektor energi dan logam mulia cenderung menjadi pilihan defensif di tengah ketidakpastian, sementara ekuitas global dan aset berisiko menghadapi potensi volatilitas tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

"Fokus utama investor, yaitu durasi konflik dan tingkat eskalasi, stabilitas Selat Hormuz, dan arah harga minyak di atas US$90-US$100 per barrel," ujarnya.

Meski demikian, berkaca pada konflik Rusia-Ukraina pada 2022, pasar Indonesia yang berbasis komoditas dinilai berpotensi memperoleh manfaat dari kenaikan harga komoditas global.

Tekanan pasar juga terlihat di kawasan Asia, di mana sejumlah bursa saham mengalami pelemahan. Bursa Kuwait bahkan sempat menghentikan perdagangan, sementara Uni Emirat Arab menutup pasar sahamnya pada Senin dan Selasa menyusul serangan Iran.

Dari Eropa, Uni Eropa menyerukan maximum restraint, perlindungan warga sipil, serta penghormatan terhadap hukum internasional guna mencegah eskalasi konflik yang dapat mengganggu Selat Hormuz dan memicu dampak ekonomi global.

Di dalam negeri, pelaku pasar juga menanti rilis data inflasi Februari 2026 serta neraca perdagangan Januari 2026 yang diperkirakan mencatat surplus sebesar 2,76 miliar dolar AS, dengan indikasi pertumbuhan pada aktivitas impor dan ekspor. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya