Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

IHSG Terancam Ambles ke 8.000 Imbas Perang Iran vs AS-Israel

 Gana Buana
01/3/2026 19:10
IHSG Terancam Ambles ke 8.000 Imbas Perang Iran vs AS-Israel
Analis ingatkan risiko IHSG tertekan konflik Timur Tengah.(MI/Usman Iskandar)

PASAR modal Indonesia kini berada dalam bayang-bayang risiko besar seiring memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Analis memperingatkan potensi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan pertama Maret 2026, menyusul aksi militer yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengungkapkan bahwa memanasnya tensi di kawasan tersebut bukan lagi sekadar isu politik, melainkan telah menjadi risiko ekonomi global yang nyata.

"Pasar langsung merespons dengan pola risk-off. Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan di aset safe haven," ujar Hendra dilansir dari Antara, Minggu (1/3).

Ancaman Jalur Logistik Selat Hormuz

Hendra menyoroti posisi strategis Selat Hormuz sebagai urat nadi perdagangan minyak dunia. Apabila eskalasi konflik mengganggu arus kapal tanker di kawasan tersebut, harga minyak global dipastikan akan melonjak lebih tinggi karena pasar menghitung ulang risiko pasokan.

Berdasarkan data terkini per 1 Maret 2026, harga minyak mentah Brent telah naik ke level US$72,87 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi US$67,02 per barel.

"Dampaknya bisa menjalar ke inflasi global, nilai tukar mata uang rupiah, hingga kebijakan suku bunga di berbagai negara," tambahnya.

Data Pasar Penutupan Februari 2026

IHSG 8.235,49 (Stagnan)
Indeks LQ45 834,36 (Turun 0,42%)
Nilai Transaksi Rp38,24 Triliun
Harga Emas Antam Rp3.085.000/gram

Prediksi IHSG: Menguji Support Psikologis

Bagi pasar modal Indonesia, tekanan diprediksi datang dari dua sisi utama. Pertama, potensi capital outflow (arus modal keluar) karena investor asing cenderung mengurangi eksposur di pasar negara berkembang (emerging markets). Kedua, risiko inflasi impor akibat lonjakan harga energi global.

Hendra memprediksi IHSG berpotensi bergerak melemah dan menguji support klasik di level 8.133 pada perdagangan pekan depan.

"Jika level tersebut jebol, area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya. Sementara resistance terdekat berada di level 8.300," jelasnya.

Strategi Investasi di Tengah Konflik

Meskipun mayoritas sektor tertekan, Hendra melihat adanya peluang di sektor komoditas. Lonjakan harga minyak dan gas biasanya memberikan dampak positif bagi emiten energi dan tambang.

Bagi investor ritel, ia menyarankan beberapa langkah strategis:

  • Profil Agresif: Manfaatkan momentum di sektor komoditas dengan manajemen risiko (stop loss) yang ketat.
  • Profil Konservatif: Strategi wait and see tetap relevan sambil memantau perkembangan konflik dan arah arus dana asing.
  • Diversifikasi: Pertimbangkan aset aman seperti emas batangan yang harganya cenderung naik saat terjadi ketidakpastian geopolitik.

"Dalam situasi geopolitik yang panas, kunci utamanya bukan sekadar masuk atau keluar pasar, melainkan kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko agar tetap terkendali," tutup Hendra. (Ant/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya