Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

MUI Serukan Penghentian Konflik Timur Tengah di Momentum Ramadan

Ferdian Ananda Majni
01/3/2026 16:37
MUI Serukan Penghentian Konflik Timur Tengah di Momentum Ramadan
ilustrasi.(Freepik.)

DI tengah suasana bulan suci Ramadan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan duka mendalam atas jatuhnya korban dalam eskalasi konflik di Timur Tengah. MUI menilai momentum Ramadan seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat nilai perdamaian dan kemanusiaan, bukan sebaliknya.

Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah Muhammad Cholil Nafis menegaskan bahwa tindakan militer yang menimbulkan korban jiwa bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan hukum internasional.

"Kami menyampaikan duka cita atas jatuhnya korban. Tindakan militer yang melanggar nilai kemanusiaan dan hukum internasional tidak bisa dibenarkan dalam kondisi apa pun," kata Cholil Nafis dalam pernyataannya, Minggu (1/3).

Ia menekankan bahwa ketertiban dunia harus dijaga berdasarkan prinsip keadilan dan perdamaian sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Menurutnya, Indonesia memiliki komitmen konstitusional untuk turut menjaga perdamaian dunia dan menolak segala bentuk penjajahan maupun agresi.

MUI memandang rangkaian serangan dan aksi balasan yang terjadi saat ini berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas dan memperdalam ketidakstabilan kawasan.

Cholil menilai situasi tersebut tidak dapat dipisahkan dari konfigurasi geopolitik yang lebih besar, termasuk keterkaitannya dengan konflik Israel-Palestina yang hingga kini belum menemukan solusi permanen.

"Rangkaian serangan dan balasan ini berisiko memperluas konflik dan menambah penderitaan rakyat sipil. Ini bukan sekadar insiden sesaat, tetapi bagian dari persoalan geopolitik yang kompleks dan saling berkaitan," tegasnya.

Karena itu, MUI mendorong penghentian segera aksi militer, penghormatan terhadap kedaulatan negara, serta perlindungan maksimal terhadap warga sipil sesuai hukum humaniter internasional.

Cholil menegaskan bahwa warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, tidak boleh menjadi korban dari rivalitas politik dan militer antarnegara.

Lebih lanjut, MUI mengajak umat Islam memperbanyak doa dan memperkuat solidaritas kemanusiaan selama Ramadan. Ia menyebut bulan suci sebagai momentum refleksi spiritual sekaligus penguatan komitmen terhadap nilai rahmatan lil ‘alamin.

"Di bulan suci ini, mari kita perbanyak doa dan memperkuat solidaritas kemanusiaan. Perdamaian harus menjadi cita-cita bersama umat manusia," ujarnya.

MUI juga menyerukan kepada pemerintah Indonesia, PBB, dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mengambil langkah konkret dalam meredakan ketegangan dan mencegah meluasnya perang. Diplomasi aktif serta pendekatan multilateral dinilai sebagai kunci menghentikan spiral kekerasan.

Menurut Cholil, peperangan hanya akan membawa kerusakan dan kemudaratan yang meluas, baik dari sisi kemanusiaan, ekonomi, maupun sosial. Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya menjadikan perdamaian abadi dan keadilan global sebagai tujuan bersama.

"Perdamaian dan keadilan global adalah amanat moral sekaligus konstitusional. Peperangan tidak pernah menjadi solusi jangka panjang, yang ada hanya penderitaan dan kehancuran," pungkasnya. (Fer/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya