Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Nasib Kunjungan Raja Charles ke AS di Ujung Tanduk, Terjepit Perseteruan Trump-Starmer

Thalatie K Yani
18/3/2026 12:25
Nasib Kunjungan Raja Charles ke AS di Ujung Tanduk, Terjepit Perseteruan Trump-Starmer
Kunjungan Donald Trump ke Kerajaan Inggris(White House)

DIPLOMASI "karpet merah" yang dirancang Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, untuk melunakkan hati Donald Trump tampaknya menemui jalan buntu. Kini, rencana kunjungan kenegaraan Raja Charles III ke Amerika Serikat yang dijadwalkan pada April mendatang berada dalam bayang-bayang ketidakpastian.

Awalnya, Starmer mencoba pendekatan yang sangat personal. Dalam pertemuan di Ruang Oval Februari lalu, sang Perdana Menteri yang biasanya kaku dan irit bicara, tampak sangat antusias saat menyerahkan surat undangan dari Raja Charles. Ia menyebut undangan kunjungan kenegaraan kedua bagi Trump ini sebagai sesuatu yang "bersejarah dan belum pernah terjadi sebelumnya."

Strategi ini jelas: Inggris ingin memanjakan kecintaan Trump pada kemegahan kerajaan demi mengamankan kepentingan ekonomi dan dukungan militer di Ukraina. Namun, bulan madu diplomatik itu berakhir cepat.

"Bukan Winston Churchill"

Retorika Trump berubah drastis setelah Inggris enggan memberikan dukungan penuh pada operasi militer AS terhadap Iran. Trump, yang dikenal tanpa filter, mulai melancarkan serangan verbal kepada Starmer.

"Ini bukan Winston Churchill yang sedang kita hadapi," cetus Trump pada 3 Maret lalu. Ia bahkan menyindir Inggris bukan lagi "sekutu kelas satu" (Rolls-Royce of allies) setelah London menolak mengirim kapal perang untuk menyapu ranjau di Selat Hormuz tanpa diskusi tim yang panjang.

Risiko Mempermalukan Monarki

Di tengah hujan kritik dari Gedung Putih, para politisi di London mulai menyuarakan kekhawatiran. Muncul desakan agar rencana kunjungan Raja Charles dalam rangka peringatan 250 tahun kemerdekaan AS itu ditunda saja.

"Hal terakhir yang ingin kita lakukan adalah membiarkan Yang Mulia merasa malu," ujar Emily Thornberry, anggota parlemen dari Partai Buruh. Menurutnya, pemerintah harus berpikir ulang apakah tetap melanjutkan kunjungan di tengah atmosfer yang beracun tersebut.

Mantan Duta Besar Inggris untuk AS, Peter Westmacott, menilai bahwa strategi Starmer untuk mengelola ego Trump melalui ketenangan telah mencapai batasnya. "Akan ada momen di mana pemerintah memutuskan bahwa risiko melanjutkan kunjungan lebih besar daripada risiko menyinggung perasaan Donald Trump," kata Westmacott.

Trump Tetap Menanti

Menariknya, di tengah perselisihan dengan Starmer, Trump justru secara terbuka menantikan kedatangan Raja Charles. Ia sempat memuji Charles sebagai "orang hebat" dan berencana menyambutnya di aula megah Gedung Putih yang baru.

Namun, ketidakkonsistenan Trump menjadi alarm bagi Downing Street. Jika kunjungan berlanjut, ada risiko Raja Charles akan terjebak dalam pidato-pidato Trump yang kerap menyerang kebijakan pemerintah Inggris. Di sisi lain, membatalkan kunjungan secara sepihak juga berisiko memicu kemarahan sang Presiden.

Hingga saat ini, pihak Downing Street masih bungkam dan enggan mengonfirmasi detail rencana perjalanan sang Raja. Di dalam negeri, tekanan mereda bagi Starmer karena lawan politiknya—termasuk Nigel Farage dan Kemi Badenoch, mulai melunak dan setuju bahwa Inggris tidak boleh ceroboh terseret dalam perang luar negeri lainnya.

Kini, bola panas ada di tangan Starmer: mempertahankan martabat monarki atau tetap mengejar restu dari sang "Raja" Ruang Oval. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik