Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Trump Desak NATO ke Selat Hormuz, Sekutu Eropa Meradang: Ini Bukan Perang Kami!

Thalatie K Yani
17/3/2026 03:14
Trump Desak NATO ke Selat Hormuz, Sekutu Eropa Meradang: Ini Bukan Perang Kami!
Presiden AS Donald Trump memicu kontroversi dengan menyeret NATO ke konflik Selat Hormuz.(White House)

PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu ketegangan di internal NATO. Kali ini, ia menyiratkan kegagalan mengamankan Selat Hormuz akan berdampak buruk bagi masa depan aliansi pertahanan tersebut. Pernyataan ini sontak memicu reaksi keras dari para sekutu Washington yang menilai Trump telah melampaui batas mandat NATO.

Mantan Kepala Staf Pertahanan Inggris, Jenderal Sir Nick Carter, menegaskan NATO bukanlah alat untuk melegitimasi perang pilihan salah satu anggota.

"NATO dibentuk sebagai... aliansi pertahanan. Ini bukan aliansi yang dirancang agar salah satu sekutu melakukan perang pilihan dan kemudian mewajibkan semua orang untuk mengikuti. Saya tidak yakin itu jenis NATO yang ingin kita ikuti," ujar Carter kepada BBC.

Penolakan Keras dari Eropa

Reaksi paling tajam datang dari Berlin. Juru bicara pemerintah Jerman menyatakan ketegangan dengan Iran sama sekali tidak ada hubungannya dengan NATO. Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, bahkan mempertanyakan efektivitas pengiriman armada kecil Eropa ke wilayah tersebut.

"Apa yang Trump harapkan dari segelintir kapal fregat Eropa yang tidak bisa dilakukan oleh angkatan laut AS yang perkasa?" tanya Pistorius sinis. "Ini bukan perang kami. Kami tidak memulainya."

Kekhawatiran ini beralasan. Iran diketahui memiliki kemampuan asimetris di Selat Hormuz, mulai dari kapal cepat bersenjata, drone bunuh diri, hingga sistem rudal pesisir. Foto terbaru dari kantor berita Fars bahkan menunjukkan ratusan kapal dan drone yang tersimpan di terowongan bawah tanah, menandakan kesiapan Teheran menghadapi konflik jangka panjang.

Krisis Teknologi Ranjau Laut

Di tengah kebuntuan diplomatik, masalah teknis yang krusial muncul, ancaman ranjau laut. Trump sempat meremehkan upaya pembukaan jalur Selat Hormuz sebagai "upaya kecil", namun sejarah berkata lain. Operasi pembersihan ranjau besar terakhir pada 1991 memakan waktu hingga 51 hari.

Inggris saat ini berada dalam posisi sulit karena tidak memiliki kapal pemburu ranjau aktif di wilayah tersebut. Sebagai gantinya, Angkatan Laut Inggris berencana menawarkan drone laut yang belum teruji dalam pertempuran nyata.

"Kita mungkin akan mengetahui dalam beberapa minggu ke depan apakah teknologi ini berhasil atau tidak," ungkap Tom Sharpe, mantan komandan Angkatan Laut Inggris.

Mencari Rencana yang Belum Ada

Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, menyatakan pembicaraan untuk menyusun "rencana yang layak" terus dilakukan bersama mitra AS, Eropa, dan Teluk. Namun, ia menekankan Inggris belum sampai pada tahap pengambilan keputusan.

Starmer menegaskan setiap personel militer yang dikirim harus memiliki jaminan keamanan dan landasan hukum yang jelas.

"Setidaknya mereka berhak mengetahui bahwa mereka melakukannya atas dasar hukum dan dengan rencana yang dipikirkan dengan matang," tegas Starmer.

Hingga saat ini, rencana tersebut nyatanya memang belum ada. Sementara sekutu-sekutu NATO masih ragu di ambang pintu keterlibatan konflik Iran, ancaman terhadap ekonomi global akibat tersumbatnya jalur minyak dunia di Selat Hormuz terus membayangi. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik