Headline

Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.

15 Kapal Sudah Lewati Selat Hormuz dalam 24 Jam Terakhir

Thalatie K Yani
06/4/2026 05:00
15 Kapal Sudah Lewati Selat Hormuz dalam 24 Jam Terakhir
Selat Hormuz(BBC)

SITUASI di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan maritim paling vital di dunia, masih menunjukkan ketegangan yang signifikan. Berdasarkan laporan kantor berita Fars yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), tercatat sebanyak 15 kapal telah melintasi selat tersebut dalam 24 jam terakhir "dengan izin dari Iran".

Meski ada aktivitas pelayaran, laporan tersebut menekankan volume lalu lintas kapal saat ini  masih 90% lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum pecahnya perang. Pejabat tinggi Iran, termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, berulang kali menegaskan bahwa jalur pelayaran internasional ini tidak ditutup sepenuhnya. Menurutnya, akses hanya ditutup bagi negara-negara yang dikategorikan sebagai "negara musuh".

Sebagai contoh nyata dari kebijakan tersebut, juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya menyatakan bahwa Iran memberikan pengecualian khusus bagi Irak dari segala bentuk pembatasan yang diberlakukan di wilayah tersebut.

Wacana Penarikan Tarif Tol

Selain pembatasan akses, para pejabat dan anggota parlemen Iran mulai menyuarakan kemungkinan pengenaan biaya transit atau tarif tol bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Seorang asisten di Kantor Kepresidenan Iran menyebutkan Selat Hormuz “akan dibuka kembali” ketika “sebagian dari biaya transit digunakan untuk mengompensasi semua kerusakan yang disebabkan” oleh perang.

Di sisi lain, upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan mulai berjalan. Oman melaporkan telah bertemu dengan pihak Iran untuk membahas opsi-opsi guna "memastikan kelancaran arus transit" di jalur tersebut. Dalam pertemuan itu, para ahli dari kedua belah pihak memaparkan sejumlah visi serta proposal yang kini tengah dipelajari lebih lanjut oleh pemerintah Oman.

Respons Regional dan Keterlibatan AS

Langkah Iran ini memicu reaksi keras dari negara tetangga. Penasihat Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Anwar Gargash, menyatakan pihaknya siap untuk "bergabung dalam setiap upaya yang dipimpin Amerika Serikat" demi "mengamankan navigasi" di Selat Hormuz.

Gargash menilai tindakan Iran yang menargetkan negara-negara tetangga selama periode perang ini justru memberikan dampak sebaliknya bagi kepentingan Teheran. Ia meyakini manuver tersebut hanya memperkuat posisi serta pengaruh Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Hingga saat ini, stabilitas di Selat Hormuz tetap menjadi sorotan dunia, mengingat gangguan sekecil apa pun di jalur ini dapat berdampak sistemik pada rantai pasok energi global. (BBC/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya