Headline

Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.

Seruan Trump Kawal Selat Hormuz Sepi Peminat di Tengah Lonjakan Harga Minyak

Haufan Hasyim Salengke
16/3/2026 15:07
Seruan Trump Kawal Selat Hormuz Sepi Peminat di Tengah Lonjakan Harga Minyak
Kapal tanker minyak terbakar akibat terkena serangan di Selat Hormuz.(Tasnim)

UPAYA Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membentuk koalisi internasional guna mengamankan Selat Hormuz sejauh ini belum membuahkan komitmen nyata. Meskipun ketegangan di jalur pengiriman energi utama dunia itu memicu lonjakan harga minyak global, negara-negara sekutu maupun mitra dagang utama cenderung bersikap pasif.

Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump mendesak negara-negara yang terdampak, termasuk Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris, untuk mengirimkan kapal perang mereka. "Diharapkan mereka mengirim kapal ke area tersebut sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi ancaman," tulis Trump.

Tanggapan Dingin 

Namun, respons global sejauh ini masih sangat terbatas. Juru bicara Kedutaan Besar Tiongkok di AS, Liu Pengyu, hanya menekankan tanggung jawab semua pihak untuk menjaga stabilitas pasokan energi tanpa menjanjikan pengerahan militer. Beijing lebih memilih jalur komunikasi untuk de-eskalasi situasi.

Di sisi lain, Teheran secara efektif telah memblokade jalur yang dilewati seperlima ekspor minyak global tersebut sebagai aksi balasan atas serangan udara AS dan Israel. Langkah ini sengaja dirancang untuk menekan ekonomi global dan posisi tawar Washington.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi semua pihak, kecuali bagi AS dan sekutunya. "Sejumlah negara telah mendekati kami untuk meminta izin pelintasan kapal yang aman, dan keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan militer kami," tegas Araghchi kepada CBS.

Ketidakpastian ini membuat pasar energi dunia terus bergejolak, sementara komunitas internasional tampak enggan terseret lebih jauh ke dalam konfrontasi militer langsung di perairan Teluk.

Setidaknya 10 kapal tanker dilaporkan menjadi sasaran serangan sejak pecahnya konflik pada 28 Februari lalu. Data tersebut dihimpun dari laporan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), Organisasi Maritim Internasional (IMO), serta otoritas Irak dan Iran. (Al-Jazeera/B-3)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya