Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Pekan Suci Sepi di Yerusalem, Umat Kristen Diliputi Ketakutan dan Ketidakpastian

Ferdian Ananda Majni
05/4/2026 17:06
Pekan Suci Sepi di Yerusalem, Umat Kristen Diliputi Ketakutan dan Ketidakpastian
Kota Tua Yerusalem(Al Jazeera)

PEKAN Suci yang biasanya menjadi momen penting bagi umat Kristen berlangsung berbeda tahun ini di Kota Tua Yerusalem. Jalan-jalan di Kawasan Kristen tampak lengang, sementara sebagian besar toko tutup di tengah pembatasan yang diberlakukan otoritas Israel.

Seorang warga Kristen Palestina, Boulos (bukan nama sebenarnya), tetap membuka tokonya beberapa hari dalam sepekan. Ia menjual pakaian dan barang keagamaan dengan pintu setengah tertutup untuk menghindari penertiban, setelah otoritas Israel memerintahkan penutupan toko-toko selama konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Setelah enam tahun mengalami gangguan, dimulai dari pandemi Covid-19 hingga rangkaian konflik, usaha Boulos sempat menunjukkan tanda pemulihan ketika peziarah internasional mulai kembali pascagencatan senjata di Gaza pada Oktober lalu. Namun, kondisi itu kembali memburuk.

"Sebelum perang (dengan Iran), bisnis masih sangat buruk. Tapi setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup," kata Boulos. 

"Sekarang, tidak ada bisnis sama sekali, tidak ada uang sama sekali," tambahnya.

Pada suatu siang, seorang perempuan Kristen Ethiopia menjadi pelanggan pertama hari itu dengan membeli lilin doa. Namun transaksi kecil itu tak banyak berarti.

"Sejak pagi, saya di sini tidak ada gunanya," ucap Boulos dikutip Al Jazeera, Minggu (5/4).

"Apa gunanya 35 shekel ($11,20) bagi saya? Apa bedanya?," sebutnya 

Sementara sebagian wilayah Yerusalem Barat mulai membuka aktivitas bisnis karena memiliki fasilitas perlindungan, kawasan Palestina di Kota Tua yang minim tempat perlindungan justru tetap ditutup. Dampaknya paling terasa di kawasan Kristen yang bergantung pada sektor pariwisata.

Bruder Daoud Kassabry, kepala Sekolah College des Freres, menyebut situasi ini sebagai yang terburuk dalam hidupnya.

"Ini pertama kalinya dalam hidup saya melihat Yerusalem sesedih ini," ujarnya.

"Ini adalah bulan tersulit di daerah kami di sini, sungguh, sepanjang masa kami. Bagi orang tua, bagi sekolah, bagi siswa, bagi guru, bagi semua orang," sebutnya.

Kegiatan keagamaan pun terdampak.

Prosesi Minggu Palma yang biasanya diikuti siswa dan kelompok pramuka dibatalkan tahun ini. Bahkan, otoritas Israel sempat melarang Patriark Latin Yerusalem, Pierbattista Pizzaballa, bersama pejabat gereja lainnya memasuki Gereja Makam Suci.

Menurut Patriarkat Latin, ini merupakan pertama kalinya dalam berabad-abad pejabat gereja tidak dapat menjalankan ibadah di lokasi suci tersebut.

Dalam konferensi pers, Kardinal Pizzaballa menyatakan bahwa berbagai kegiatan keagamaan telah dibatalkan untuk mematuhi pembatasan militer.

"Tetapi ada hal-hal yang tidak dapat kita batalkan. Tidak seorang pun, bahkan Paus sekalipun, memiliki wewenang untuk membatalkan liturgi Paskah," lanjutnya.

Langkah pembatasan ini menuai kritik dari sejumlah negara Barat. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kemudian menyatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan demi alasan keamanan, meskipun menuai pertanyaan karena lokasi gereja berdekatan dengan tempat tinggal kardinal.

Pernyataan tersebut juga memicu perdebatan mengenai status quo pengelolaan situs suci di Yerusalem, yang selama ini berada di bawah otoritas gereja dan Wakaf Islam dengan pengawasan Abdullah II.

Di tengah situasi ini, sejumlah warga Kristen Palestina mengaku menghadapi tekanan sosial dan keamanan. 

Uskup Emeritus Munib Younan mengungkapkan pengalaman tidak menyenangkan yang dialaminya di Kota Tua.

Sementara itu, Boulos memilih beribadah di luar Yerusalem demi merasa lebih aman.

"Di sana, tidak ada yang menodongkan pistol ke arah Anda dalam perjalanan ke gereja. Kehidupan setidaknya normal," katanya. 

"Di sini, kehidupan tidak normal," sebutnya.

Ia juga menilai adanya eksklusivitas dalam kebijakan yang diterapkan.

"Mereka (Israel) ingin menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa negara ini hanya diperuntukkan bagi mereka, bukan untuk orang Kristen, bukan untuk Muslim," katanya.

Di sisi lain, pembatasan terhadap umat Muslim juga terus berlangsung. Akses ke kompleks Al-Aqsa dibatasi sejak akhir Februari, termasuk selama Ramadan. Bahkan, aparat keamanan dilaporkan membubarkan jamaah saat Idul Fitri dengan gas air mata dan granat kejut.

Kondisi ini berdampak langsung pada keberlangsungan komunitas Kristen Palestina yang jumlahnya terus menyusut. Pembatalan prosesi Jalan Salib dan Sabtu Api Suci dinilai mengancam identitas komunal mereka.

"Banyak orang yang tidak masuk gereja sepanjang tahun, mereka hanya pergi pada hari-hari ini, terutama pada Jumat Agung," kata Bruder Kassabry, Direktur College des Freres de Lasalle atau sekolah kristen di Yerusalem.

"Karena ini adalah perayaan Yerusalem," ucapnya.

Meskipun gereja tetap dibuka untuk ibadah, sebagian umat memilih tidak hadir karena alasan keamanan.

Di tengah situasi tersebut, para pemuka agama berupaya memberikan penguatan spiritual kepada jemaat. Pastor Faris Abedrabbo menekankan pentingnya keteguhan dalam menghadapi situasi sulit.

"Saya memberi tahu mereka, kita dapat mengenali dalam kehidupan sehari-hari kita sesuatu dari penderitaan Kristus sendiri, ketakutan-Nya, kesedihan-Nya, rasa ditinggalkan-Nya," ujarnya.

"Dalam konteks ini, satu kata menjadi sentral bagi kita, keteguhan. Seperti yang diajarkan Kristus sendiri dalam Injil, dengan ketekunanmu kamu akan memperoleh hidupmu," lanjutnya.

Krisis berkepanjangan ini juga mendorong banyak pemuda Kristen Palestina mempertimbangkan untuk meninggalkan wilayah tersebut. Uskup Younan mengaku sering diminta membantu pengurusan visa ke luar negeri.

"Banyak anak muda mengatakan kepada saya, ‘Bisakah Anda membantu saya mendapatkan visa untuk beremigrasi ke Amerika Serikat atau Kanada atau Australia?" katanya.

"Saya tidak menyalahkan mereka jika mereka berpikir untuk beremigrasi. Namun ini buruk bagi masa depan kita," paparnya.

Boulos pun mengaku sempat mempertimbangkan hal serupa, meskipun ia masih bertahan.

"Mereka berusaha sekuat tenaga untuk membuat kami kehilangan harapan, dan meninggalkan negara ini," katanya.

Ia mengaku tetap datang ke tokonya sebagai bentuk mempertahankan harapan di tengah situasi sulit.

"Saya mencoba untuk tetap berharap. Itulah mengapa saya masih datang ke sini, untuk menunjukkan pada diri sendiri bahwa saya masih memiliki harapan," terangnya.

Namun ia menyadari bahwa kondisi tersebut belum menunjukkan tanda akan segera berakhir.

"Tapi kemudian, Anda tahu itu tidak akan berhenti. Itu tidak pernah berhenti. Dan mereka tahu pada suatu saat, Anda akan menyerah. Anda akan kehilangan harapan," paparnya.

Di tengah situasi penuh tekanan ini, Pastor Abedrabbo menegaskan bahwa keteguhan bukanlah sikap pasif.

"Keteguhan bukanlah ketahanan pasif. Itu adalah perlawanan spiritual yang aktif: untuk tetap berakar pada kebaikan, pada kebenaran untuk menolak kebencian, dan untuk terus memilih kehidupan," pungkasnya. (P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik