Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Trump Sebut NATO Pengecut, Desak Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Media Indonesia
03/4/2026 08:22
Trump Sebut NATO Pengecut, Desak Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Ia mendesak negara-negara anggota aliansi tersebut untuk segera mengirimkan kapal angkatan laut ke Selat Hormuz guna menghadapi kendali Iran di jalur pelayaran vital tersebut.

"Mereka harus berani masuk dan mengirimkan kapal-kapal mereka ke sana dan menikmatinya," ujar Trump dalam wawancara dengan harian Politico, Kamis (2/4/2026).

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk. Selat Hormuz, yang menjadi jalur distribusi bagi sekitar 20 juta barel minyak setiap hari, dilaporkan berada di bawah kendali Iran sejak awal Maret. Langkah Teheran tersebut merupakan respons atas serangan gabungan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap wilayah Iran.

Dalam nada bicara yang meremehkan, Trump menegaskan ketidakpeduliannya terhadap dukungan aliansi militer tersebut. Saat ditanya mengenai rasa frustrasinya terhadap sikap pasif NATO, ia menjawab singkat, "Saya tidak peduli. Saya tidak membutuhkan mereka."

Ketegangan antara Trump dan sekutu Eropanya semakin meruncing. Dalam wawancara terpisah dengan harian Inggris, The Telegraph, Trump bahkan melabeli anggota NATO sebagai pengecut. Ia kembali mengungkit kemungkinan AS untuk menarik diri dari aliansi yang telah berdiri sejak era Perang Dingin tersebut.

Trump berargumen bahwa negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak melalui Selat Hormuz seharusnya memikul tanggung jawab lebih besar untuk mengamankan jalur tersebut, ketimbang hanya mengandalkan kekuatan militer AS.

Konteks Krisis Selat Hormuz:
  • Volume Minyak: Sekitar 20 juta barel per hari melewati jalur ini.
  • Penyebab Gangguan: Konflik terbuka antara AS-Israel dan Iran sejak awal Maret 2026.
  • Status Jalur: Saat ini berada di bawah kendali militer Iran.

Rencana Pertemuan dengan Mark Rutte

Meski hubungan memanas, komunikasi diplomatik tetap diupayakan. Berdasarkan laporan The Wall Street Journal, Trump dijadwalkan bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, di Washington pada pekan depan. Pertemuan ini diprediksi akan berlangsung alot mengingat kritik keras dari negara-negara anggota NATO terhadap Trump.

Sejumlah sekutu NATO mengecam tindakan Trump yang dianggap memulai konfrontasi militer dengan Iran tanpa melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan anggota aliansi lain. Hal ini dianggap mencederai prinsip kolektif yang selama ini dijunjung NATO.

Hambatan Hukum Keluar dari NATO

Meskipun Trump berulang kali mengancam akan meninggalkan NATO, langkah tersebut tidak akan mudah dilakukan secara sepihak. Berdasarkan undang-undang yang disahkan pada tahun 2023, Presiden AS dilarang menarik diri dari aliansi NATO tanpa mendapatkan dukungan mayoritas dua pertiga dari Senat AS.

Sepanjang sejarahnya, NATO baru satu kali mengaktifkan Pasal 5 mengenai pertahanan kolektif, yakni saat terjadi serangan teroris 11 September 2001 terhadap Amerika Serikat. Kini, di bawah kepemimpinan Trump, relevansi dan masa depan keterlibatan AS dalam aliansi tersebut kembali berada di titik nadir. (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya