Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

4 Fakta Kenapa Perang AS-Iran belum akan Berakhir

 Gana Buana
02/4/2026 20:30
4 Fakta Kenapa Perang AS-Iran belum akan Berakhir
Keputusan Donald Trump untuk mundur dari perang Iran dinilai belum mengakhiri konflik.(Dok. CNN)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal akan segera mengakhiri keterlibatan negaranya dalam konflik dengan Iran. Langkah ini diambil tanpa menjatuhkan rezim Iran, membuka Selat Hormuz, maupun mencapai kesepakatan resmi dengan Teheran untuk menghentikan serangan terhadap AS dan sekutunya.

Dilansir dari CNN, Trump menyatakan bahwa tujuan strategis utama hampir tercapai. Ia menyebut kerusakan signifikan telah terjadi pada program militer Iran, termasuk kemampuan rudal, angkatan laut, dan jaringan proksinya.

Trump juga menegaskan bahwa fase tersulit dari konflik telah dilalui dan optimistis langkah mundur ini dapat meredakan tekanan ekonomi global, terutama akibat gangguan terhadap jalur energi dan pelayaran di Teluk Persia.

Namun, Iran justru menegaskan bahwa mereka yang akan menentukan kapan perang berakhir. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya siap melanjutkan konflik setidaknya selama enam bulan ke depan.

Sejumlah analis menilai, langkah mundur cepat Amerika Serikat justru berpotensi memperpanjang konflik. Berikut empat alasan utamanya.

1. Iran Berpotensi Semakin Dekat ke Senjata Nuklir

Meski Trump mengklaim tujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir telah tercapai, laporan menunjukkan masih ada lebih dari 400 kilogram uranium yang diperkaya tinggi belum terlacak.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa Iran justru akan mempercepat program nuklirnya. Apalagi, perubahan kepemimpinan dan menguatnya kelompok garis keras dapat mendorong kebijakan yang lebih agresif.

Alih-alih melemah, Iran berpotensi menjadi lebih tertutup dan lebih berani dalam mengembangkan kemampuan militernya.

2. Selat Hormuz Tetap Menjadi Sumber Ketidakstabilan Ekonomi Global

Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi distribusi energi dunia. Jika AS keluar tanpa kesepakatan untuk membuka kembali jalur tersebut, Iran berpotensi mengendalikan lalu lintas kapal secara sepihak.

Hal ini dapat menciptakan tekanan besar pada pasar energi global. Harga minyak dan bahan bakar tetap tinggi karena gangguan pasokan, meskipun Amerika Serikat tidak sepenuhnya bergantung pada impor energi dari kawasan tersebut.

Kondisi ini juga membuka peluang bagi Iran untuk mendapatkan keuntungan ekonomi tambahan melalui pengendalian jalur pelayaran internasional.

3. Keamanan Negara Teluk Terancam

Selama konflik berlangsung, Iran telah melakukan serangan langsung ke wilayah negara-negara Teluk dan mengganggu ekspor minyak mereka.

Jika Amerika Serikat mundur tanpa kesepakatan keamanan, negara-negara Teluk berisiko menghadapi ancaman serangan lanjutan. Selain itu, Iran dapat memperoleh pengaruh lebih besar dalam menentukan arus ekspor energi dari kawasan tersebut.

Langkah ini juga berpotensi merusak kepercayaan terhadap komitmen perlindungan keamanan yang selama ini dijanjikan oleh Amerika Serikat.

4. Israel Berpotensi Melanjutkan Serangan

Tanpa keterlibatan aktif Amerika Serikat, Israel kemungkinan akan melanjutkan operasi militernya terhadap Iran dan sekutunya.

Hal ini dapat memperluas konflik ke wilayah lain seperti Lebanon dan Gaza. Selain itu, tidak ada jaminan Iran akan menghentikan serangan balasan, sehingga risiko eskalasi konflik tetap tinggi.

Kondisi ini membuat potensi konflik regional yang lebih luas masih terbuka. (CNN/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya