Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAT Hormuz bukan sekadar jalur perairan sempit yang memisahkan Semenanjung Arab dengan daratan Iran. Ia menjadi saksi bisu dari benturan peradaban, kemegahan kerajaan maritim, dan spiritualitas Persia kuno yang mendalam.
Dari nama yang diambil dari dewa tertinggi hingga statusnya sebagai urat nadi energi dunia, Hormuz tetap menjadi titik paling krusial dalam peta geopolitik global. Saat ini, Selat Hormuz menjadi buah bibir dunia karena menjadi jalur pengiriman sekiat 20% minyak mentah dunia.
Itu karena Iran memblokade Selat Hormuz sebagai tanggapan terhadap serangan AS-Israel. Lantas bagaimana asal usul nama Hormuz dan kisah kerajaan Hormuz serta Panglima Hormuz yang berduel melawan Panglima Islam Khalid bin Walid.
Nama Hormuz memiliki akar etimologi yang religius. Para sejarawan sepakat bahwa nama ini merupakan derivasi dari Hormizd, yang dalam bahasa Persia Kuno merujuk pada Ahura Mazda. Dalam ajaran Zoroastrianisme--agama resmi kekaisaran-kekaisaran besar Persia seperti Akhemeniyah dan Sassanid--Ahura Mazda adalah Tuhan Yang Maha Esa, pencipta alam semesta yang melambangkan kebijaksanaan, cahaya, dan kebenaran (Asha).
Penggunaan nama dewa untuk wilayah ini menunjukkan betapa pentingnya lokasi tersebut bagi identitas bangsa Persia. Selain Ahura Mazda, mitologi Persia juga mengenal dewa-dewa lain seperti:
Kerajaan Hormuz (abad ke-10 hingga ke-17) ialah fenomena unik dalam sejarah maritim. Meskipun wilayahnya gersang dan kekurangan air tawar, kerajaan ini berhasil menjadi salah satu pelabuhan terkaya di dunia. "Jika dunia adalah cincin emas, Hormuz adalah permata di tengahnya," demikian pepatah kuno menggambarkan kemakmuran wilayah ini.
Nama ini juga sering dikaitkan dengan raja-raja Sassanid yang menyandang nama Hormizd (seperti Hormizd I hingga IV). Mereka memandang diri mereka sebagai wakil Ahura Mazda di bumi, sehingga kota-kota yang mereka bangun atau kembangkan sering kali menyandang nama yang merefleksikan kemuliaan dewa tersebut.
Menariknya, Kerajaan Hormuz awalnya tidak terletak di pulau yang kita kenal sekarang. Kota Hormuz kuno berada di daratan utama Persia (wilayah Minab). Namun, karena serangan terus-menerus dari bangsa Mongol pada abad ke-13, penduduk dan penguasa Hormuz memindahkan ibu kota mereka ke Pulau Jarun yang lebih aman di tengah laut.
Nama Hormuz pun ikut dibawa ke pulau tersebut. Sejak saat itu, pulau kecil yang gersang tetapi strategis ini dikenal sebagai Pulau Hormuz, dan kerajaannya tumbuh menjadi salah satu thalassocracy (kerajaan maritim) paling makmur di dunia, mengendalikan setiap kapal yang masuk ke Teluk Persia.
Meskipun di kemudian hari penduduk Hormuz memeluk Islam, sisa-sisa pengaruh budaya Zoroaster yang melekat pada nama Hormuz tetap terlihat dalam penghormatan mereka terhadap elemen alam, terutama laut dan matahari. Nama Hormuz menjadi simbol ketahanan (resilience) bangsa Persia dalam mempertahankan gerbang maritim mereka selama ribuan tahun.
Kekuatan Hormuz terletak pada kontrolnya terhadap arus barang di Teluk Persia. Mereka menjadi perantara utama bagi komoditas berharga:
| Asal Wilayah | Komoditas Utama |
|---|---|
| India & Asia Tenggara | Rempah-rempah, sutra, dan batu mulia. |
| Pedalaman Persia | Kuda Arab, karpet, dan mutiara Teluk. |
| Afrika Timur | Emas dan gading. |
Kemakmuran Hormuz menarik perhatian bangsa Eropa. Pada 1507, penjelajah Portugis Afonso de Albuquerque menaklukkan pulau ini. Portugis membangun benteng raksasa yang reruntuhannya masih bisa dilihat hingga hari ini. Selama lebih dari satu abad, Hormuz berada di bawah kendali Portugis, menjadikannya pangkalan militer untuk menguasai jalur perdagangan Samudra Hindia.
Kejatuhan Hormuz terjadi pada 1622, ketika Shah Abbas I dari Dinasti Safawi, dibantu oleh kapal-kapal dari British East India Company, berhasil mengusir Portugis. Namun, alih-alih menghidupkan kembali kejayaan pulau tersebut, pusat perdagangan dipindahkan ke daratan utama, yakni Bandar Abbas, yang menandai berakhirnya era keemasan Kerajaan Hormuz sebagai entitas maritim independen.
Saat ini, Selat Hormuz adalah jalur pelayaran paling strategis di dunia. Dengan lebar hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempitnya, selat ini menjadi pintu keluar bagi minyak mentah dari produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab menuju pasar global di Asia, Eropa, dan Amerika.
Secara teknis, tidak ada jalur alternatif yang mampu menampung volume kargo sebesar Selat Hormuz. Penutupan selat ini, meski hanya sementara, dapat memicu lonjakan harga minyak global secara drastis dan mengganggu stabilitas ekonomi dunia. Hal ini menjadikan Selat Hormuz sebagai alat tawar politik yang sangat kuat dalam diplomasi internasional.
Selain Kerajaan Hormuz, tercata pula dalam sejarah yaitu Panglima Hormuz sebagai seorang Marzban (Gubernur Perbatasan) yang memerintah wilayah pesisir. Dalam hierarki Persia, ia termasuk dalam golongan bangsawan kelas atas yang berhak mengenakan mahkota seharga 100.000 dirham. Ia dikenal sebagai sosok yang keras terhadap penduduk lokal, terutama suku-suku Arab di perbatasan, dan sangat setia kepada kedaulatan Sassanid.
Setelah menyelesaikan Perang Riddah di Semenanjung Arab, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menginstruksikan Khalid bin Walid, sang Pedang Allah yang Terhunus, untuk bergerak menuju Irak (wilayah Persia). Khalid mengirimkan surat tantangan yang ikonik kepada Hormuz, memberikan pilihan: memeluk Islam, membayar jizyah, atau berperang.
Hormuz yang merasa terhina dengan tantangan dari orang-orang gurun segera menghimpun pasukan besar. Ia memilih lokasi di Kazima (sekarang di wilayah Kuwait) untuk mencegat pasukan Muslim sebelum mereka mencapai jantung wilayahnya.
Pertempuran ini dikenal dalam sejarah Islam sebagai Dhat al-Salasil atau Perang Rantai. Nama ini muncul karena Hormuz memerintahkan prajuritnya untuk saling merantai satu sama lain dalam kelompok-kelompok kecil. Tujuannya memberikan ketahanan mental agar tidak ada prajurit yang mundur dari garis depan, sekaligus menciptakan dinding manusia yang kokoh melawan kavaleri lawan.
Namun, Khalid bin Walid menggunakan kecerdasannya. Ia terus memindahkan pasukannya dari satu titik ke titik lain, memaksa pasukan Persia yang berbaju besi berat dan terantai untuk terus bergerak mengejar di bawah terik matahari gurun. Taktik ini membuat pasukan Hormuz kelelahan luar biasa sebelum pedang pertama diayunkan.
Sesuai tradisi perang kuno, pertempuran dimulai dengan duel satu lawan satu (mubarizun). Hormuz maju ke depan dan menantang Khalid secara langsung. Namun, Hormuz menyiapkan rencana licik. ia menempatkan beberapa prajurit elite di belakangnya untuk menyergap Khalid saat duel berlangsung.
Saat Khalid dan Hormuz bertarung sengit, Hormuz mencoba mengunci gerakan Khalid sementara para penyergapnya keluar dari persembunyian. Namun, kewaspadaan Khalid dan kecepatan intervensi dari sahabat Nabi, Qa'qa bin Amr, menggagalkan rencana tersebut. Dalam duel yang brutal, Khalid bin Walid berhasil menewaskan Hormuz. Kematian sang panglima seketika meruntuhkan moral pasukan Persia.
Kekalahan di Kazima dan kematian Panglima Hormuz menjadi awal dari keruntuhan dominasi Sassanid di wilayah Teluk. Kemenangan ini membuka jalan bagi pasukan Muslim untuk menguasai wilayah Irak dan akhirnya menaklukkan seluruh Kekaisaran Persia dalam dekade-dekade berikutnya. Selat Hormuz pun perlahan bertransformasi dari wilayah kekuasaan Majusi menjadi salah satu pusat peradaban Islam maritim yang penting.
Kisah Kerajaan Hormuz dan duel antara Khalid bin Walid dengan Panglima Hormuz bukan sekadar cerita tentang kemenangan militer, melainkan benturan dua peradaban besar. Keberanian Khalid dan keteguhan pasukannya berhasil menaklukkan keangkuhan kekuatan lama, mengubah peta geopolitik dunia, dan mengukuhkan posisi Selat Hormuz sebagai wilayah strategis yang diperebutkan hingga hari ini. (I-2)
Inggris memimpin pembicaraan dengan 40 negara untuk membuka kembali Selat Hormuz di tengah blokade Iran dan sikap lepas tangan Donald Trump.
Hatami mengatakan pimpinan militer telah menginstruksikan komando operasional untuk memantau pergerakan pasukan AS secara cermat dan merespons tepat waktu.
Keputusan Donald Trump untuk mundur dari perang Iran dinilai belum mengakhiri konflik. Ini empat risiko besar yang bisa terjadi secara global.
Analisis mendalam mengenai inkonsistensi kebijakan Donald Trump terhadap Iran, mulai dari tekanan maksimum hingga tawaran negosiasi tanpa syarat.
IHSG ditutup melemah 157,66 poin atau 2,19% ke posisi 7.026,78. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 12,21 poin atau 1,68% ke posisi 714,58.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved