Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

Saatnya Semua Menahan Diri

02/3/2026 05:00

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak. Dunia seakan masih tak percaya, Israel-AS akhirnya benar-benar menggunakan kekuatan militer sebagai penyelesai masalah. Bayangan perang dunia ketiga pun seakan sudah di pelupuk mata.

Serangan Israel-AS itu jelas tak akan dibiarkan oleh Iran. Mudah ditebak, begitu masa berkabung nasional berakhir atas wafatnya pemimpin tertinggi Ayatullah Ali Khamenei akibat serangan itu, Iran akan menyerang balik dua negara tersebut.

Kekhawatiran akan terjadinya perang dunia ketiga sontak mengemuka. Israel-AS dipastikan akan mulai menggalang dukungan dari negara-negara Eropa yang selama ini menjadi sekutu utama mereka. Tentunya, serangan Israel-AS ke Iran pada akhir pekan lalu dilakukan berdasarkan kalkulasi yang matang, termasuk soal dukungan dari negara lain.

Sama halnya dengan Iran, mungkin serangan itu juga sudah diperhitungkan oleh pejabat-pejabat tinggi negeri Teluk Persia itu. Iran pasti sudah mengalkulasi bantuan dari negara mana saja yang bisa didapat jika pada akhirnya mesti berperang dengan Israel-AS.

Semua negara di dunia mafhum, Iran memiliki hubungan strategis dengan sejumlah raksasa dunia seperti Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara. Karena itu, pertikaian Israel-AS dengan Iran tak dapat dianggap hanya sebagai konflik tiga negara.

Eskalasi konflik itu berpotensi memicu konflik global yang lebih luas. Jika mereka sudah sama-sama siap berperang, perang dunia ketiga tinggal menunggu waktu. Entah pelajaran apa yang mereka petik dari Perang Dunia I dan II.

Sebagai catatan, Perang Dunia I yang berlangsung pada 1914–1918 menyebabkan kematian lebih dari 15 juta hingga 22 juta orang, baik militer maupun sipil. Perang Dunia II jauh lebih dahsyat lagi. Perang yang berkobar di berbagai belahan dunia pada 1939–1945 itu diperkirakan menewaskan 60 juta–80 juta orang.

Perang Dunia II dikenal sebagai perang paling mematikan dalam sejarah umat manusia. Itu baru bicara soal angka jumlah korban, belum bicara soal hancurnya jutaan tempat tinggal, rusaknya berbagai infrastruktur, dan utamanya lagi rusaknya perekonomian dunia.

Jika ditotal, jawabannya ialah semuanya merugi. Menang jadi arang, kalah jadi abu. Saat itu, seluruh negara di dunia mengakui, kekerasan bukan menjadi jawaban dari berbagai persoalan. Penggunaan kekuatan militer hanya menambah panjang deretan kebodohan umat manusia dalam menyelesaikan pertikaian.

Karena itu, ketika Israel-AS menyerang Iran baru-baru ini, dunia dibuat terperangah karena masih ada negara yang gagal belajar dari pengalaman perang dunia.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mesti turun tangan agar konflik itu tak meluas dan berkepanjangan. Semua negara yang tergabung di PBB harus segera menarik pertikaian itu ke meja perundingan. Negara-negara di dunia jangan sampai terpancing untuk memihak ke salah satu pihak yang bertikai.

Lewat prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif, Indonesia dapat mengambil peran strategis dalam penyelesaian konflik tersebut. Indonesia dapat mengajak semua pihak untuk kembali ke Piagam PBB, khususnya Pasal 2 ayat 3 dan Pasal 2 ayat 7. Dua konsensus itu berbunyi, ‘Setiap negara diwajibkan menahan diri dari penggunaan kekuatan militer yang dapat mengancam integritas teritorial dan kemerdekaan negara lain’.

Indonesia juga bisa mengingatkan AS untuk segera kembali ke khitah Board of Peace, Dewan Perdamaian yang baru saja dibentuk Presiden AS Donald Trump pada Januari 2026. Tentu aksi AS kali ini sangat bertentangan dengan semangat perdamaian itu.

Indonesia harus berhasil mengajak para pemimpin dunia untuk menahan diri dari penggunaan kekuatan militer, terutama yang melibatkan senjata pemusnah massal. Sekali lagi perlu diingat, dampak perang tidak hanya dirasakan oleh negara yang terlibat langsung, tetapi juga oleh seluruh masyarakat di berbagai belahan dunia.

Kita tidak ingin peradaban dan kemanusiaan dipertaruhkan untuk ambisi, baik ambisi kekuasaan maupun ambisi ekonomi.

 



Berita Lainnya
  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.

  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.

  • Negara Hadir untuk Menenangkan

    12/3/2026 05:00

    PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.