Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Kendalikan Harga Segera

18/2/2026 05:00

KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun. Stok disebut aman, bahkan berlimpah. Namun, harga di pasar tetap merangkak naik. Tahun ini situasinya lebih kompleks karena Ramadan berdekatan dengan perayaan Imlek, yang turut mendorong lonjakan permintaan.

Data Panel Harga Pangan per 14 Februari 2026 menunjukkan harga cabai rawit merah di tingkat produsen secara nasional rata-rata mencapai Rp56 ribu lebih per kilogram. Di sejumlah daerah, angkanya bahkan melampaui Rp80 ribu per kilogram. Kenaikan paling mencolok terjadi pada cabai, disusul bawang, daging ayam, dan telur. Komoditas-komoditas itu bukan barang mewah, melainkan kebutuhan harian rumah tangga.

Secara teori, lonjakan harga terjadi karena permintaan meningkat lebih cepat jika dibandingkan dengan kemampuan pasokan merespons. Ramadan memang selalu diiringi peningkatan konsumsi rumah tangga. Tradisi berbuka bersama, meningkatnya produksi makanan, hingga persiapan Lebaran mendorong permintaan berbagai bahan pokok. Dalam kerangka hukum pasar, fenomena itu dapat dijelaskan.

Namun, persoalannya tidak sesederhana hukum supply and demand. Di balik lonjakan harga, sering kali tersembunyi praktik spekulasi dan penimbunan yang memanfaatkan momentum tingginya permintaan. Ketika pasokan ditahan sementara permintaan melonjak, harga dengan mudah terdongkrak.

Lemahnya pengawasan dan penindakan membuat pola ini berulang tanpa efek jera. Publik akhirnya terbiasa menyaksikan harga melonjak setiap memasuki bulan suci, seolah itu keniscayaan.

Dampaknya nyata, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per September 2025, jumlah penduduk miskin mencapai 23,36 juta orang atau 8,25% dari total populasi. Bagi kelompok ini, kenaikan harga cabai atau telur bukan sekadar fluktuasi angka di papan statistik. Itu adalah ancaman langsung terhadap daya beli dan kualitas konsumsi harian. Tekanan harga juga sudah membuat kalangan menengah bawah kelimpungan.

Ramadan seharusnya menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial, bukan menambah beban ekonomi keluarga. Ketika harga kebutuhan pokok naik tajam, rumah tangga miskin dan menengah menuju miskin terpaksa mengurangi konsumsi atau mengalihkan anggaran dari kebutuhan lain, seperti pendidikan dan kesehatan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memperlebar kesenjangan sosial.

Pemerintah tidak boleh hanya mengandalkan operasi pasar sebagai solusi rutin. Operasi pasar bersifat reaktif dan jangka pendek. Adapun persoalan kenaikan harga menjelang hari besar keagamaan sudah menjadi pola tahunan yang semestinya diantisipasi jauh hari.

Langkah pertama yang mendesak ialah memperkuat pengawasan distribusi dan menindak tegas pelaku penimbunan. Aparat penegak hukum dan otoritas perdagangan harus bergerak cepat ketika ditemukan indikasi manipulasi pasokan. Penindakan yang transparan dan konsisten akan memberi efek jera serta memulihkan kepercayaan publik.

Kedua, pemerintah perlu memastikan kelancaran distribusi dari sentra produksi ke daerah konsumsi. Hambatan logistik, biaya transportasi, serta rantai distribusi yang panjang kerap memperlebar selisih harga antara produsen dan konsumen. Jika disparitas terlalu lebar, ada masalah struktural yang harus dibenahi.

Ketiga, transparansi informasi stok dan harga harus diperkuat. Publik berhak mengetahui kondisi riil pasokan nasional. Informasi yang akurat dapat mencegah kepanikan dan pembelian berlebihan yang justru memperparah gejolak harga.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu berbelanja secara bijak. Pembelian berlebihan tidak hanya membebani rumah tangga sendiri, tetapi juga memicu lonjakan permintaan semu di pasar. Ramadan adalah latihan menahan diri, termasuk dalam konsumsi.

Kenaikan harga menjelang Ramadan bukan persoalan baru. Justru karena berulang, pemerintah memiliki cukup waktu untuk menyiapkan kebijakan yang lebih permanen dan terukur. Negara harus hadir memastikan kebutuhan pokok tersedia dengan harga wajar dan terjangkau.

Ketegasan terhadap pelaku yang memainkan harga menjadi kunci agar Ramadan tidak lagi identik dengan lonjakan beban hidup rakyat. Bulan suci seharusnya menghadirkan ketenangan, bukan kecemasan di meja makan.

 



Berita Lainnya