Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Marhaban ya Ramadan

Rahmat Hidayat Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pengasuh Ponpes Madinatur Rahmah, Tenjo-Bogor
18/2/2026 05:00
Marhaban ya Ramadan
(MI/Seno)

KITA segera memasuki bulan Ramadan 1447 H, bulan penuh rahmat dan ampunan Allah SWT. Ramadan merupakan bulan yang dimuliakan Allah. Kehadirannya senantiasa dinantikan dan dirindukan oleh setiap hamba-Nya yang beriman.

Banyaknya nama yang dinisbatkan pada bulan Ramadan, antara lain sebagai bulan Al-Qur’an (syahrul Qur’an), bulan kasih sayang (syahrul rahmah), bulannya Allah (syahrullah), bulan keberkahan (syahrun mubarok), bulan ampunan (syahrul maghfiroh), bulan pendidikan (syahrut tarbiyah), dan bulan diterima doa (syahrul ijabah), menandakan keagungan dan keutamaan bulan suci ini.

Dengan demikian, Ramadan menjadi semacam bulan jamuan Allah SWT, di mana didalamnya disiapkan berbagai menu dan hidangan terbaik bagi hamba-Nya yang beriman sehingga mereka siap menikmati jamuan tersebut. Karena itu, kita patut bergembira dengan datangnya bulan Ramadan.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang berbahagia dengan datangnya bulan Ramadan, Allah haramkan jasadnya dari api neraka.” Beliau juga bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang mendapatkan keberkahan, Allah SWT telah mewajibkan kepada kalian berpuasa di bulan Ramadan.”

Pada bulan itu dibuka pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka jahanam dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan tersebut terdapat satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. “Barang siapa yang tidak memperoleh kebajikan di bulan tersebut, maka ia tidak memperoleh kebajikan apa pun.” (HR Nasai)

KESIAPAN FISIK DAN SPIRITUAL

Secara bahasa, kata marhaban berasal dari bahasa Arab rahiba, yarhabu, rabhan yang berarti luas, lapang, atau penyambutan dengan penuh kelapangan hati. Kata ini sering digunakan dalam bahasa Arab untuk menyambut seseorang dengan penuh kehormatan dan rasa hormat.

Dalam konteks Ramadan, ungkapan ‘marhaban ya Ramadan’ berarti menyambut bulan suci ini dengan penuh kegembiraan, kesiapan, dan kelapangan hati, bukan sekadar menunggu kedatangannya secara pasif. Sikap ini menunjukkan bahwa seorang muslim seharusnya mempersiapkan diri secara fisik dan spiritual untuk menghadapi bulan penuh keberkahan ini.

Para ulama sepakat bahwa menyambut Ramadan dengan kegembiraan merupakan tanda keimanan. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya, Lathaif Al-Ma'arif, mengatakan, “Orang-orang saleh terdahulu berdoa selama enam bulan agar dipertemukan kembali dengan Ramadan, dan mereka berdoa enam bulan berikutnya agar amalan mereka diterima oleh Allah." Sikap para ulama salaf ini menunjukkan bahwa menyambut Ramadan bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah bentuk kesiapan spiritual untuk mengisi Ramadan dengan sebaik-baiknya.

Kewajiban utama pada bada bulan suci Ramadan ialah berpuasa sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah [2]: 183: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada umat sebelum kamu supaya kamu bertakwa.”

Secara lughawi, puasa bermakna menahan diri dari hal-hal yang menjadi kecendrungan nafsu (al-imsak ‘amma tunazi’u ilahi an-nafs). Secara syar’i, puasa bermakna menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa, yaitu makan, minum dan melakukan hubungan suami istri (memenuhi syahwat seksual) sejak fajar sampai terbenamnya matahari karena Allah SWT (al-imsak ‘anil mufthiraat atstsalas bayadhi anahar fa innaha mu’dhimu ma tasytahihil anfus).

Kalau kita perhatikan, sejatinya makan, minum, dan hubungan suami istri merupakan hal yang boleh bahkan hak bagi setiap manusia. Selama berpuasa Ramadan, sejak fajar sampai terbenamnya matahari, ketiga hal tersebut dilarang dilakukan. Hal ini memberikan pelajaran dan penyadaran bahwa kita sedang diuji, apakah kita patuh atau tidak terhadap perintah Allah SWT. Bayangkan saja terhadap hal-hal yang sejatinya halal, kalau Allah SWT berkehendak melarangnya, harus kita jauhi, apalagi terhadap hal-hal yang secara nyata dilarangnya. Bagi orang yang beriman tidak ada pilihan lain kecuali mematuhi ketentuan Allah SWT [QS Al-Ahzab (33): 36].

Sebagai bentuk ibadah ritual, puasa merupakan ibadah yang sangat individual-rahasia (sirriyah) karena hanya Allah dan pelakunya yang mengetahui bagaimana kadar kualitas puasa yang sedang dilaksanakan. Dalam hadis Qudsi dikatakan: “Seluruh amal anak Adam untuknya kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya,” (HR Bukhori-Muslim).

Sebagai ibadah sirriyah, puasa melatih kita untuk membentuk dan membangun kesadaran akan eksistensi Allah SWT, dalam arti bahwa apa pun yang dilakukan hamba-Nya akan dilihat dan dinilai oleh Allah SWT (QS Al-Zalzalah [99]: 7-8). Orang yang berpuasa akan senantiasa merasakan kehadiran Allah dalam kehidupannya, serta akan mampu merefleksikan iman dari lubuk hatinya ke dalam perilaku kehidupan yang nyata. Implikasi dari kesadaran tersebut akan melahirkan sikap jujur, selalu berbuat baik dan ikhlas.

Dengan demikian, puasa menjadi balai latihan spiritual menuju kualitas paripurna yakni taqwallah. Sebagai proses menuju ketakwaan, puasa mengandung dimensi moral dan spiritual, baik dalam konteks hubungan dengan Allah (hablun minallah) maupun hubungan sesama manusia (hablun minannas).

Oleh karena itu, selama bulan Ramadan, kita selain harus memperbanyak ibadah ritual seperti menjaga salat lima waktu, salat sunat rawatib, salat malam (tarawih), tadarus Al-Qur’an dan iktikaf, juga memperbanyak ibadah sosial seperti berinfak, bersedekah, berbakti kepada orangtua, membantu meringankan beban keluarga, saudara, serta orang yang kurang/tidak mampu (duafa), juga beramal jariah untuk masjid/musala/sarana pendidikan Islam.

Dalam sebuh hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Anas (RA), dia berkata: “Adalah Rasullah SAW paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi ketika di bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemui Rasulullah SAW tiap malam lalu membacakan kepadanya Al-Qur’an. Maka, sesungguhnya Rasulullah SAW ketika Jibril menjumpainya adalah sosok yang paling pemurah dengan kebaikan melebihi angin yang bertiup,” (HR Bukhari-Muslim).

Dengan demikian, puasa merupakan grand training untuk membentuk pribadi bertakwa. Dengan bertakwa, semoga Allah SWT memberikan jalan keluar dari perbagai persoalan hidup baik secara individual maupun kolektif, serta membukakan pintu rizki dengan tiada disangka-sangka (min haitsu la yahtasib).

Marhaban ya Ramadan, semoga kita diberikan umur panjang, kesehatan, dan keberkahan sehingga berjumpa kembali dengan bulan Ramadan yang akan datang. Aamiin.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya