Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Bencana dan Teologi Lingkungan

Zuly Qodir Guru Besar Sosiologi Politik dan Agama dan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
18/2/2026 05:10

BENCANA banjir yang melanda Aceh, Sumatra Barat, dan Medan pada Januari awal 2026 kemudian disusul banjir di Purwokerto, Pemalang, Demak, Brebes, Jawa Tengah; serta Cisarua, Bogor, Jawa Barat; merupakan tanda-tanda alam untuk semua umat manusia Indonesia bahwa alam kita tidak bisa dirusak dengan sembarangan. Alam pun dapat mengamuk jika para penghuninya tidak memberikan pelayanan dan perlindungan dengan baik.

Banjir dan beberapa longsor yang terjadi dengan demikian dapat kita baca dalam perspektif teologi lingkungan sebagai bentuk kurang peka manusia sebagai pengelola lingkungan sehingga alam mengamuk. Kerusakan alam sekitarnya disebabkan tangan-tangan manusia yang tamak, rakus, dan kurang berterima kasih kepada Tuhan. Bencana alam memang tidak serta-merta dapat kita katakan sebagai kutukan Tuhan kepada manusia. Namun, bencana alam sebagai pertanda karena manusia itu rakus dan kurang berterima kasih atas karunia Tuhan kepada umat-Nya.

 

KESALEHAN SOSIAL: RAMAH LINGKUNGAN DAN MENJAGANYA

Sebagai manusia yang telah diciptakan Tuhan, kita diberi pelbagai sifat kemanusiaan yang oleh Al Ghazali, seorang ahli tasawuf dan praktisi sufisme, menyatakan manusia memiliki nafsu amarah yang cenderung merusak dan agresif, nafsu lawamah nafsu yang cenderung statis dan kurang stabil di antara kebajikan dan kejahatan (inilah sifat asli manusia), dan nafsu mutmainah (kecenderungan yang dekat dengan sifat-sifat kebajikan sebagaimana para malaikat dan rasul). Orang yang memiliki nafsu mutmainah akan cenderung berbuat baik. Sementara itu, yang memiliki nafsu amarah akan cenderung merusak orang lain.

Sifat kebinatangan dan setan mendominasi orang yang lebih kuat nafsu amarahnya. Oleh sebab itu, jika dunia kita lebih banyak dikuasai manusia-manusia yang terjangkiti oleh nafsu amarah, dapatlah dibayangkan akan segera mendesain kiamat secara perlahan-perlahan dari dalam dirinya sendiri. Mereka merupakan manusia yang secara nyata para perusak lingkungan untuk kehidupan yang lebih lama dan menenteramkan untuk semua penduduk bumi kita.

Dengan demikian, kita tidak boleh memberikan kesempatan lebih lama kepada manusia yang dikuasai nafsu amarah karena akan semakin dia berkuasa akan semakin rakuslah dia dan merusak keadaan bumi tempat dia tinggal selama ini. Kita harus segera menghentikan praktik-praktik rakus dan zalim para penghuni bumi sehingga amarah lingkungan tidak semakin menjadi sehingga kiamat semakin cepat terjadi. Kiamat yang kita rancang sendiri merupakan bentuk dari ketamakan dan angkara murka umat manusia yang penuh ambisi menguasai dan merusak lingkungan.

Kesalehan sosial karena itu tidak boleh terkalahkan oleh adanya keserakahan mereka para pemuja kekayaan dengan berbagai cara untuk menguasai lingkungan. Para pemuja kekayaan biasanya bekerja sama dengan sesama pemuja yang berada di pusat kekuasaan dan pusaran ekonomi sehingga dengan mudah mengelabui dan membuat keputusan yang dapat merugikan masyarakat luas. Di sinilah apa yang dikatakan filsuf Louis Althusser (1918-1990) sebagai sosiolog marxist bahwa kekuasaan yang dipenuhi dengan ideologi penguasaan dominative akan mendapatkan lapangan operasionalisasinya. Althuser sendiri kemudian menyatakan para pemilik kekuasaan ideologis semacam itu merupakan kekuasaan yang cenderung otoriter dan kapitalistik karena mengutamakan produksi kekayaan dengan berbagai metodenya.

Dengan memperhatikan pelbagai peristiwa bencana alam yang terus terjadi di beberapa daerah di Indonesia, baik yang berupa banjir bandang maupun longsor sehingga menewaskan banyak umat manusia dan melenyapkan sebagian harta kekayaan mereka yang tidak berdaya dan tidak bersalah, kita tidak boleh lagi memiliki perspektif bahwa bencana merupakan kutukan Tuhan terhadap umat manusia. Kita bahkan perlu memberikan perspektif lain yang lebih transformatif bahwa bencana yang terjadi karena keserakahan umat manusia yang berideologi otoriter serta kapitalistik. Kaum otoriter dan kapitalistik memang tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk bekerja sama.

Kita perlu membangun kekuatan bersama bahwa bencana itu merupakan kejadian yang membutuhkan respons banyak pihak, mereka ialah orang-orang beriman sebagai aktualisasi dari keimanan yang telah Tuhan berikan kepada kita. Tanpa kekuatan bersama dari mereka yang beriman kepada Tuhan, bencana yang selama ini terus terjadi dapat semakin besar sebab mereka yang memiliki nafsu amarah akan terus berupaya untuk menguasai seluruh sumber daya alam (alam seisinya) agar semakin menjadi milik mereka sekalipun manusia dan mahkluk lainnya mengalami penderitaan.

Kesalehan sosial terhadap alam merupakan bentuk nyata dari sifat dan praktik perilaku orang beriman terhadap alam sekitar mereka. Tanpa kesalehan sosial yang kuat dari banyak orang beriman, kita akan sulit mendapatkan kesehatan dan keselamatan lingkungan untuk jangka panjang. Kita bahkan hanya akan mendapatkan semakin banyak daftar kerusakan lingkungan karena praktik-praktik kemungkaran orang kufur nikmat atas alam sekitar mereka.

Seperti dicontohkan para nabi dan rasul bahwa mencintai alam sekitar dan menyelamatkan mahluk hidup merupakan jihad yang paling agung sebab sama dengan menyelamatkan kehidupan seluruh umat manusia seisinya. Nabi dan rasul telah mengajari kita untuk meniti kehidupan yang bersih, seimbang, teratur, serta tepat waktu dengan berbagai variasinya. Keteraturan dalam hidup dan keseimbangan sendiri merupakan sistem alamiah yang akan membuat alam sekitarnya semakin bermanfaat untuk kita semuanya.

Oleh sebab itu, tidak menciptakan lingkungan yang kumuh, tetapi sistematis, teratur, dan terkekola dengan baik dengan sendirinya dapat kita katakan sebagai bentuk menjaga ekosistem alam semesta yang kita tempati bersama. Semakin kita hidup teratur dan bersih maka kita sedang memperpanjang usia bumi kita. Namun, semakin kehidupan kita tidak teratur, tidak bersih, dan tidak dikelola dengan baik maka dengan sendirinya kita sedang menciptakan kehidupan dunia yang semakin pendek. Dengan kata lain, kiamat sedang kita rancang dengan pikiran dan perbuatan kita sendiri.

Secara teologis memang kiamat hanya Tuhan yang menggetahui kapan waktunya. Namun, secara sosiologis jika kita tidak membuat bumi seisinya ini memiliki kedekatan dengan kita karena kita tidak merawat, mengelola dengan baik, dan memanfaatkannya secara saleh, sebenarnya kita sedang mendesain kiamat yang Tuhan sendiri telah menentukan kapan waktunya. Kita tentu saja akan kesulitan jika ditanya apakah kita menggetahui kapan kiamat akan datang. Namun, kita akan dapat mengatakan kiamat sebenarnya sedang kita susun sendiri dengan kita merusak bumi seisinya karena kerakusan dan kemungkaran yang lebih kuat menguasai kehidupan kita di muka bumi. Para bandit politik dan pengejar kekayaan merupakan salah satu pihak yang paling jelas menyumbangkan kehendak kiamat yang dipercepat.

Pendek kata kesalehan sosial atas alam lingkungan sekitar kita haruslah menjadi bagian tak terpisahkan dari keimanan yang kita miliki di muka bumi. Kita harus memberikan penguatan dan pencerahan atas umat beragama yang beriman bahwa seperti telah dicontohkan para nabi dan rasul bahwa keimanan yang tidak berdampak pada orang lain hanya ibarat lilin yang membakar dirinya sendiri. Keimanan semacam itu tidaklah bermanfaat pada orang lain, dengan demikian hanya akan menjadi beban pada orang yang beriman. Keimanan yang tidak transformatif merupakan keimanan yang lebih cenderung introver; karenanya, merugikan banyak orang, bahkan dirinya sendiri.

Keimanan semacam itu, jika mengikuti sosiolog Peter L Berger (1929-2017), hanyalah keimanan yang besifat subjektif, bukan keimanan yang objektif. Keimanan yang subjektif merupakan keimanan yang tidak akan mampu menyelamatkan diri sendiri, apalagi orang lain. Keimanan yang objektif merupakan keimanan yang dapat menyelamatkan diri sendiri dan menyelamatkan orang lain alias bermanfaat untuk masyarakat luas. Keimanan semacam itu ialah keimanan yang dikatakan sebagai keimanan kesalehan sosial. Dalam perspektif keislaman keimanan semacam itu juga dikatakan sebagai keimanan yang insan kamil, keimanan manusia mendekati kesempurnaan karena bermanfaat untuk masyarakat lainnya.

 

BENCANA SEBAGAI WAHANA SOLIDARITAS SOSIAL

Bencana yang terjadi dengan demikian bukan sarana memecah belah umat, apalagi provokasi gerakan-gerakan antikeindonesiaan. Kita kadang mendengar ada sebagian kelompok masyarakat yang menyatakan bencana karena kita tidak mengikuti gerakan-gerakan yang menerapkan syariat Islam dengan sempurna; karena itu, inilah saatnya kita kembali pada syariat Islam dan negara yang menerapkan syariat, yakni negara Islam. Ajakan semacam itu tentu saja ajakan yang gegabah, apalagi sekadar menyatakan sistem politik dan ekonomi yang paling sempurna ialah sistem pemerintahan Islam dan ekonomi Islam.

Oleh sebab itu, Indonesia perlu mencoba sistem kekhilafahan yang akan menerapkan sistem pemerintahan Islam dan ekonomi Islam. Ajakan semacam itu merupakan ajakan yang dilakukan mereka yang berpikiran bahwa Indonesia belum menerapkan syariat Islam sehingga Tuhan tidak rela dengan sistem politik dan ekonominya. Padahal, Indonesia penduduknya mayoritas muslim, tetapi tidak berdasarkan syariat Islam dan menganut sistem politik Islam, yakni khilafah islamiyah. Mereka itu mengusung mimpi bahwa zaman Rasulullah ialah zaman keemasan karena sistem politik dan ekonominya adalah sistem politik dan ekonomi Islam.

Padahal, dalam Islam diketahui sistem pemerintahan dan ekonomi Islam dikenal setelah para sahabat wafat, khalifah yang empat Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali meninggalkan kita semuanya. Pada era Muawiyah dan Abbasiyah itulah terdengar pemerintahan Islam. Namun, dikonstruksikan seakan-akan zaman Rasulullah dan khalifah yang empat Islam menerapkan sistem politik dan ekonomi Islam. Kita juga ketahui yang mendirikan dan sekaligus menginiasikan sistem politik Islam dan ekonomi Islam adalah Taqiyyuddin An-Nabhani pendiri Hizbut Tahrir di Jerusalem, Tepi Barat, Yordania, dan Hasan Al-Banna (1906-1928) pendiri Ikhwanul Muslimin di Mesir. Oleh sebab itu, terdapat informasi yang disembunyikan seakan-akan pemerintahan Islam dan ekonomi Islam sudah dikonstruksikan Rasulullah Muhammad SAW dan khalifah yang empat tersebut.

Gerakan transnasional Islam dan terorisme internasional sering kali memberikan informasi yang kurang lengkap dan adil tentang konstruksi ideologis, baik dalam hal sistem ekonomi maupun sistem politik. Hal itu disebabkan tujuan membangun imajinasi bahwa sistem politik dan ekonomi Islam sudah sejak zaman kenabian dikerjakan. Padahal, sesungguhnya yang dikerjakan Rasulullah dan khalifah yang empat ialah membangun peradaban dan kebudayaan yang menghargai kesetaraan, keadilan gender, hak asasi manusia, dan peradaban adil untuk semuanya. Tidak dinamakan sebagai sistem politik dan ekonomi tertentu karena konstruksi ilmu pengetahuan memang masih berserakan.

Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa bencana ialah tanda-tanda alam dan kemungkaran alam karena kemungkaran manusia. Bukan karena sistem politik atau sistem ekonomi yang dikatakan tidak islami. Kerakusan dan kezaliman umat manusia atas alam sekitarnya, apa pun sistem politik dan ekonominya, akan menyebabkan alam dan lingkungan kita akan marah dan tidak bersahabat lagi dengan kehidupan kita semuanya. Oleh sebab itu, ramah akan alam dan bersahabat dengan lingkungan menjadi kata kunci menyelamatkan kehidupan umat manusia secara menyeluruh. Menyelamatkan alam dan lingkungan dengan demikian dapat pula dikatakan sedang menunda kiamat untuk segera datang.

 

TEOLOGI LINGKUNGAN SEBAGAI ALTERNATIF

Setelah memperhatikan banyak hal terkait dengan bencana yang melanda negeri ini secara bertubi-tubi karena banjir, longsor, dan sejenisnya, kita perlu memikirkan alternatif dalam berteologi. Teologi lingkungan agaknya dapat menjadi pilihan untuk memperlambat kiamat segera datang. Persoalannya ialah bagaimana merumuskan dan mempraktikkan teologi lingkungan di Indonesia yang lebih dominan teologi 'ketundukan dan kepasrahan absolut' model teologi Asyariyah? Kita tidak akan serta-merta menyalahkan teologi Asyariyah yang cenderung dengan segera menerima takdir Tuhan untuk umat manusia.

Kita hanya membutuhkan alternatif menyelamatkan masa depan lingkungan Indonesia dengan teologi yang lebih afirmatif terhadap keselamatan lingkungan. Nah, teologi yang dekat dengan penyelamatan lingkungan ialah teologi lingkungan. Satu perspektif teologi yang memberikan afirmasi untuk menyelamatkan bumi dan lingkungan dari kejahatan tangan-tangan rakus dan zalim atas lingkungan. Kita harus dorong agar para perusak hutan, penebangan liar, pembuang sampah sembarangan, gaya hidup tidak bersih, dan rakus akan kekuasaan ekonomi segera dihentikan tindakannya. Jika perlu dirumuskan bahwa merusak lingkungan, membuang sampah sembarangan, rakus akan sumber daya ekonomi, itu posisinya sama dengan ingkar Allah dan Rasulullah sehingga layak mendapatkan hukuman mati.

Tanpa gagasan yang kuat dan sistematis tentang menyelamatkan bumi, kita akan mendapatkan kehancuran bumi secara masif di negeri kaum beriman. Di sinilah sudah saatnya para pengkhotbah, pendeta, ustaz, ustazah, pastor, pedanda, biku, dan rabi mendorong dalam khotbah-khotbah dan penyebaran ajaran suci agama mengarah ke perspektif teologi yang afirmatif untuk menyelamatkan lingkungan sehingga bumi bersahabat dengan kita semua sebagai penghuninya.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya