Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Task Force BRIN Selidiki Material Banjir dan Longsor di Sumatra

Atalya Puspa    
19/12/2025 14:59
Task Force BRIN Selidiki Material Banjir dan Longsor di Sumatra
Evakuasi korban banjir Sumatra di Tapanuli Selatan.(Dok. Antara)

BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Task Force Supporting Penanggulangan Bencana forensik kayu untuk menyelidiki material banjir dan longsor di Sumatra. Kajian ini bertujuan mengidentifikasi jenis, asal, dan mekanisme pergerakan kayu yang terbawa arus bencana banjir dan tanah longsor sebagai dasar penilaian penyebab serta perumusan mitigasi bencana berbasis data.

Peneliti Ahli Utama BRIN bidang Forensik Kayu, sekaligus sebagai Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam dan Ketenaganukliran, Ratih Damayanti, menjelaskan bahwa selain dirinya, tim forensik kayu BRIN yang terjun ke lokasi bencana di Sumatra Utara adalah Sudarmanto, Perekayasa Muda dari Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk, Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM).

Tim juga diperkuat oleh Lutfi Hakim, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara, serta didampingi oleh Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Kementerian Kehutanan, Xylarium Bogoriense, Pusat Pembangunan Hutan Berkelanjutan Kemenhut, dan Bareskrim Polri.

Ratih menyampaikan bahwa sebelum turun ke lapangan, tim telah melakukan koordinasi dengan Bareskrim dan BPHL Medan. “Pengambilan data dilakukan di lokasi-lokasi dengan timbunan kayu yang signifikan akibat bencana, antara lain di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga, Desa Muara Sibuntuon, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, serta di Desa Tamiang, Aceh. Selain itu, tim juga menjadwalkan survei lanjutan di Pantai Parkit, Sumatra Barat," ujar Ratih, Jumat (18/12).

Dalam kegiatan lapangan, tim melakukan pengambilan sampel kayu dan tanah untuk mengetahui jenis kayu dan asalnya. Selain itu, tim membuat plot pengamatan guna melakukan analisis kuantitatif terhadap volume kayu yang terbawa bencana. “Kami menghitung berapa volume kayu yang ada, lalu memetakan persentase kayu yang berasal dari tebangan, tumbang alami (lapuk), atau tercabut akibat longsor dan banjir,” jelas Ratih.

Penentuan jenis kayu dilakukan menggunakan metode struktur anatomi kayu, yang menjadi keahlian utama tim forensik kayu BRIN dan tim dari Xylarium Bogoriense, Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan, Kementerian Kehutanan.

Untuk memperkuat hasil analisis, Ratih menyebutkan bahwa Laboratorium Genetika Hutan, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB yang juga sama-sama tergabung dalam konsorsium WoodID Indonesia, juga akan mendukung pengujian lanjutan menggunakan teknologi DNA dan DART TOFMS (Direct Analysis in Real Time–Time of Flight Mass Spectrometry). Pendekatan multidisiplin ini memungkinkan identifikasi kayu dan asalnya dilakukan dengan tingkat akurasi tinggi.

Ratih menjelaskan bahwa saat ini seluruh sampel masih dalam tahap pengumpulan dan pengolahan awal. Data kuantitatif terkait volume dan klasifikasi kayu ditargetkan selesai dalam pekan ini. Namun, untuk hasil identifikasi jenis kayu dan penelusuran asalnya secara detail, diperlukan waktu sekitar satu bulan. “Proses ini membutuhkan ketelitian karena setiap kesimpulan harus benar-benar didukung bukti ilmiah,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa forensik kayu merupakan bagian penting dalam memahami keterkaitan antara kondisi hutan, aktivitas manusia, dan dampak bencana hidrometeorologi. Analisis ini dapat memberikan gambaran apakah material kayu yang terbawa bencana lebih dominan berasal dari proses alamiah atau dari aktivitas manusia di hulu DAS.

Menurut Ratih, apa pun hasil yang diperoleh nantinya akan disampaikan secara objektif dan berbasis data. “Pendekatan forensik tidak berangkat dari asumsi, tetapi dari bukti ilmiah. Itu prinsip utama kami,” tegasnya. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi aparat penegak hukum, pemerintah daerah, dan pengelola hutan dalam menyusun langkah penanganan dan pencegahan ke depan.

Ia berharap, hasil uji forensik kayu BRIN akan berfungsi sebagai penguat analisis citra satelit yang telah digunakan dalam pemetaan bencana. "Integrasi data lapangan dan data keantariksaan ini diharapkan mampu memberikan gambaran utuh mengenai dinamika bencana di Sumatra, sekaligus menjadi dasar ilmiah yang kuat bagi kebijakan mitigasi dan rehabilitasi wilayah terdampak," pungkasnya. (H-3)
(H-3)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik