Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Ini Mediasi yang Benar Versi BRIN untuk Hentikan Agresi AS-Israel ke Iran

Cahya Mulyana
06/3/2026 22:00
Ini Mediasi yang Benar Versi BRIN untuk Hentikan Agresi AS-Israel ke Iran
ilustrasi.(X)

PENELITI Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dewi Fortuna Anwar menilai bahwa peranan mediator dalam konflik Timur Tengah (Timteng) harus melakukan negosiasi untuk menekan Amerika Serikat dan Israel berhenti melakukan agresi.

"Kalau memediasi, ya, seharusnya menekan Amerika Serikat dan Israel untuk berhenti melakukan agresi. Nah, apakah Pak Prabowo siap untuk itu?" kata Dewi Fortuna di Jakarta, Jumat (6/3).

Peneliti Pusat Riset Politik BRIN itu menjelaskan bahwa dalam menghadapi eskalasi konflik di Timur Tengah, negara-negara yang berminat menjadi mediator seharusnya berbicara dengan AS.

Hal itu karena serangan Iran ke sejumlah negara tetangganya merupakan respons atas operasi militer AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.

"Harus realistis dalam hal ini. Kalau mau memediasi, harusnya ngomong ke Amerika Serikat untuk menghentikan serangan tersebut. Bukan ngomong dengan Teheran, karena Teheran memiliki posisi yang diserang dan bertahan," katanya.

Ketegangan situasi di Timur Tengah, lanjutnya, menempatkan negara tetangga Iran dalam posisi dilematis.

Di satu sisi, serangan Iran dianggap melanggar kedaulatan mereka. Di sisi lain, Teheran mengklaim langkah itu sebagai bentuk pertahanan diri dengan menargetkan negara yang menjadi tuan rumah fasilitas militer AS.

Dengan menekankan bahwa Iran akan selalu hidup berdampingan dengan negara-negara tetangganya secara geografis, yang menjadi target sasaran, Dewi Fortuna pun menyerukan agar negosiasi dilakukan dengan AS.

Dia menilai negara-negara sekutu Washington adalah pihak yang paling tepat untuk menjadi mediator, dengan asumsi Presiden AS Donald Trump akan lebih mendengarkan pendapat dari sekutunya.

"Amerika bisa pulang, tetapi negara tetangga itu tidak bisa pindah; dan mereka berada di posisi yang sangat sulit. Jadi, kalau dalam hal ini, justru negara-negara sekutu Amerika yang paling banyak bisa berbicara dengan Amerika, negara-negara sekutu Israel. Israel sekarang memang senang, karena itu yang dituju oleh dia," ujar Dewi.

Sebelumnya, Sabtu (28/2), Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan bahwa Indonesia siap memfasilitasi dialog agar kondisi keamanan dan kondusif di Timur Tengah dapat tercipta kembali.

"Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia (Prabowo Subianto) bersedia untuk bertolak ke Tehran untuk melakukan mediasi," demikian menurut pernyataan Kemlu.

Serangan AS-Israel terhadap Iran terjadi meskipun sebelumnya telah berlangsung perundingan di Jenewa antara Washington dan Teheran, yang dimediasi oleh Oman, mengenai isu nuklir Iran.

Donald Trump menyatakan bahwa pasukannya meluncurkan operasi militer besar di Iran untuk melindungi rakyat AS dengan meniadakan ancaman, yang disebutnya berasal dari dugaan pengembangan senjata nuklir oleh Iran. (Ant/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya