Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

BRIN Kembangkan Tanggul Tegak Multifungsi untuk Atasi Abrasi dan Banjir Rob

Atalya Puspa    
18/2/2026 20:36
BRIN Kembangkan Tanggul Tegak Multifungsi untuk Atasi Abrasi dan Banjir Rob
Sejumlah kendaraan roda dua melintasi banjir rob yang menggenangi Jalan RE Martadinata, Tanjung Priok, Jakarta Utara.(Dok. MI/Usman Iskandar)

WILAYAH pesisir Indonesia menghadapi tekanan yang semakin kompleks, mulai dari abrasi, banjir rob, kenaikan muka air laut, hingga keterbatasan ruang akibat pesatnya pembangunan kawasan pantai.

Selama ini, solusi yang umum diterapkan adalah pembangunan tanggul laut tipe urugan (earth-fill dam) yang mengandalkan timbunan pasir dan batu dalam volume besar. Meski terbukti andal dan telah digunakan di berbagai negara, tipe tanggul ini memiliki kendala signifikan, terutama dalam hal kebutuhan lahan dan dampak lingkungan.

Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan desain Tanggul Tegak Multifungsi (TTMF), sebuah inovasi struktur tanggul laut berbasis blok modular beton yang dirancang lebih ramping, hemat material, serta memiliki fungsi tambahan di luar peran utamanya sebagai pelindung pantai. Riset ini digarap oleh Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN sejak 2022 dan terus dikembangkan hingga kini. 

Perekayasa Ahli Madya BRIN, Dinar Catur Istiyanto, menjelaskan pengembangan TTMF berangkat dari kebutuhan akan alternatif desain tanggul yang tetap memenuhi standar keselamatan struktur tanpa menimbulkan tekanan berlebihan terhadap lingkungan.

“Struktur tanggul urugan itu membutuhkan pasir dan batuan dalam jumlah sangat besar. Sumber materialnya mau tidak mau diambil dari gunung atau laut, dan ini tentu berdampak pada lingkungan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (18/2). 

Berbeda dengan tanggul konvensional yang melebar hingga ratusan meter ke arah laut, TTMF dirancang dengan konfigurasi tegak (vertical seawall) berbahan beton bertulang. Struktur ini menggunakan sistem blok modular (caisson) yang disusun seperti kepingan lego, sehingga lebih fleksibel dalam perencanaan dan pelaksanaan konstruksi.

Pendekatan modular dipilih agar sesuai dengan kemampuan alat berat yang tersedia di dalam negeri. Blok beton diproduksi di darat dengan berat yang disesuaikan kapasitas crane nasional, sekitar 60 ton per blok, lalu disusun di lokasi proyek sehingga proses konstruksi dapat berlangsung lebih cepat.

Keunggulan utama desain ini adalah efisiensi ruang. Lebar tanggul dapat disesuaikan dengan kebutuhan fungsi di atasnya, misalnya hanya 10–20 meter jika dirancang sebagai pendukung jalan raya. Hal ini membuat TTMF relevan diterapkan di kawasan pesisir dengan keterbatasan lahan, seperti pantai utara Jawa.

TTMF tidak hanya berperan sebagai pelindung pantai dari serangan gelombang dan tanggul waduk kedap air, tetapi juga dirancang untuk mengemban fungsi tambahan melalui integrasi sistem penangkap energi gelombang laut tipe Oscillating Water Column (OWC).

Dalam sistem OWC, gelombang laut diarahkan masuk ke dalam rongga khusus di bagian struktur tanggul. Pergerakan naik-turun air akibat gelombang akan menekan dan menghisap udara yang kemudian dimanfaatkan untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik.

“Prinsipnya, energi gelombang yang selama ini hanya diredam, kini bisa ditangkap dan dikonversi menjadi energi listrik,” kata Dinar.

BRIN masih mengkaji berbagai variasi desain OWC agar sesuai dengan karakter gelombang di perairan Indonesia, khususnya Pantura Jawa yang memiliki tinggi gelombang relatif rendah. Meski demikian, generasi awal desain TTMF dengan sistem penangkap energi gelombang rendah telah terdaftar sebagai paten di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum pada 2025.

Selain itu, bagian atas tanggul dirancang cukup kuat untuk menopang infrastruktur jalan raya, sehingga satu struktur dapat menggabungkan fungsi perlindungan pantai, pengendalian banjir, transportasi, dan energi terbarukan sekaligus.

Dari sisi material, TTMF dirancang menggunakan beton bertulang yang mengacu pada standar SNI untuk bangunan bendungan, bangunan air, serta bangunan pantai dan pelabuhan. Sejalan dengan agenda net zero carbon emission, BRIN juga mengembangkan riset material alternatif dengan memanfaatkan limbah industri, seperti slag besi, slag nikel, dan fly ash batubara.

Pemanfaatan limbah ini berpotensi menjadi bahan pengganti pasir atau sebagian semen, sehingga dampak lingkungan dapat ditekan sekaligus mengurangi penumpukan limbah industri. Dengan pendekatan tersebut, TTMF diproyeksikan memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di atas 70 persen, baik dari sisi material maupun teknologi, sehingga berpotensi memperkuat industri konstruksi nasional.

Meski memiliki banyak keunggulan, TTMF tidak lepas dari tantangan teknis, terutama terkait kondisi tanah fondasi. Berdasarkan hasil analisis model matematik BRIN, struktur ini memerlukan daya dukung tanah minimum dengan nilai NSPT sekitar 15. Jika kondisi tanah lebih lunak, seperti di banyak wilayah Pantura, maka diperlukan upaya perbaikan tanah sebelum pembangunan.

Ke depan, BRIN berharap riset TTMF dapat terhubung lebih erat dengan proyek-proyek strategis nasional melalui pembangunan demonstration plot di kondisi nyata, sehingga inovasi ini dapat terhilirisasi menjadi solusi konkret bagi perlindungan pesisir Indonesia di tengah ancaman perubahan iklim. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya