Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Waspada, Empat Wilayah Pesisir NTT Berpotensi Terdampak Banjir Rob

Palce Amalo
16/2/2026 21:26
Waspada, Empat Wilayah Pesisir NTT Berpotensi Terdampak Banjir Rob
Foto udara pompa air tenaga surya (PATS) di Sayung, Demak, Jawa Tengah, Jumat (2/1/2026).(Antara)

BADAN Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang mengeluarkan peringatan dini potensi banjir pesisir (rob). Peringatan dini tersebut berlaku pada 17 hingga 20 Februari 2026 di sejumlah wilayah pesisir Nusa Tenggara Timur (NTT).

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang, Nur Ida Hasana, menjelaskan potensi rob dipicu oleh fenomena fase Bulan Baru yang terjadi pada 17 Februari 2026, yang berpengaruh terhadap peningkatan ketinggian air laut maksimum.

“Fase Bulan Baru berpotensi meningkatkan pasang maksimum air laut. Berdasarkan hasil pantauan dan prediksi pasang surut, serta mempertimbangkan kecepatan angin, tinggi gelombang, dan potensi hujan sedang hingga lebat, terdapat potensi banjir pesisir di sejumlah wilayah NTT,” jelas Nur Ida Hasana.

Emapat wilayah yang berpotensi terdampak meliputi pesisir Pulau Flores-Alor, pesisir Pulau Sumba, pesisir Pulau Sabu-Raijua, dan pesisir Pulau Timor-Rote.

Menurutnya, banjir rob merupakan peristiwa naiknya permukaan air laut ke daratan pesisir akibat pasang laut maksimum, yang dapat diperparah oleh faktor cuaca lainnya seperti angin kencang dan gelombang tinggi.

“Dampaknya bisa mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan dan pesisir, seperti kegiatan bongkar muat, aktivitas di permukiman pesisir, serta kegiatan tambak garam dan perikanan darat,” ujarnya.

BMKG mengimbau masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di wilayah pesisir untuk tetap waspada dan siaga selama periode tersebut. Masyarakat juga diminta untuk terus memantau informasi terbaru terkait cuaca maritim melalui kanal resmi BMKG.

Sementara itu, pusat tekanan rendah di utara Australia (Broome) menyebabkan terbentuknya daerah pertemuan angin di atas wilayah NTT. 

Kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan konvektif dan memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang.

Adapun pola angin di wilayah NTT umumnya bergerak dari Barat hingga Barat Laut dengan kecepatan berkisar 10-40 knot. Kecepatan angin tertinggi terpantau di sejumlah perairan seperti Selat Sape, Perairan Flores, Selat Pantar, Selat Alor, Selat Sumba, Laut Sawu, Selat Ombai, hingga perairan selatan Timor-Rote. (PO/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik