Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Pendekatan Berbasis Komunitas Mulai Pulihkan Lingkungan Pesisir Muara Gembong

Despian Nurhidayat
10/2/2026 18:14
Pendekatan Berbasis Komunitas Mulai Pulihkan Lingkungan Pesisir Muara Gembong
Hutan mangrove di kawasan pesisir Muara Gembong.(Fujitsu)

Upaya pemulihan lingkungan pesisir di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mulai menunjukkan hasil konkret. Di kawasan yang selama bertahun-tahun bergulat dengan persoalan abrasi pantai dan penumpukan sampah, pendekatan berbasis komunitas kini dipandang sebagai strategi paling relevan untuk menjawab tantangan lingkungan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat pesisir.

Melalui kolaborasi dengan Greeneration Foundation, EcoRanger, serta komunitas lokal Saung Mekar Bersih, Fujitsu menjalankan rangkaian program lingkungan sepanjang 2025. Inisiatif ini dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan sesaat, melainkan sebagai fondasi penguatan kapasitas warga agar pengelolaan lingkungan dapat berlanjut secara mandiri dan berkelanjutan.

Sepanjang tahun, berbagai aksi bersih pantai dan lingkungan melibatkan lebih dari 1.500 peserta yang terdiri atas warga setempat, pelajar, mahasiswa, hingga relawan. Dari rangkaian kegiatan tersebut, lebih dari 1,3 ton sampah berhasil dikumpulkan dan dikelola. Selain menekan pencemaran, aktivitas ini turut menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.

Aspek edukasi menjadi bagian penting dari program melalui inisiatif EcoRanger Goes to School. Program ini menjangkau lebih dari 300 siswa dan guru di tingkat SD, SMP, hingga SMA. Melalui pendekatan interaktif dan praktik langsung, peserta dibekali pemahaman tentang pengelolaan sampah dan isu lingkungan, dengan hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan setelah mengikuti kegiatan.

Di level komunitas, Fujitsu juga mendorong penguatan Saung Mekar Bersih melalui pelatihan pengelolaan sampah, manajemen proyek, serta peningkatan fasilitas BSF Center. Fasilitas ini dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos, maggot, dan eco-enzyme. Inisiatif tersebut tidak hanya memperkuat peran aktif warga, tetapi juga membuka peluang berkembangnya layanan pengelolaan sampah berbasis komunitas yang berkelanjutan.

Sebagai wilayah pesisir yang rentan terhadap abrasi, rehabilitasi ekosistem turut dilakukan melalui penanaman mangrove. Selama 2025, lebih dari 2.000 bibit mangrove ditanam di area sekitar 3.000 meter persegi. Upaya ini diperkirakan mampu menyerap lebih dari 35 ton karbon per tahun, sekaligus memperkuat perlindungan garis pantai dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan peran mangrove dalam mitigasi perubahan iklim.

Senior HR Executive Fujitsu Indonesia, Febi, menegaskan bahwa keberlanjutan menjadi tujuan utama dari rangkaian program tersebut.

“Walaupun program ini bersifat sementara, kami berharap fondasi yang telah dibangun selama satu tahun terakhir, baik melalui fasilitas yang didukung Fujitsu maupun transfer pengetahuan kepada masyarakat, dapat terus berjalan secara mandiri. Ke depan, kami berharap inisiatif ini tetap mendukung program-program pemberdayaan masyarakat yang mampu menjaga lingkungan secara menyeluruh dan berkelanjutan,” ujar Febi.

Melalui kolaborasi lintas komunitas, sekolah, dan pemangku kepentingan lokal, inisiatif Fujitsu di Muara Gembong tidak hanya menghadirkan aksi lingkungan, tetapi juga membangun keterlibatan jangka panjang. Pendekatan berbasis komunitas ini diharapkan dapat menjadi model pemulihan lingkungan pesisir yang sekaligus memperkuat ketahanan sosial dan kesejahteraan masyarakat di tengah tantangan lingkungan yang terus berkembang. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya