Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Penyintas Banjir di Pedalaman Aceh Jalani Ramadan dengan Penuh Kepiluan

Amiruddin Abdullah Reubee
21/2/2026 08:04
Penyintas Banjir di Pedalaman Aceh Jalani Ramadan dengan Penuh Kepiluan
Lokasi banjir di kawasan pedalaman Provinsi Aceh.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

HINGGA hari ke-3 Ramadan, ratusan ribu penyintas banjir Sumatra masih menjalan hari-hari di atas lumpus dan di balik tumpukan kayu gelondongan yang terbawa air bah kala itu. Kenyamanan tanpa dihantui keresahan dan trauma banjir ternyata masih isapan jempol belaka. 

Sesuai penelusuran Media Indonesia, Jumat (20/2) di Desa Kute Reje, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, misalnya dari 87 keluarga di lokasi setempat, hanya 4 unit rumah yang tersisa. Sedangkan 83 lainnya habis tersapu banjir. 

Janji pemerintah yang mengatakan sebelum Ramadan seluruh penyintas banjir sudah menempati huntara masih belum terealisasi. Hingga hari ke-3 puasa puluhan ribu korban masih harus bertahan di bawah tenda pengungsian. Lebih parah lagi para korban banjir di Desa Kute Reje kini harus menumpang ke lokasi lain yaitu Desa Delung Sekinul. 

Pasalnya tempat asal mereka Desa Kute Reje, telah hancur total tegerus banjir dan tidak bisa ditempati lagi. Semua lokasi perumahan hancur dan lahan sawah tertimbun kayu gelondongan penuh lumpur. 

Ingin pulang ke desa mereka, namun tidak ada lagi rumah. Bertahan di pengungsian diserang nyamuk dan kedinginan di bawah layar terpal yang mereka bagun sendiri. Kondisi memilukan itu benar-benar menghantui korban terdampak banjir Kecamatan Lunge kawasa terpencil di Aceh Tengah tersebut. 

"Sedih kali lihatnya waktu ke sana," kata Dosen UIN Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe Rahmy Zulmaulida yang juga aktivis relawan di Aceh Tengah, kepada Media Indonesia, Jumat (20/2). 

Dikatakan Rahmy, jalur darat sebagai satu-satunya akses pasukan juga terganggu. Perjalanan dari Kota Takengon, Ibu Kota Kabupaten Aceh Tengah, ditempuh sekitar 80 km dengan jalur ekstrem karena terjal dan berlumpur saat hujan. 

Lalu jembatan darurat penyeberangan sungai di kawasan Desa Kala Ili juga rusak dan terbawa arus sungai deras. Hanya motor trail atau sepeda motor yang didesain khusus yang bisa melintas untuk mengangkut barang makanan. 

Kemudian mobil amphibi atau mobil bertenaga mesin 4x4 yang bisa tembus. Itupun ketika cuaca tidak hujan atau ketika arus sungai mereda. 

Huntara hanya Janji Belaka

Kondisi paling menyedihkan juga di Desa Seumur, Kecamatan Sekerak, sebuah kawasan pedalaman Kabupaten Aceh Tamiang. Sedikitnya 1.200 warga penyintas banjir setempat juga masih terpaksa tidur di tenda pengungsian darurat. 

Rumah hunian sementara (huntara) yang dijanjikan kepada mereka belum diketahui dimana rimbanya. Msyarakat hanya membangun tempat berteduh sekeluarganya.

Gubuk-gubuk kecil yang mirip kandang ternah itu hanya bisa di bekas bangunan rumah asal yang hanyut terbawa air. Untuk bahan bangunan itu mereka memakai seng, kayu dan papan bekas tersisa banjir. 

Sedikitnya 260 keluarga Desa Seumur harus menjalani ibadah Ramadan di atas lumpur tebal dan celah tumpukan kayu gelondongan. Satu-satunya bangunan yang tersisa adalah masjid sebagai tempat ibadah salat berjemaah 5 waktu dan salat tarawih.

Krisis Air dan Bahan Pangan

Sayangnya di tengah beribadah puasa masih krisis air bersih dan bahan makanan. Tidak ada pasokan kebutuhan pokok sebagaimana diklaim pemerintah. 

Belum lagi persoalan kelangkaan gas elpiji 3 kg, harus memasak nasi dengan ranting kayu terbawa banjir, membuat diapus diatas tanah lumpur hingga krisis bahan pokok. 

Bahkan warga korban air bah itu lebih mengharapkan kepedulian para relawan atau donatur pribadi yang masih kerap menyambangi kawasan itu. Mereka sangat kecewa dan seperti hidup pasrah di tengah jemputan krisis kemanusiaan itu. 

Budayawan dari Universitas Syiah Kuala, Aceh, M Adli Abdullah, kepada Media Indonesia mengaku mengucurkan air mata saat menelusuri lokasi-lokasi banjir Aceh. Ketika dosen senior USK itu turun membantu para korban tampak pemandangan menyayat hati. 

Misalnya di kawasan Kecamatan Meurah Dua dan Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Anak yang sebelumnya rajin dan cerdas di sekolahnya, sekarang ramai-ramai mendekati mobil siapa saja yang mengunjungi ke kampung mereka. 

"Bahkan mereka jadi pengemis dan meminta-minta, ada bawaan apa dari pengunjung yang bisa dimakan atau digunakan untuk kebutuhan harian. Sungguh menyedihkan kondisinya. Kelalaian kita yang berbuat dosa dan membiarkan mereka terus begitu berarti akan menuai kehancuran masa depan sebuah negeri yang sebelnya sejahtera dan makmur," tutur Adli Abdullah.

Menurut budayawan yang sangat memahami karakter warga Serambi Mekkah itu, sedikitnya ada dua ancaman bersar akan menyelimuti masa depan di Aceh. Pertama, kebutuhan akibat hancurnya dunia pendidikan, kemudian ancaman kemiskinan disebabkan rusak sendi dan struktur perekonomian yang ada. (MR/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya