Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
MASA depan pendidikan di kawasan terdampak banjir Sumatra masih abu-abu. Pasalnya sudah hampir tiga bulan usai bencana banjir dan tanah longsor terjadi di Sumatra, sekolah-sekolah di lokasi itu masih harus belajar berlantai terpal plastik di tenda darurat.
Penelusuran Media Indonesia, Selasa (10/2), kondisi sangat menyayat hati ini misalnya terjadi di SD Negeri 11 Linge di Desa Pantan Nangka, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh.
Akibat cuaca terik yang menyengat di dalam tenda itu, para murid belajar di tenda di depan masjid setempat hingga sekarang hanya sanggup belajar 2-3 jam/hari.
Saat terik matahari suasana sangat panas sehingga murid dan guru berkeringat serta rentan dehidrasi.
Namun, di kala turun hujan air mudah masuk ke dalam dan tergenang di halaman luar. Cuaca tidak bersahabat itu membuat mereka risih sehingga suasana belajar tidak fokus dan terganggu kenyamanan.
"Masuk sekolah sekitar pukul 08.00 WIB dan pulang pukul 10-11 WIB. Kalau berlama-lama jadi tidak konsentrasi lagi karena panas. Itu karena jendela tenda sangat kecil, tentu harus membuka dinding supaya mudah keluar masuk angin," tutur Kepala SDN 11 Linge, Zupariah.
Kekhawatiran itu juga disampaikan Muhammad Aditya Ibnu Salim dari Relawan Mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta. Karena gedung SDN 11 Linge itu rusak parah tertutup lumpur sekitar 3 meter saat banjir 24-27 November 2025 lalu, aktivitas belajar terpaksa diungsikan ke tenda darurat.
Dari 92 siswa kelas I hingga kelas VI sekolah pedalaman terpencil yang terhempas banjir itu, hanya ada dua unit tenda untuk ruangan belajar darurat. Itupun pemisahan antarkelas hanya dengan cara duduk lesehan berkelompok.
Tidak ada dinding pemisah antarkelas. Untuk tempat menulis hanya ada bantuan meja mini dari pihak ketiga. Lalu banyak murid menulis langsung dengan tengkurap di lantai plastik terpal.
"Yang namanya belajar satu ruangan untuk semua jenjang kelas, tentu ribut dan tidak fokus. Kalau yang kelas ini sedang belajar berhitung, kadang kelompok lain lagi latihan bernyanyi. Suasana jadi kacau balau," kata Mahasiswa semester VI Fisipol UGM yang bergabung dengan Relawan Sekolah Sukma Bangsa Pidie itu.
Sayangnya, menurut Muhammad Haditya, para siswa SD di Pantan Nangka itu hanya bisa belajar sekadar untuk mengisi waktu sekolah. Selain waktu belajarnya sangat singkat, lebih parah lagi tidak ada buku paket mata pelajaran. Mereka biasanya hanya belajar Matematika atau latihan berhitung, belajar Bahasa Indonesia, dan kesenian atau belajar menyanyi. Itupun apa yang diberikan guru dan tergantung suasana.
"Saya lihat perlu membangkitkan kembali semangat mereka dari trauma banjir supaya melupakan bencana dan memancing keceriaan sesuai usianya. Semangat belajar mudah tumbuh kembali saat suasana ceria. Tapi ada juga yang terharu samapai meneteskan air mata kalau menceritakan nasib sekeluarga dan kerusakan rumah mereka" tutur Mahasiswa UGM asal Purwokerto itu.
Muhammah Haditya bersama 10 teman relawan mahasiswa UGM lainnya berharap pemerintah perlu segera membangun kembali kedung sekolah dan fasilitas pendidikan lainnya di Kecamatan Linge dan kawasan banjir lainnya.
Tidak mungkin mereka berlama-lama dunia pendidikan anak itu tergerus dan hilang bersama banjir.
"Sebulan bersama anak polos itu kami cukup terkesan dan mereka pun seperti kehadiran keluarga dari jauh. Namun, kami belum puas melihat kondisi dunia belajar anak itu yang tercabik-cabik. Mereka pun sangat berat melepaskan perpisahan kala itu," tambah Mahasiswa yang bergabung dengan Relawan Pendidikan Sekolah Sukma Bangsa Pidie Itu. (MR/E-4)
Berdasarkan laporan terbaru yang diterima pada Minggu (1/3), jumlah pengungsi tersebut berasal dari 921 kepala keluarga dan tersebar di dua dari 20 kabupaten/kota terdampak.
DI tengah sawah yang sempat tertimbun lumpur setinggi lutut akibat bencana hidrometeorologi, secercah harapan mulai tumbuh.
AEON menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI sebagai bagian dari upaya mendukung proses pemulihan di Sumatra.
Sekolah tersebut sebelumnya terdampak bencana banjir bandang pada Desember lalu.
Selama lebih dari tiga bulan, untuk sekadar membeli beras, obat-obatan, atau kebutuhan pokok lainnya, warga harus menantang derasnya arus dan licinnya bebatuan sungai.
BENCANA longsor melanda Desa Sibio-bio, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, pada 25 November 2025 sekitar pukul 11.00 WIB.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved