Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Dua Jembatan Rusak akibat bencana Sumatra, Warga Desa Sibio-bio Bertarung Nyawa Setiap Hari

Januari Hutabarat
20/2/2026 16:04
Dua Jembatan Rusak akibat bencana Sumatra, Warga Desa Sibio-bio Bertarung Nyawa Setiap Hari
Warga menyeberangi Sungai Aek Sibio-bio dengan berjalan kaki di tengah derasnya arus akibat putusnya jembatan pascabanjir dan longsor 25 November 2025 di Desa Sibio-bio, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah.(MI/Januari Hutabarat.)

DESA Sibio-bio di Kecamatan Sibabangun, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, masih terisolasi setelah banjir dan longsor 25 November 2025 merusak dua jembatan penghubung. Sekitar 200 kepala keluarga itu hidup tanpa akses jalan yang layak.

Derasnya arus kala itu bukan hanya menghanyutkan harapan warga, tetapi juga merobohkan satu jembatan gantung dan satu jembatan permanen satu-satunya penghubung keluar masuk desa. Sejak saat itu, kehidupan warga berubah drastis.

Selama lebih dari tiga bulan, untuk sekadar membeli beras, obat-obatan, atau kebutuhan pokok lainnya, warga harus menyeberangi Sungai Aek Sibio-bio dengan berjalan kaki, menantang derasnya arus dan licinnya bebatuan sungai.

Saat musim hujan tiba, ketakutan menjadi teman setia. Debit air yang meningkat membuat setiap langkah terasa seperti mempertaruhkan nyawa.

Meiyaman Zebua, 55, warga setempat, mengaku kelelahan menghadapi kondisi yang tak kunjung berubah.

“Kami harus bertarung dengan risiko yang sangat tinggi hanya untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya dengan nada pasrah.

Setiap hari Senin, warga berbondong-bondong keluar desa menuju perkampungan di seberang sungai untuk berbelanja kebutuhan pokok. Barang yang dibawa harus cukup untuk persediaan selama sepekan, karena perjalanan tidak mudah untuk dilakukan setiap hari.

Tak sedikit warga memilih menahan kebutuhan karena takut menyeberang saat air sungai meninggi. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan dalam situasi ini.

Keterisolasian yang berkepanjangan tidak hanya memutus akses transportasi, tetapi juga perlahan memutus denyut ekonomi warga.

Aktivitas jual beli tersendat, mobilitas terbatas, dan rasa cemas terus menghantui kehidupan sehari-hari.

Warga berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan penghubung, sebelum keterisolasian ini berubah menjadi tragedi baru. (JH/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya