Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Bangkit dari Bencana, Rp12,5 Miliar Digelontorkan untuk Pulihkan Sawah Padang Pariaman

Yose Hendra
26/2/2026 23:05
Bangkit dari Bencana, Rp12,5 Miliar Digelontorkan untuk Pulihkan Sawah Padang Pariaman
Foto udara terlihat hamparan sawah yang rusak tertimbun lumpur banjir pada 24-27 November 2025, di Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

DI tengah sawah yang sempat tertimbun lumpur setinggi lutut akibat bencana hidrometeorologi, secercah harapan mulai tumbuh. Melalui lobi intensif ke Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman berhasil mengamankan anggaran Rp12,5 miliar untuk memulihkan lahan pertanian yang terdampak.

Dana tersebut dikucurkan melalui skema tugas pembantuan pada Satker XIII Provinsi Sumatera Barat. Fokusnya jelas: pemulihan pascabencana. Enam program digulirkan sekaligus, mulai dari perbaikan infrastruktur optimalisasi lahan sawah non-rawan bencana, rehabilitasi lahan terdampak, pembangunan dam parit, irigasi perpipaan, irigasi perpompaan, hingga perbaikan jaringan irigasi tersier.

Program ini menyasar kelompok tani di 17 kecamatan, baik kategori fokus bencana maupun reguler, sesuai petunjuk teknis (Juknis) Kementerian Pertanian.

Salah satu program prioritas adalah Optimasi Lahan Sawah Terdampak Bencana (Oplah Bencana). Saat ini, 18 kelompok tani di sembilan kecamatan telah ditetapkan sebagai penerima, dengan total luasan 446 hektare. Lahan-lahan tersebut sebelumnya tertimbun sedimentasi banjir setinggi 10–30 sentimeter dan mengalami kerusakan pada jaringan irigasi tersier.

Dalam tahap ini, dua langkah utama dilakukan: pengerukan sedimentasi di lahan sawah dan saluran irigasi tersier, serta perbaikan jaringan irigasi tersier yang rusak. Fokus pada irigasi tersier bukan tanpa alasan, jaringan inilah yang menjadi kewenangan Kementerian Pertanian dalam program pemulihan lahan pertanian.

Tak hanya itu, program rehabilitasi lahan juga disiapkan untuk sawah dengan tingkat kerusakan sedang hingga berat, ditandai sedimentasi lebih dari 30 sentimeter hingga 100 sentimeter, dengan luasan minimal terdampak lima hektare sesuai Juknis. Tahap penetapan telah dilakukan terhadap 17 kelompok tani dengan total lahan 198 hektare.

Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman Hendri Satria, menyebut dukungan anggaran ini sebagai “angin segar” di tengah keterbatasan fiskal.

“Upaya Bupati yang terus mencari peluang di tengah efisiensi menjadi pelecut bagi kami di dinas teknis untuk menyambutnya dengan komitmen yang sama,” ujarnya, Kamis (26/2).

Program optimasi lahan dijadwalkan mulai dikerjakan awal Maret. Sementara rehabilitasi lahan akan dimulai usai Hari Raya Idulfitri. Setelah Lebaran, kegiatan pendukung lain seperti pembangunan irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, jaringan irigasi tersier, dan dam parit juga akan digenjot untuk memastikan pasokan air kembali stabil.

Harapannya, lahan yang sempat mati suri bisa kembali produktif. Jika pada tahap awal belum sepenuhnya bisa difungsikan sebagai sawah, petani tetap didorong memanfaatkannya untuk komoditas alternatif seperti jagung, agar roda ekonomi desa tetap berputar.

Langkah ini menjadi penegas komitmen Bupati John Kenedy Azis dalam memperjuangkan kepentingan petani. Di tengah lumpur dan kerusakan, Padang Pariaman memilih bangkit, menjadikan sawah bukan sekadar hamparan tanah, tetapi simbol daya tahan dan harapan baru pascabencana. (YH/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya