Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Kota Padang mulai menggerakkan pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak bencana. Namun hingga kini, jumlah rumah yang akan dibangun masih belum mencukupi kebutuhan riil di lapangan.
Wali Kota Padang Fadly Amran menegaskan fokus utama pemerintah daerah saat ini adalah tahap pemulihan atau recovery pascabencana, terutama pemenuhan hunian layak bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Dalam waktu dekat, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman dijadwalkan akan berkunjung ke Kota Padang untuk melakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama pembangunan huntap tersebut.
“Kita akan memulai pembangunan 250 unit rumah bagi masyarakat terdampak bencana,” ujar Fadly Amran, Senin (29/12).
Namun, ia mengakui jumlah tersebut masih di bawah kebutuhan ideal, yakni sekitar 350 unit hunian tetap. Artinya, masih terdapat kekurangan sekitar 100 unit rumah yang belum terakomodasi dalam skema pembangunan saat ini.
“Kebutuhan kita sebenarnya 350 rumah. Karena itu, kami membuka ruang seluas-luasnya bagi perantau dan masyarakat yang ingin ikut berkontribusi membantu pembangunan,” katanya.
Untuk mempercepat realisasi, Pemerintah Kota Padang menyatakan kesiapan dalam penyediaan lahan. Total lahan yang disiapkan mencapai 3,5 hektare, tersebar di tiga lokasi di Kecamatan Koto Tangah, yakni Bumi Perkemahan Air Dingin, Balai Gadang; kawasan Desaku Menanti di Air Dingin, Balai Gadang; serta lahan di belakang Kantor Camat Koto Tangah.
Sementara menunggu pembangunan hunian tetap rampung, sebagian warga terdampak bencana saat ini masih tinggal di hunian sementara (huntara), termasuk di Rumah Khusus, Kecamatan Koto Tangah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski pembangunan huntap segera dimulai, tantangan pemenuhan kebutuhan hunian pascabencana di Kota Padang masih belum sepenuhnya teratasi, dan membutuhkan dukungan lebih luas dari berbagai pihak. (YH/E-4)
BANJIR dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir 2025 meninggalkan dampak berkepanjangan bagi masyarakat setempat.
Gerakan ini merupakan sinergi lintas sektor yang melibatkan musisi lintas generasi, komunitas, serta dukungan penuh dari pemerintah dan sektor swasta.
Adapun temanya adalah Integrasi Pendekatan One Health dalam Pemulihan Sosial, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat Rentan Pascabencana Banjir di Aceh.
DUA bulan pascabencana hidrometeorologi yang terjadi pada 27 November 2025, sebanyak 40 warga di Sumatra Utara masih dinyatakan hilang.
LAILATUL BARA'AH atau yang akrab disebut Malam Nisfu Syakban di Provinsi Aceh dirayakan dengan penuh khidmat.
BNPB juga menyalurkan bantuan dana tunggu hunian bagi warga yang memilih tinggal sementara di rumah keluarga atau sanak saudara. Bantuan tersebut sebesar Rp600 ribu per bulan.
BADAN Rescue Nasional Demokrasi (NasDem) Sumatera Barat menargetkan pembentukan pengurus Badan Rescue NasDem Daerah (BRND) tingkat kota, kabupaten dan kecamatan yang ada di Sumbar.
BANJIR lumpur dan galodo yang kembali melanda sejumlah kawasan di Kota Padang, Sumatra Barat, tidak mengalihkan perhatian warga pesisir dari ancaman bencana lain yang tak kalah berbahaya.
PEMERINTAH pusat, Pemerintah Provinsi Sumatra Barat, dan Pemerintah Kota Padang Panjang terus memperkuat kolaborasi dalam mempercepat pemulihan pascabencana.
WAKIL Bupati Agam Muhammad Iqbal menegaskan pentingnya percepatan persiapan lahan agar pembangunan huntara dapat segera direalisasikan.
Kemenhut melalui UPT Koordinator Wilayah Aceh terus melakukan percepatan penanganan dampak bencana banjir berupa pembersihan tumpukan kayu dan material
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved